Manfaat Senyuman
1. Senyum membuat Anda lebih menarik.
Orang yg banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yang selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman. Dipastikan orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman.
2. Senyum mengubah perasaan
Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah..
3. Senyum menular
Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia
4. Senyum menghilangkan stres
Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.
5. Senyum meningkatkan imunitas.
Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.
6. Senyum menurunkan tekanan darah
Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.
7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin
Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yang bisa mengendalikan rasa sakit.
8. Senyum membuat awet muda
Senyuman menggerakkan banyak otot . Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift. Dijamin dengan banyak tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.
9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses..
Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.
10. Senyum membuat orang berpikir positif.
Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik". Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah
So guys jangan lupa bagikan senyum termanismu hari ini kepada orang-orang yg kau temui hari ini.
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Maret 2012
Membuat Hidup Lebih Indah
MEMBERI membuat kita lebih KAYA
SENYUM membuat kita lebih INDAH
KASIH membuat kita lebih BAHAGIA
DOA membuat kita lebih DAMAI
DEKAT TUHAN membuat hidup kita lebih SEMPURNA
Banyak orang mengatakan bahwa hidup ini tidak mudah untuk dijalani,
karena itu untuk apa kita menambah beban dalam pikiran dan perasaan kita
sehingga membuat hidup menjadi tidak nyaman.
Marilah kita buat hidup yang indah dengan lebih banyak memberi dan selalu dekat dengan Tuhan !
Prinsip ’memberi lebih baik daripada menerima’ ternyata sangat berpengaruh dalam hidup ini.
Siapakah orang yang mampu memberi?
Betul ... memang orang kaya mampu untuk memberi.
Tetapi jangan menunggu menjadi kaya baru anda memberi !
Marilah kita memberi, maka hal ini membuat kita, minimal merasa, menjadi lebih kaya dari kondisi sebenarnya.
Dengan memberi, maka kita percaya bahwa kita sudah kaya bahkan lebih kaya.
Cobalah anda beri senyum kepada orang lain, maka ia pun akan membalasnya.
Memberi juga merupakan bukti dari kasih kita kepada sesama.
Nah hal ini jelas membuat kita menjadi bahagia dan membuat hidup ini indah.
Selain prinsip ’memberi’, maka kedekatan kita dengan Tuhan, antara lain dengan berdoa dan membaca Kitab Suci, akan membuat kita selalu dapat bersukur sehingga kita menjadi penuh damai dan sukacita.
Kedekatan dengan Tuhan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik karena kita lebih mengenali
perintah-perintahNya dan merasakan kasihNya yang luar biasa. Semua hal ini membuat hidup kita
menjadi lebih sempurna.
SENYUM membuat kita lebih INDAH
KASIH membuat kita lebih BAHAGIA
DOA membuat kita lebih DAMAI
DEKAT TUHAN membuat hidup kita lebih SEMPURNA
Banyak orang mengatakan bahwa hidup ini tidak mudah untuk dijalani,
karena itu untuk apa kita menambah beban dalam pikiran dan perasaan kita
sehingga membuat hidup menjadi tidak nyaman.
Marilah kita buat hidup yang indah dengan lebih banyak memberi dan selalu dekat dengan Tuhan !
Prinsip ’memberi lebih baik daripada menerima’ ternyata sangat berpengaruh dalam hidup ini.
Siapakah orang yang mampu memberi?
Betul ... memang orang kaya mampu untuk memberi.
Tetapi jangan menunggu menjadi kaya baru anda memberi !
Marilah kita memberi, maka hal ini membuat kita, minimal merasa, menjadi lebih kaya dari kondisi sebenarnya.
Dengan memberi, maka kita percaya bahwa kita sudah kaya bahkan lebih kaya.
Cobalah anda beri senyum kepada orang lain, maka ia pun akan membalasnya.
Memberi juga merupakan bukti dari kasih kita kepada sesama.
Nah hal ini jelas membuat kita menjadi bahagia dan membuat hidup ini indah.
Selain prinsip ’memberi’, maka kedekatan kita dengan Tuhan, antara lain dengan berdoa dan membaca Kitab Suci, akan membuat kita selalu dapat bersukur sehingga kita menjadi penuh damai dan sukacita.
Kedekatan dengan Tuhan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik karena kita lebih mengenali
perintah-perintahNya dan merasakan kasihNya yang luar biasa. Semua hal ini membuat hidup kita
menjadi lebih sempurna.
Contemplation (2)
Dear Heavenly Father, I thank You for being my source of life. Thank You for Your hand of blessing that is leading and guiding me. There are many difficult areas and bumps and bruises in my life, but I choose to make You the number-one priority in my life. My heart hungers only for You.
John 15:4-8 Abide in Me, and I in you. As the branch cannot bear fruit of itself, unless it abides in the vine, neither can you, unless you abide in Me. "I am the vine, you are the branches. He who abides in Me, and I in him, bears much fruit; for without Me you can do nothing. If anyone does not abide in Me, he is cast out as a branch and is withered; and they gather them and throw them into the fire, and they are burned. If you abide in Me, and My words abide in you, you will ask what you desire, and it shall be done for you. By this My Father is glorified, that you bear much fruit; so you will be My disciples.
This type of verse is what would confuse the crap out of me when I was young. Why on earth is the bible talking about vegitation? I avoided church plain and simply because I NEVER understood what they were saying. I thought they were saying that Jesus is the Son of God, the Saviour of man and if you bring him his favorite fruit, grapes in this case, He would like you.
This went on until the fall of 2008 when a friend of mine gave me a book written by a man I met some years before who I always refered to as "coach". Well at least the confusion about the verbiage and parables, and I'm sure Jesus does like grapes.
Anyway the book was written by a man named Toney Dungy. I guess you could say it was his explanation, plain and simply put, of how the bible guides his life.
Now when I think about what the bible says about the relationship between the branch and the vine I realize these are descriptive picture words that Jesus used that aren't really used much these days, but think about it for a minute.
