Sabtu, 19 Desember 2009

Jejak 28

Waktu yang kami miliki di Betlehem ini cukup panjang, karena jiarah di tempat ini adalah acara terkahir hari ini. Saya perhatikan tidak banyak jumlahnya orang yang berjiarah di tempat ini. Setelah kami melihat-lihat Gereja besar yang kosong, karena tidak ada kursi, kami lalu menuju ke tempat suci di Betlehem. Masuk ke dalam kadang gua inilah yang akan kami lakukan. Namun ternyata kami harus menunggu antrian panjang. Ternyata dugaan saya salah. Di tempat ini kami akan mengadakan ekaristi. Maka ketika melihat antrian panjang itu, suster menyeret saya untuk ambil jalan pintas dengan menerobos mereka yang sedang antri dan langsung menuju ke Gereja yang akan digunakan untuk perayaan ekaristi. Dengan menerobos begitu banyak orang akhirnya saya sampai ke tempat di mana Jesus pernah dibaringkan di palungan. Saya tidak sadar betul waktu itu. Dan saya tidak tahu di mana saya berada. Yang saya tahu bahwa tempat itu ada dibagian agak bawah, banyak hiasan kuno dan berbahu wangi. Saya baru sadar dan mengetahui bahwa itu palungan tempat Jesus dibaringkan ketika saya mendengar suster berteriak" Father, please kiss that Star of David, you will be blessed". Langsung saya berlutut dan mencium "Star of David', yang juga disebut 'the silver star'.

Berkali-kali saya melihat gambar 'the silver star' ini sebelum saya pergi ke sini. Dan sekarang ini saya berada di sini bahkan diperkenankan menciumnya. Saya tidak bisa mengepresikan perasaan saya waktu itu, yang jelas ada perasaan damai di hati yang luar biasa. Antara haru dan kagum, syukur dan terima kasih, antara percaya dan tidak percaya bahwa kaki saya berada di tempat di mana dulu menjadi tempat kambing, domba dan sapi berbaring. Namun menjadi suci karena kelahiran bayi miskin di palungannya. Sebenarnya saya ingin beromantis ria dengan suasana natal di tempat ini. Tetapi hal itu tidak memungkinkan saya lakukan, karena saya dikejar waktu untuk bersiap diri merayakan ekaristi.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Betlehem tidak dikelola khusus oleh Gereja Katolik. Beberapa Gereja dominasi mempunyai Gerejanya di sini. Demikian pula dengan Gereja katolik, mereka mempunyai satu gereja indah disamping 'groto the silver star'. Gereja itu cukup besar dan megah. Saya pikir di tempat ini saya akan merayakan ekaristi. Tetapi ternyata tidak, rombongan kami di bawa masuk ke lorong sempit dan menuju ke suatu kapel kecil yang sempit dan pengap. Cat temboknya pun sudah mulai luntur dan keropos. Kursinya sangat sederhana, malah sudah agak kuno. Spontan ada perasaa kecewa di hati, mengapa kok kita diberi tempat yang seperti ini, gerutu hati kecil saya. Kapelsempit itu diberi namanya St. Helena. Masih menggunakan gaya pra Vatikan II, dengan altar membelakangi umat. Di kapel yang sederhana ini kami akan merayakan ekaristi. Sebelum kami mulai perayaan ekaristi sore hari, suster mengajak umat untuk mempersiapkan diri. Terutama mempersiapkan lagu-lagu yang akan mengiringi perayaan ekaristi. Aneh..tetapi nyata, walaupun pada masa itu masa biasa setelah Paska, namun lagu-lagu yang kami gunakan adalah lagu-lagu natal. Terasa agak asing, namun ini di Betlehem, tempat di mana Jesus lahir. Setelah persiapan lagu-lagu yang juga diiringi guitar oleh suster ini selesai, suster masih menggunakan waktu untuk memberikan kata pengantar. Dalam kata pengantarnya itu suster mengatakan bahwa Natal adalah perayaan keluarga. Natal adalah saat di mana Allah datang dan menjadi anggota keluarga dunia. Dalam perayaan ini, intensi pokok kita adalah membawa semua keluarga kita dan mempersembahkan kepada Jesus di palungan.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Ketika suster selesai menyampaikan kata pengantarnya ini, bergetar hati saya dan terasa ada sesuatu yang mengingatkan saya. Kekecewaan hati saya mengapa tidak diberi kesempatan merayakan ekaristi di gereja besar hilang seketika. Malah saya merasa bersyukur. Di tempat yang sederhana ini saya justru dibantu untuk menghayati arti Natal yang sebenarnya. Saya menyadari bahwa perayaan Natal jaman sekarang ini sudah berubah arti, bahkan sudah tidak bisa dikatakan perayaan Natal. Natal sudah menjadi ajang liburan dan bisnis. Jesus Kristus yang lahir, sudah diganti namanya menjadi "Xmas". Ada kegembiraan dan damai tersediri setelah saya mampu menerima kenyataan ini sebagai rahmat. Maka perayaan ekaristi dikapel sederhana ini akhirnya menjadi istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar