Rabu, 05 Mei 2010

Ephesus (di rumah Maria)

Dalam kesederhanaan-Mu
tamu itu menangis

Air suci di mulutnya tumpah;
"Ibu, aku bukan penziarah!"

Siapakah dia
Siapakah ibu itu baginya?

Maria yang ia tak kenal
dari sebuah belantara besar,

kesedihan yang lari
ke bukit Turki,

takhayul yang tertebus
di pohon-pohon Ephesus?

Tapi tamu itu menangis.
Barangkali riam,

dan burung-burung hutan
telah bikin bayang-bayang

seperti sebuah sendang.

Hari memang sudah habis
Tuhanku, hari seorang turis.

Dan dalam kesederhanaan-Mu
tamu menangis

Senin, 26 April 2010

5 Hal Perusak Energi Positif

Setiap hal yang kita lakukan pasti berefek pada jumlah energi positif yang kita miliki. Meskipun kita makan makanan sehat, olahraga secara teratur tetapi jika dan kebiasaan Anda buruk, maka energi akan berkurang dan membuat tubuh selalu merasa lelah.

Hal itu karena pikiran kerap dipenuhi dengan sesuatu yang negatif. Anda tentu penasaran hal apa saja yang menguras energi positif dan berdampak buruk pada keadaan psikis dan fisik.

1. Menunda pekerjaan.
Banyak pekerjaan atau hal yang bisa dilakukan secepatnya tetapi Anda lebih memilih untuk menundanya. Hal ini sangat menyita energi karena jika sewaktu-waktu pekerjaan atau hal tersebut harus diselesaikan segera, waktu dan pikiran Anda pasti akan terkuras maksimal untuk menyelesaikannya. Jika Ada yang belum selesai dan tertunda pasti ada yang mengganjal dan menyita pikiran Anda, hal ini juga membuat konsentrasi dan energi berkurang.

2. Mengeluh.
Wajar jika Anda sesekali mengeluh tentang suatu hal tetapi jika setiap hari diisi keluhan, maka Anda tidak aakan mendapatkan apa-apa. Mengeluh artinya membuang energi positif. Jangan sampai setiap hari berisi keluhan karena hanya akan membuat lelah. Lagipula tidak akan ada yang berubah hanya karena keluhan tanpa tindakan nyata.

3. Berdekatan dengan orang yang selalu berpikiran negatif.
Berdekatan dengan orang yang memandang segala hal dari sisi negatif juga sangat mempengaruhi energi dan pikiran Anda. Dengan mendengarkan cerita dan pernyataan yang selalu negatif pasti Anda akan merasa lelah. Pikiran Anda pun bisa terpengaruh menjadi negatif.

4. Selalu membandingkan diri sendiri dan orang lain.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seburuk-buruknya orang pun pasti memiliki sisi baik. Dengan selalu membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang energi dengan percuma.

5. Diet sembarangan.
Pola makan yang tidak baik bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman, yang secara tak langsung bisa membuat emosi tidak stabil. Saat kondisi mood sedang tidak baik, Anda perlu asupan nutrisi khusus. Lakukan diet dengan mengonsumsi makanan yang bisa membuat perasaan Anda lebih nyaman.

Rabu, 21 April 2010

"The Horror of the Cross" (KENGERIAN SALIB)

Orang-orang kuno berbicara tentang penyaliban dengan penuh kengerian. Sejarah yang ditulis oleh Cicero mengungkapkan perasaan jijik orang terhadap kematian di atas salib. Hukuman tersebut merupakan "hukuman paling puncak dan paling ekstrim terhadap budak" (Servitutis ekstrem summumque supplicium, dari buku Against Verres 2.5.169), "hukuman yang paling kejam dan yang paling menjijikkan" (crudelissimum taeterrimumque supplicium, ibid. 2.5. 165.).

Yosefus menyebutnya "kematian yang paling malang". (Perang Yahudi 7:203.)

Tuhan Yesus tinggal di wilayah Romawi yang akrab dengan penyaliban. Hukuman ekstrim ini adalah metode penaklukan Roma, seperti kisah Yosefus tentang wilayah Palestina yang bergejolak berulang kali menunjukkannya. Ketika pemberontakan muncul di Yerusalem setelah kematian Herod Agung, gubernur Suriah menyiapkan pasukannya berbaris melalui Galilea ke Yerusalem dan memerintahkan 2.000 pemberontak untuk disalib. (Antiquities 17:295.)

Ketika ancaman Perang Yahudi muncul pada tahun 66, prokurator Florus Gessius membalas dengan membantai dengan sembarangan di jalan-jalan Yerusalem, menangkap banyak warga negara Romawi, dan memerintahkan mereka harus "dicambuk terlebih dahulu kemudian disalibkan." (Perang Yahudi 2:306) Puncak perang tersebut adalah pengepungan tahun 70 M, ketika Yerusalem sedang terisolasi oleh Titus, jenderal Romawi yang terkenal yang kemudian menjadi kaisar Romawi berikutnya. Kelaparan memaksa orang-orang miskin untuk mencuri keluar dari benteng mereka untuk mencari makanan. Dengan gaya teror khas Romawi, ratusan orang-orang miskin ini dibuat menjadi contoh sehari-hari dengan disiksa dan kemudian disalibkan dengan terlihat jelas dari tembok kota. (Perang Yahudi 5:449.)

Ketika Palestina menjadi wilayah Romawi salib diperkenalkan sebagai bentuk hukuman, khususnya bagi mereka yang tidak dapat membuktikan kewarganegaraan Romawi mereka; di kemudian hari hukuman tersebut hanya diperuntukkan bagi pencuri dan pembuat keonaran.

Hukuman salib dijatuhkan juga secara teratur untuk kejahatan seperti perampokan dan pembajakan. Menurut adat Romawi, penyaliban selalu didahului oleh penderaan [pencambukan]; setelah hukuman pendahuluan tersebut, si terhukum harus membawa kayu salib, atau setidaknya bagian balok yang melintang, ke tempat eksekusi, dihadapkan pada ejekan dan hinaan rakyat. Setibanya di tempat pelaksanaan hukuman mati, si terpidana dipakukan di salib lalu diangkat. Tak lama kemudian, si terhukum, sepenuhnya telanjang, terikat di atas dengan tali. Ia kemudian direkatkank dengan paku ke kayu salib. Akhirnya, sebuah plakat disebut "titulus" bertuliskan nama si terhukum dan kalimatnya, ditempatkan di bagian atas salib.

KEBESARAN JIWA SEORANG IBU

Sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.

Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.