If the branch is not attached to the vine, it withers and dies. The very life of the branch depends on being attached to the vine. The same thing happens if we try to operate in this life without Jesus.
Without Him, we can do nothing. We are cut from our life source. But when you remain in Him by daily connecting with Him through prayer, worship and study of the Word, then your life will be fruitful.
The part that stands out for me is where He says,“much fruit,” which means basically the more you let Jesus into your life, the bigger your harvest.
There isn't one person on this planet that God doesnt want to be successful. It's all up tou you and you alone. It won't be easy but it will be worth it.
John 15:4-8 Abide in Me, and I in you. As the branch cannot bear fruit of itself, unless it abides in the vine, neither can you, unless you abide in Me. "I am the vine, you are the branches. He who abides in Me, and I in him, bears much fruit; for without Me you can do nothing. If anyone does not abide in Me, he is cast out as a branch and is withered; and they gather them and throw them into the fire, and they are burned. If you abide in Me, and My words abide in you, you will ask what you desire, and it shall be done for you. By this My Father is glorified, that you bear much fruit; so you will be My disciples.
This type of verse is what would confuse the crap out of me when I was young. Why on earth is the bible talking about vegitation? I avoided church plain and simply because I NEVER understood what they were saying. I thought they were saying that Jesus is the Son of God, the Saviour of man and if you bring him his favorite fruit, grapes in this case, He would like you.
This went on until the fall of 2008 when a friend of mine gave me a book written by a man I met some years before who I always refered to as "coach". Well at least the confusion about the verbiage and parables, and I'm sure Jesus does like grapes.
Anyway the book was written by a man named Toney Dungy. I guess you could say it was his explanation, plain and simply put, of how the bible guides his life.
Now when I think about what the bible says about the relationship between the branch and the vine I realize these are descriptive picture words that Jesus used that aren't really used much these days, but think about it for a minute.
If the branch is not attached to the vine, it withers and dies. The very life of the branch depends on being attached to the vine. The same thing happens if we try to operate in this life without Jesus.
Without Him, we can do nothing. We are cut from our life source. But when you remain in Him by daily connecting with Him through prayer, worship and study of the Word, then your life will be fruitful.
The part that stands out for me is where He says,“much fruit,” which means basically the more you let Jesus into your life, the bigger your harvest.
There isn't one person on this planet that God doesnt want to be successful. It's all up tou you and you alone. It won't be easy but it will be worth it.
Selasa, 28 Februari 2012
Contemplation (1)
Saints In God's Sight Through Christ
“Thou art no more a servant, but a son; and if a son, then an heir of God through Christ.” Galatians 4:7
Are you saved? If you are, then you are a saint. Now you’re probably saying, “But, I can’t say that. Christ wants me to be humble.” But let me tell you what real humility is. It is accepting what God says about you, and God says you’re a saint. Now, that doesn’t make you sinless; it makes you blameless. In God’s sight (and that’s the only sight that counts) you are a saint. God sees you as perfect because He sees you draped in the righteousness of His Son. Glory to God for His indescribable love to us!
Stand in front of the mirror and say out loud, “I am a saint.” Spread the Good News to your family and friends who are saved – that they are saints, too!
“Thou art no more a servant, but a son; and if a son, then an heir of God through Christ.” Galatians 4:7
Are you saved? If you are, then you are a saint. Now you’re probably saying, “But, I can’t say that. Christ wants me to be humble.” But let me tell you what real humility is. It is accepting what God says about you, and God says you’re a saint. Now, that doesn’t make you sinless; it makes you blameless. In God’s sight (and that’s the only sight that counts) you are a saint. God sees you as perfect because He sees you draped in the righteousness of His Son. Glory to God for His indescribable love to us!
Stand in front of the mirror and say out loud, “I am a saint.” Spread the Good News to your family and friends who are saved – that they are saints, too!
Contemplation
"Now if God so clothes the grass of the field, which today is, and tomorrow is thrown into the oven, will He not much more clothe you, O you of little faith? "Therefore do not worry, saying, 'What shall we eat?' or 'What shall we drink?' or 'What shall we wear?' For after all these things the Gentiles seek. For your heavenly Father knows that you need all these things. But seek first the kingdom of God and His righteousness, and all these things shall be added to you. Therefore do not worry about tomorrow, for tomorrow will worry about its own things. Sufficient for the day is its own trouble. - Matthew 6:30-34
In the above verse Jesus had just addressed being concerned about food, clothing and drink. The issue, though, is greater than “all these things” being added to those who seek and find the Kingdom.
What "things" are needed in seeking and finding the Kingdom of God? Certainly, we can suspect that indeed food, clothing and drink are part of that. After all God created what we need to sustain ourselves.
Charles G. Finney said, “The Jews were greatly mistaken in respect to the nature of that kingdom which their Messiah was to set up. They expected a kingdom like the kingdoms of this world, invested with earthly splendor, fitted to aggrandize their nation and minister to their national pride.”
This is a very limited perspective. But certainly Christians have felt the same. If I find the Kingdom, I’ll be a successful football coach. If I find the Kingdom, I’ll get recognition on the basketball court.
The danger here is the worry about not having “success” according to wordly standards. I touched on this in another post with the quote of the one who dies with the most toys wins.
In our society it might be an issue of “keeping up with Jones” and extending one’s self too far. And in some cases, it may be far more problematic than that. What about those who sleep under bridges, or who are having severe health problems, or who saw a natural disaster destroy their home? Does the Kingdom of God elude people under these circumstances?
We have to say, no. Jesus Himself points out that the Kingdom of God is not simply about having food, clothing or drink. Seeking and finding the Kingdom of God is about grace, faith, forgiveness, hope and love. There are many ways that the Bible addresses these.
Paul offered the following: "But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, longsuffering, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, self-control. Against such there is no law. - Galatians 5:22-23
While he was contrasting being covered in grace to being obsessed with the law, these are among the spiritual “things” added to the believer’s life when the Kingdom of God is found. If we limit evidence to success as the world sees it, we miss important aspects of the faith.
In the above verse Jesus had just addressed being concerned about food, clothing and drink. The issue, though, is greater than “all these things” being added to those who seek and find the Kingdom.
What "things" are needed in seeking and finding the Kingdom of God? Certainly, we can suspect that indeed food, clothing and drink are part of that. After all God created what we need to sustain ourselves.
Charles G. Finney said, “The Jews were greatly mistaken in respect to the nature of that kingdom which their Messiah was to set up. They expected a kingdom like the kingdoms of this world, invested with earthly splendor, fitted to aggrandize their nation and minister to their national pride.”
This is a very limited perspective. But certainly Christians have felt the same. If I find the Kingdom, I’ll be a successful football coach. If I find the Kingdom, I’ll get recognition on the basketball court.
The danger here is the worry about not having “success” according to wordly standards. I touched on this in another post with the quote of the one who dies with the most toys wins.
In our society it might be an issue of “keeping up with Jones” and extending one’s self too far. And in some cases, it may be far more problematic than that. What about those who sleep under bridges, or who are having severe health problems, or who saw a natural disaster destroy their home? Does the Kingdom of God elude people under these circumstances?
We have to say, no. Jesus Himself points out that the Kingdom of God is not simply about having food, clothing or drink. Seeking and finding the Kingdom of God is about grace, faith, forgiveness, hope and love. There are many ways that the Bible addresses these.
Paul offered the following: "But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, longsuffering, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, self-control. Against such there is no law. - Galatians 5:22-23
While he was contrasting being covered in grace to being obsessed with the law, these are among the spiritual “things” added to the believer’s life when the Kingdom of God is found. If we limit evidence to success as the world sees it, we miss important aspects of the faith.
Ulat dan Daun
Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga dimana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun
hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin. " Apa Khabar daun hijau," katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. "Oo,
kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?" tanya daun hijau. "
Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku". " Bisakah engkau
membantuku sobat?" kata ulat kecil. "Tentu..tentu..mendekatlah ke
mari."
Daun hijau berpikir, Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini
untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan
belobang-lobang. tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan
tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat.
Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih
dan pengorbanan itu, ada rasa puas didalam diri daun hijau. Sekalipun
tubuhnya kini berlobang disana sini namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah, disapu
orang dan dibakar.
Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Tokh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati" bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.
merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang
tidak mudah, tetapi indah.
Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang
namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap
hijau,
Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi "daun hijau" , berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari
bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian
kita akan mati. itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan
baik : kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada taranya dari Yesus hingga kita bisa diselamatkan seperti sekarang ini.
hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin. " Apa Khabar daun hijau," katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. "Oo,
kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?" tanya daun hijau. "
Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku". " Bisakah engkau
membantuku sobat?" kata ulat kecil. "Tentu..tentu..mendekatlah ke
mari."
Daun hijau berpikir, Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini
untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan
belobang-lobang. tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan
tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat.
Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih
dan pengorbanan itu, ada rasa puas didalam diri daun hijau. Sekalipun
tubuhnya kini berlobang disana sini namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah, disapu
orang dan dibakar.
Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Tokh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati" bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.
merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang
tidak mudah, tetapi indah.
Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang
namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap
hijau,
Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi "daun hijau" , berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari
bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian
kita akan mati. itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan
baik : kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada taranya dari Yesus hingga kita bisa diselamatkan seperti sekarang ini.
Masalah dan Solusinya
Ketika beban menghimpit kehidupan kita banyak sekali godaan yang datang menghantui hidup kita, godaan yang datang bukan hanya datang dari luar atau orang lain, godaan yang datang bisa saja dari dalam atau pribadi maupun keluarga kita sendiri.
Bagaimana kita mempertahankan kehidupan yang didasari oleh iman agar kita tidak sekali-kali tergoda dengan buaian tersebut? "Apakah iman kita sudah sebesar biji sesawi yang dapat memerintahkan gunung untuk berpindah dari tempatnya?" << Firman Tuhan
Disaat persoalan kehidupan itu datang terus-menerus, saat itulah iman kita diuji oleh Bapa, inilah pembelajaran kehidupan yang harus kita lalui, "Ketika kita berhasil melewatinya, melewati masalah tersaebut itu berarti kita adalah orang-orang yang tahan uji yang siap untuk menghadapi masalah kehidupan berikutnya." << Firman Tuhan
Terkadang kita berpikir bahwa hidup selalu dan selalu saja ada masalahnya. Ya benar!
perhatikan lawan kata berikut in:
Hidup - Mati
Cinta - Benci
Manis - Pahit
Besih - Kotor
Bahagia - kehancuran
Berhasil - Gagal
Teduh - gelombang
dan lawan kata diatas ini benar-benar kita alami dalam kehidupan ini.
Itu berarti Tuhan begitu mengasihi kita, dan Ia ingin mendekatkan diri kita kepadaNYA. Saya merasa bahwa setiap masalah yang ada sekarang ini membuat kita lebih dewasa secara rohani, dekat dengan Tuhan. Saya berharap anda pun demikian. Jika anda tidak demikan saya hanya mau berkata "Carilah Tuhan, Dia mampu memberikan jawaban lebih dari yang apa yang kamu inginkan", janganlah hanya, janganlah hanya mencari Tuhan ketika kita sedang terhimpit oleh beban kehidupan kehidupan namun setiap saat intim dengan Tuhan.
Bagaimana kita mempertahankan kehidupan yang didasari oleh iman agar kita tidak sekali-kali tergoda dengan buaian tersebut? "Apakah iman kita sudah sebesar biji sesawi yang dapat memerintahkan gunung untuk berpindah dari tempatnya?" << Firman Tuhan
Disaat persoalan kehidupan itu datang terus-menerus, saat itulah iman kita diuji oleh Bapa, inilah pembelajaran kehidupan yang harus kita lalui, "Ketika kita berhasil melewatinya, melewati masalah tersaebut itu berarti kita adalah orang-orang yang tahan uji yang siap untuk menghadapi masalah kehidupan berikutnya." << Firman Tuhan
Terkadang kita berpikir bahwa hidup selalu dan selalu saja ada masalahnya. Ya benar!
perhatikan lawan kata berikut in:
Hidup - Mati
Cinta - Benci
Manis - Pahit
Besih - Kotor
Bahagia - kehancuran
Berhasil - Gagal
Teduh - gelombang
dan lawan kata diatas ini benar-benar kita alami dalam kehidupan ini.
Itu berarti Tuhan begitu mengasihi kita, dan Ia ingin mendekatkan diri kita kepadaNYA. Saya merasa bahwa setiap masalah yang ada sekarang ini membuat kita lebih dewasa secara rohani, dekat dengan Tuhan. Saya berharap anda pun demikian. Jika anda tidak demikan saya hanya mau berkata "Carilah Tuhan, Dia mampu memberikan jawaban lebih dari yang apa yang kamu inginkan", janganlah hanya, janganlah hanya mencari Tuhan ketika kita sedang terhimpit oleh beban kehidupan kehidupan namun setiap saat intim dengan Tuhan.
Senin, 09 Januari 2012
Father We Commit to You
God before us, God beside
God within us abide
God in heaven, and in this place
Father we commit to you this day
God in pleasure, God in pain
God will ever remain
God in gladness and God in strife
Father we commit to you our lives
For we know that you are faithful
Through the stillness and the storm
For you've been with us from the start
Father we commit to you our heart
God within us abide
God in heaven, and in this place
Father we commit to you this day
God in pleasure, God in pain
God will ever remain
God in gladness and God in strife
Father we commit to you our lives
For we know that you are faithful
Through the stillness and the storm
For you've been with us from the start
Father we commit to you our heart
Minggu 8 Januari (@ GPIB EBENHAEZER, Surabaya)
Tuhan. Terimaksih untuk hari Minggu yang indah ini. Bahasa nada, melody yang tidak teratur dapat dirasakan begitu indah untuk mengisi hati ini.
Tuhan jadikan hidupku lebih berarti. Amin
Tuhan jadikan hidupku lebih berarti. Amin
Senin, 06 Juni 2011
Kamu yang O'on.. Kalau tidak mencobanya!
Hai.. Saya pernah bergaul dengan para pemakai narkoba dan mereka yang akrab dengan kehidupan malam. Sepintas mereka bagaikan mahklu Tuhan yang paling sempurna, tampan-tampan dan cantik-cantik. Saya mungkin termasuk yang paling jelek di antara mereka. Wangi tubuh mereka tidak jauh dari merek-merek terkenal yang berbau Paris. Semua merek impor melekat di tubuh mereka. Beda dengan saya yang serba lokal dan terbilang terjangkau. Pagi sampai sore, mereka adalah orang-orang yan sukses berkarier atau berusaha. Begitu malam menjelang, mereka menjadi mahkluk yang haus hiburan dengan alasan mau happy karena sudah stres seharia.
Suatu kali, saya diajak teman-teman saya ke tempat yang mereka sebut surga dunia. Saya penasaran, ingin tahu seperti apa surga mereka. Seorang teman saya mengatakan kepada saya, "jangan jadi orang o'on terus.. " Begitu kata teman saya mempromosikan surga mereka kepada saya. Akhirnya, sampailah kami di suatu tempat yang mereka sebut surga itu. Lantai satu berisi dikotek yang ingar-bingar dengan musik yang membuat gendang telinga bergetar. Ternyata mereka memilih naik ke lantai dua yang ada private room-nya. Mereka bilang lantai satu itu baru teras surga. Surga yang sebenarnya ada di lantai dua. Sementara, lantai tiga dikatakan sebagai tempat buang ampas surga karena isinya adalah tempat pijat plus-plus yang penuh kemesuman.
Apa yang mereka laku di private room? Ternyata mereka ingin pesta minuman. Mereka juga membagikan beberapa pil. Pil yang mereka telan jelas bukan obat sakit kepala atau sakit flu. Pil-pil itu adalah narkoba yang disebut dengan ecstasy atau inex. Seorang teman bilang pada saya, "Ayo cobain.. Mumpung gratis nih, o'on kamu kalau enggak mau!" Dengan alasan alergi lambung kalau minum obat sembarangan, akhirnya saya pili minum orange juice dan cola. Semalaman itu mereka meledek saya karena hanya saya yang tidak ikutan pesta surga mereka.
1 Korintus 2:14, Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan. Teman-teman saya mengatakan saya bodoh walaupun sesungguhnya mereka tidak lebih pintar dari saya karena mereka dalam semalam bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk merusak jiwa dan raga mereka.
Sebulan kemudian, salah satu teman saya yang mengatakan saya o'on, datang menemui saya. Dia bercerita bahwa beberapa hari lalu seorang dari mereka meninggal dunia karena over dosis atau OD akibat menenggak narkoba secara berlebihan. Malam sebelumnya lagi teman wanitanya ditangkap polisi saat razia narkoba di klub tempat mereka biasa ngumpul. Dari saku celananya ditemukan dua butir inex yang menyeretnya ke dalalam penjara dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun penjara. Teman saya itu bercerita sambil menangis dan dia mengatakan bahwa dia sudah bosan dengan kehidupan seperti itu. Dia ingin mencari kedamaian serta sukacita sejati. Sesuatu yang selama ini dianggapnya surga ternyata hanya semu dan memberi kenikmatan sesaat, tetapi berbuntut banyak perkara yang membuat hidupnya semakin kacau.
Akhirnya saya menawarkan kepadanya untuk menerima Yesus Kristus sebagai teman sejati serta penolong setia dan mampu memberi sukacita serta damai sejahtera sejati yang selama ini dicarinya. Saya menawarinya gaya hidup penuh kasih yang setiap hari diisi dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Saya juga mengajaknya untuk merasakan bahwa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihinya. Puji Tuhan, teman saya mau menerima ajakan saya dan berkomitmen kepada Tuhan untuk memulai hidup baru yang penuh sukacita dan damai sejahtera bersama Yesus Kristus guna menemukan surga sejati seperti yang selama ini didambakannya.
Sambil berbisik saya katakan kepadanya "Kamu yang o'on.. Kalau kamu tidak nyobain!"
Sekarang ini dia telah ikut bergabung menjadi anggota paduan suara gereja bersama saya di barisan tenor. Tuhan Yesus sangat baik.
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan tergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. 1 Korintus 2:4-5.
Suatu kali, saya diajak teman-teman saya ke tempat yang mereka sebut surga dunia. Saya penasaran, ingin tahu seperti apa surga mereka. Seorang teman saya mengatakan kepada saya, "jangan jadi orang o'on terus.. " Begitu kata teman saya mempromosikan surga mereka kepada saya. Akhirnya, sampailah kami di suatu tempat yang mereka sebut surga itu. Lantai satu berisi dikotek yang ingar-bingar dengan musik yang membuat gendang telinga bergetar. Ternyata mereka memilih naik ke lantai dua yang ada private room-nya. Mereka bilang lantai satu itu baru teras surga. Surga yang sebenarnya ada di lantai dua. Sementara, lantai tiga dikatakan sebagai tempat buang ampas surga karena isinya adalah tempat pijat plus-plus yang penuh kemesuman.
Apa yang mereka laku di private room? Ternyata mereka ingin pesta minuman. Mereka juga membagikan beberapa pil. Pil yang mereka telan jelas bukan obat sakit kepala atau sakit flu. Pil-pil itu adalah narkoba yang disebut dengan ecstasy atau inex. Seorang teman bilang pada saya, "Ayo cobain.. Mumpung gratis nih, o'on kamu kalau enggak mau!" Dengan alasan alergi lambung kalau minum obat sembarangan, akhirnya saya pili minum orange juice dan cola. Semalaman itu mereka meledek saya karena hanya saya yang tidak ikutan pesta surga mereka.
1 Korintus 2:14, Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan. Teman-teman saya mengatakan saya bodoh walaupun sesungguhnya mereka tidak lebih pintar dari saya karena mereka dalam semalam bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk merusak jiwa dan raga mereka.
Sebulan kemudian, salah satu teman saya yang mengatakan saya o'on, datang menemui saya. Dia bercerita bahwa beberapa hari lalu seorang dari mereka meninggal dunia karena over dosis atau OD akibat menenggak narkoba secara berlebihan. Malam sebelumnya lagi teman wanitanya ditangkap polisi saat razia narkoba di klub tempat mereka biasa ngumpul. Dari saku celananya ditemukan dua butir inex yang menyeretnya ke dalalam penjara dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun penjara. Teman saya itu bercerita sambil menangis dan dia mengatakan bahwa dia sudah bosan dengan kehidupan seperti itu. Dia ingin mencari kedamaian serta sukacita sejati. Sesuatu yang selama ini dianggapnya surga ternyata hanya semu dan memberi kenikmatan sesaat, tetapi berbuntut banyak perkara yang membuat hidupnya semakin kacau.
Akhirnya saya menawarkan kepadanya untuk menerima Yesus Kristus sebagai teman sejati serta penolong setia dan mampu memberi sukacita serta damai sejahtera sejati yang selama ini dicarinya. Saya menawarinya gaya hidup penuh kasih yang setiap hari diisi dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Saya juga mengajaknya untuk merasakan bahwa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihinya. Puji Tuhan, teman saya mau menerima ajakan saya dan berkomitmen kepada Tuhan untuk memulai hidup baru yang penuh sukacita dan damai sejahtera bersama Yesus Kristus guna menemukan surga sejati seperti yang selama ini didambakannya.
Sambil berbisik saya katakan kepadanya "Kamu yang o'on.. Kalau kamu tidak nyobain!"
Sekarang ini dia telah ikut bergabung menjadi anggota paduan suara gereja bersama saya di barisan tenor. Tuhan Yesus sangat baik.
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan tergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. 1 Korintus 2:4-5.
Sabtu, 09 April 2011
Mengapa Harus Begini..
"Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan."
Efesus 3:20
Saya ingin bertanya, pernahkah kita mengalami kenyataan hidup yang membingungkan? Berbeda jauh dari yang kita harapkan? Pernahkah kita berdoa kepada Tuhan dan disertai usaha yang sunggu-sungguh dengan harapan kita atau anggota keluarga kita segera disembuhkan dari penyakit yang sudah cukup lama diderita, tetapi jawaban Tuhan sangat berbeda dengan yang kita harapkan? Pernahkah kita sudah berusaha sekuat tenaga demi kehidupan yang lebih baik, dengan perhitungan yang matang, dan disertai doa, tetapi selalu saja gagal? Pernahkah kita berada dalam situasi kehidupan yang berat di luar dugaan kita, sehingga kita bertanya-tanya dalam hati: Mengapa harus begini?
Memang, ketika menjalani kehidupan di dunia ini kita kerap kali diperhadapkan dengan keadaan yang membuat kita tidak bisa mengerti. Kita sudah besusaha dengan perencanaan yang baik, kita sudah melakukan dengan hati-hati, kita sudah berdoa kepada Tuhan, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Bahkan menyedihkan! Lalu sering muncul pertanyaan dalam hati kita: Sebenarnya Tuhan itu menghendaki bagaimana dan apa yang salah dalam hidup saya?
Mungkin kita telah berusahan dengan baik dan disertai doa dengan kesungguhan hati. Namun, Tuhan tidak memenuhi harapan kita. Apakah kalau begitu Allah tidak peduli terhadap kita? Allah tidak mengasihi kita? Allah tidak menghargai jerih payah dan upaya kita? Allah tidak mau mendengarkan doa kita? Dan, masih banyak lagi yang bisa dipertanyakan!
Tanpa sadar, kita sering menyamakan Allah dengan diri kita. Kalau menuru pikiran kita baik, seharusnya Allah juga menganggapi baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita tidak baik dan jangan sampai menimpa hidup kita, seharusnya Allah juga menghindarkan kita dari hal itu. Kita lupa bahwa pikiran Allah jauh melebihi pikiran kita. Perhitungan Allah jauh lebih sempurna dibandingkan perhitungan kita. Rasul Paulu bersaksi: "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia" (1 Korintus 1:25). Bukankah itu berarti, sebodoh-bodohnya yang dari Allah jauh lebih besar hikmatnya daripada yang dari manusia? Dan selemah-lemahnya yang dari Allah jauh lebih kuat daripada yang dari manusia? Padahal, Allah tidak pernah bodoh! Alla tidak pernah lemah!
Ketika kita sedang mengalami situasi kehidupan yang tidak menyenangkan, hendaknya kita tidak buru-buru menganggap bahwa Allah bersikap jahat kepada kita. Hendaknya kita tidak cepat-cepat menganggap bahwa Allah tidak mampu melakukan yang lebih baik. Allah mampu melakukan yang terbaik, bahkan sangat sempurna untuk kita. Melebihi yang kita doakan atau kita pikirkan! Rasul Paulus menyatakan: "Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan" (Efesus 3:20).
Kita dapat berdoa dan berpikir, tetapi Allah dapat melakukan jauh melebihi apa yang kita doakan dan pikirkan. Dan, jauh lebih sempurna! Meskipun kita tidak membawa dalam doa, tetapi jika Allah memandang hal itu penting untuk hidup kita, Allah dapat melakukan apa yang tidak kita bawa dalam doa itu. Meskipun tidak terpikirkan oleh kita, tetapi penting untuk hidup kita, Alkah menyediakannya. Sebaliknya, meskipun ada hal yang kita pikir sangat penting untuk hidup kita, sehingga dengan kesungguhan hati kita bawa dalam doa kepada Allah. Namun, jika Allah memandang hal itu membahayakan hidup kita, Allah tidak akan membiarkannya. Memang, terkadang membingungkan! Terkadang menyedihkan! Namu, apa yang dilakukan Allah jauh lebih sempurna daripada yang kita doakan dan pikirkan.
Apalagi kalau kita merenungkan karya penyelamatan yang telah dilakukan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus, semakin terbukti bahwa Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau kita pikirkan. Allah begitu luar biasa bertindak untuk menyelamatkan kita, manusa berdosa. Dan, karena itu, Allah tidak menyayangkan Putra Tunggal-Nya Yesus Kristus untuk dikurbankan. Sungguh melebihi apa yang kita pikirkan.
Allah berkuas melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Yang penting bagi kita adalah mengikuti saja apa yang dikehendaki Allah. Kita tidak bisa memaksa Allah bertindak menurt cara kita. Tidak boleh mendikte dan mengatur Allah. Biarkanlah Allah melakukan apa yang Dia kehendaki untuk hidup kita. Kita tidak usah gelisah dengan bertanya-tanya: Mengapa harus begini? Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan! Dan, pasti sempurna demi kebaikan kita! Namun, bukan seperti pemahaman anak kecil dalam cerita berikut ini. Lia, si anak kecil, sedang tidak suka makan nasi. Saat itu ia harus makan nasi dan ditunggui ayah serta ibunya. Sebelum makan Lia berdoa: "Ya Tuhan, jadikanlah nasi Lia menjadi es krim!" Lo, kok begitu?!
Efesus 3:20
Saya ingin bertanya, pernahkah kita mengalami kenyataan hidup yang membingungkan? Berbeda jauh dari yang kita harapkan? Pernahkah kita berdoa kepada Tuhan dan disertai usaha yang sunggu-sungguh dengan harapan kita atau anggota keluarga kita segera disembuhkan dari penyakit yang sudah cukup lama diderita, tetapi jawaban Tuhan sangat berbeda dengan yang kita harapkan? Pernahkah kita sudah berusaha sekuat tenaga demi kehidupan yang lebih baik, dengan perhitungan yang matang, dan disertai doa, tetapi selalu saja gagal? Pernahkah kita berada dalam situasi kehidupan yang berat di luar dugaan kita, sehingga kita bertanya-tanya dalam hati: Mengapa harus begini?
Memang, ketika menjalani kehidupan di dunia ini kita kerap kali diperhadapkan dengan keadaan yang membuat kita tidak bisa mengerti. Kita sudah besusaha dengan perencanaan yang baik, kita sudah melakukan dengan hati-hati, kita sudah berdoa kepada Tuhan, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Bahkan menyedihkan! Lalu sering muncul pertanyaan dalam hati kita: Sebenarnya Tuhan itu menghendaki bagaimana dan apa yang salah dalam hidup saya?
Mungkin kita telah berusahan dengan baik dan disertai doa dengan kesungguhan hati. Namun, Tuhan tidak memenuhi harapan kita. Apakah kalau begitu Allah tidak peduli terhadap kita? Allah tidak mengasihi kita? Allah tidak menghargai jerih payah dan upaya kita? Allah tidak mau mendengarkan doa kita? Dan, masih banyak lagi yang bisa dipertanyakan!
Tanpa sadar, kita sering menyamakan Allah dengan diri kita. Kalau menuru pikiran kita baik, seharusnya Allah juga menganggapi baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita tidak baik dan jangan sampai menimpa hidup kita, seharusnya Allah juga menghindarkan kita dari hal itu. Kita lupa bahwa pikiran Allah jauh melebihi pikiran kita. Perhitungan Allah jauh lebih sempurna dibandingkan perhitungan kita. Rasul Paulu bersaksi: "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia" (1 Korintus 1:25). Bukankah itu berarti, sebodoh-bodohnya yang dari Allah jauh lebih besar hikmatnya daripada yang dari manusia? Dan selemah-lemahnya yang dari Allah jauh lebih kuat daripada yang dari manusia? Padahal, Allah tidak pernah bodoh! Alla tidak pernah lemah!
Ketika kita sedang mengalami situasi kehidupan yang tidak menyenangkan, hendaknya kita tidak buru-buru menganggap bahwa Allah bersikap jahat kepada kita. Hendaknya kita tidak cepat-cepat menganggap bahwa Allah tidak mampu melakukan yang lebih baik. Allah mampu melakukan yang terbaik, bahkan sangat sempurna untuk kita. Melebihi yang kita doakan atau kita pikirkan! Rasul Paulus menyatakan: "Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan" (Efesus 3:20).
Kita dapat berdoa dan berpikir, tetapi Allah dapat melakukan jauh melebihi apa yang kita doakan dan pikirkan. Dan, jauh lebih sempurna! Meskipun kita tidak membawa dalam doa, tetapi jika Allah memandang hal itu penting untuk hidup kita, Allah dapat melakukan apa yang tidak kita bawa dalam doa itu. Meskipun tidak terpikirkan oleh kita, tetapi penting untuk hidup kita, Alkah menyediakannya. Sebaliknya, meskipun ada hal yang kita pikir sangat penting untuk hidup kita, sehingga dengan kesungguhan hati kita bawa dalam doa kepada Allah. Namun, jika Allah memandang hal itu membahayakan hidup kita, Allah tidak akan membiarkannya. Memang, terkadang membingungkan! Terkadang menyedihkan! Namu, apa yang dilakukan Allah jauh lebih sempurna daripada yang kita doakan dan pikirkan.
Apalagi kalau kita merenungkan karya penyelamatan yang telah dilakukan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus, semakin terbukti bahwa Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau kita pikirkan. Allah begitu luar biasa bertindak untuk menyelamatkan kita, manusa berdosa. Dan, karena itu, Allah tidak menyayangkan Putra Tunggal-Nya Yesus Kristus untuk dikurbankan. Sungguh melebihi apa yang kita pikirkan.
Allah berkuas melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Yang penting bagi kita adalah mengikuti saja apa yang dikehendaki Allah. Kita tidak bisa memaksa Allah bertindak menurt cara kita. Tidak boleh mendikte dan mengatur Allah. Biarkanlah Allah melakukan apa yang Dia kehendaki untuk hidup kita. Kita tidak usah gelisah dengan bertanya-tanya: Mengapa harus begini? Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan! Dan, pasti sempurna demi kebaikan kita! Namun, bukan seperti pemahaman anak kecil dalam cerita berikut ini. Lia, si anak kecil, sedang tidak suka makan nasi. Saat itu ia harus makan nasi dan ditunggui ayah serta ibunya. Sebelum makan Lia berdoa: "Ya Tuhan, jadikanlah nasi Lia menjadi es krim!" Lo, kok begitu?!
Rabu, 06 April 2011
Ketika Jalan Buntu.
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”
-Lukas 1;37
Bagaimana rasanya menghadapi masalah atau kesulitan hidup yang mahaberat? Segala upaya telah dilakukan habis-habisan, tetapi mengalami jalan buntu. Kepala rasanya mau pecah. Dada terasa sesak, sulit bernapas. Gelisah, sulit tidur. Makan terasa tidak enak. Hidup terasa gelap. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tidak bisa tersenyum!
Memang! Begitulah jika kita mengalami jalan buntuh dalam mengatasi persoalan hidup yang rumit dan berat. Sepertinya sudah tidak ada yang bisa kita harapkan lagi. Kita sudah kuwalahan. Kita beranggapan bahwa persoalan berat yang kita hadapi sudah tidak mungkin teratasi.
Mengapa begitu? Karena pikiran dan perasaan kita terpusat hanya pada persoalan berat yang sedang kita hadapi. Pikiran dan perasaan kita terpaku hanya pada kemampuan atau kekuatan diri sendiri, sementara kemampuan atau kekuatan kita terasa tidak mencukupi untuk menyelesaikan persoalan hidup yang mahaberat tersebut. Lalu kita merasa berada pada jalan buntu. Kita menganggap persoalan kita tidak mungkin teratasi.
Padahal, jika kita tidak terpaku hanya pada persoalan rumit yang sedang kita hadapi, dan kita juga tidak terpaku hanya pada kekuatan kita sendiri, persoalan seberat apa pun masih dapat teratasi. Lalu, kita harus bagaimana? Pusatkan perhatian dan pandanglah kepada Allah! Percaya dan berharap kepadaNya! Allah Yang Mahakuasa! Allah yang mampu mengatasi dan menyelesaikan kesulitan apa pun! Bagi Allah tidak ada yang mustahil! Meskipun menurut nalar dan perhitungan manusia mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Kita tentu masih ingat kesaksian Alkitab, yaitu dalam Keluaran 14, mengenai bagaimana Allah menolong bangsa Israel yang saat itu berada dalam kesulitan besar. Pada saai itu bangsa Israel baru saja keluar dari tanah Mesir tempat mereka cukup lama diperbudak. Namun, baru saja bangsa Israel keluar dari Mesir, Firaun, raja Mesir , menginginkan bangsa Israel kembali ke Mesir untuk diperbudak lagi. Oleh karena itu, Firaun dengan membawa pasukannya, mengejar bangsa Israel. Padahal, kalau bangsa Israel tidak lari, jelas akan tertangkap oleh Firaun dengan pasukannya. Namun, jika maju terus, dihadapannya terbentang Laut Teberau. Maju kena, mundur kena! Bangsa Israel terjebak dalam kesulitan yang mahaberat. Menurut perhitungan manusiawi, jelas bangsa Israel mustahil dapat lepas dari kesulitan besar itu. Bangsa Israel mengalami jalan buntu! Namun, Allah tidak mengenal jalan buntu! Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dengan perbuatan-Nya yang ajaib, Allah melepaskan bangsa Israel dari kesulitan besar itu. Allah melepaskan bangsa Israel dari kesulitan besar itu. Allah, dengan kuasa-Nya, membela air Laut Teberau, sehingga bangsa Israel bisa melewati Laut Teberau itu. Ketika bala tentara Mesir mengikutinya, Allah membuat air Laut Teberau berbalik seperti semula dan menenggelamkan mereka. Bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Kita tentu juga masih ingat kesaksian Alkitab dalam Lukas 1:26-37 mengenai pemberitahuan kepada Maria tentang kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Allah mengutus malaikat Gabriel untuk memberi tahu perawan Maria bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, yaitu Yesus. Tentu saja Maria terkejut dan heran. Bagaiman mungkin ia yang masih perawan dan belum bersuami akan mengandung?! Menurut perhitngan manusiawi hal itu mustahil! Bukankah seorang perempuan baru bisa mengandung kalau sudah melakukan hubungan seksual layaknya suami-istri? Namun, malaikat Gabriel mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dan memang benar bahwa kenyataannya Maria mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki yang diberi nama Yesus.
Dua peristiwa dalam Alkitab tersebut bukan sekedar cerita, melainkan sungguh-sungguh menyatakan kuasa Allah yang hebat. Menyatakan bahwa Allah berkuasa melakukan apa pun yang menurut perhitungan akal dan kemampuan manusia mustahil. Kita mempercainya? Di sinilah letak penentunya! Artinya, ketika kita memandang dua peristiwa kesaksian dalam Alkitab tersebut sekedar cerita omong kosong masa lalu, kita tidak akan memperoleh apa-apa dari kesaksian tersebut. Namaun, ketika kita sungguh-sungguh mempercayai kesaksian Alkitab tersebut sebagai kesaksian yang menyatakan bahwa Allah mampu atau berkuasa melakukan segala sesuatu, meskipun menurut perhitungan akal dan kemapuan manusia mustahil, maka keyakinan seperti itulah yang membuat kita bisa menghadapi kesulitan hidup dengan senyum, betapapun beratnya. Karena dari kesaksian itu kita ditunjukan bahwa Allah mampu dan berkuasa melepaskan kita dari segala macam persoalan hidup yang sedang kita hadapi, bagi Allah tidak mustahil untuk menyelesaikannya. Allah tidak mengenal jalan buntu!
Bahkan, mengenai dosa kita pun, Allah mampu membereskannya. Padahal, kita sendiri atau siapa pun selain Allah, mustahil mampu memberekan dosa kita. Dengan jalan apa pun, atas dasar upaya kita sendiri untuk menghapus dosa kita, selain menemui jalan buntu. Namun, Allah berkuasa menghapus segala dosa kita. Apa pun dosa kita! Dan, itu sudah dilakukan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena itu, segala persoalan yang sedang kita hadapi, betapapun berat dan rumitnya, bersama Allah, hadapilah dengan senyum! Semua pasti teratasi! Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil! Hanya ada satu hal yang mustahil bagi Allah. Apa itu? Renungkanlah cerita berikut ini. Seorang guru agama kristiani sedang mengajar tentang pribadi Allah. Guru itu berkata kepada para siswanya, “Hari ini kita akan mempelajari pribadi Allah. Menurut kalian bagaimana pribadi Allah itu?” Seorang siswa dengan penuh percaya diri menjawab, “ Allah itu Mahakuasa! Tidak ada yang mustahil bagi Allah!” Sang guru dengan cepat menanggapi, “O… tidak! Ada satu hal yang mustahil bagi Allah! Siswa itu dengan cepat pula bertanya, “Apa itu?” Guru agama itu menjawab, “Allah mustahil berbuat dosa dan kejahatan!” Benar juga, ya….?!
-Lukas 1;37
Bagaimana rasanya menghadapi masalah atau kesulitan hidup yang mahaberat? Segala upaya telah dilakukan habis-habisan, tetapi mengalami jalan buntu. Kepala rasanya mau pecah. Dada terasa sesak, sulit bernapas. Gelisah, sulit tidur. Makan terasa tidak enak. Hidup terasa gelap. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tidak bisa tersenyum!
Memang! Begitulah jika kita mengalami jalan buntuh dalam mengatasi persoalan hidup yang rumit dan berat. Sepertinya sudah tidak ada yang bisa kita harapkan lagi. Kita sudah kuwalahan. Kita beranggapan bahwa persoalan berat yang kita hadapi sudah tidak mungkin teratasi.
Mengapa begitu? Karena pikiran dan perasaan kita terpusat hanya pada persoalan berat yang sedang kita hadapi. Pikiran dan perasaan kita terpaku hanya pada kemampuan atau kekuatan diri sendiri, sementara kemampuan atau kekuatan kita terasa tidak mencukupi untuk menyelesaikan persoalan hidup yang mahaberat tersebut. Lalu kita merasa berada pada jalan buntu. Kita menganggap persoalan kita tidak mungkin teratasi.
Padahal, jika kita tidak terpaku hanya pada persoalan rumit yang sedang kita hadapi, dan kita juga tidak terpaku hanya pada kekuatan kita sendiri, persoalan seberat apa pun masih dapat teratasi. Lalu, kita harus bagaimana? Pusatkan perhatian dan pandanglah kepada Allah! Percaya dan berharap kepadaNya! Allah Yang Mahakuasa! Allah yang mampu mengatasi dan menyelesaikan kesulitan apa pun! Bagi Allah tidak ada yang mustahil! Meskipun menurut nalar dan perhitungan manusia mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Kita tentu masih ingat kesaksian Alkitab, yaitu dalam Keluaran 14, mengenai bagaimana Allah menolong bangsa Israel yang saat itu berada dalam kesulitan besar. Pada saai itu bangsa Israel baru saja keluar dari tanah Mesir tempat mereka cukup lama diperbudak. Namun, baru saja bangsa Israel keluar dari Mesir, Firaun, raja Mesir , menginginkan bangsa Israel kembali ke Mesir untuk diperbudak lagi. Oleh karena itu, Firaun dengan membawa pasukannya, mengejar bangsa Israel. Padahal, kalau bangsa Israel tidak lari, jelas akan tertangkap oleh Firaun dengan pasukannya. Namun, jika maju terus, dihadapannya terbentang Laut Teberau. Maju kena, mundur kena! Bangsa Israel terjebak dalam kesulitan yang mahaberat. Menurut perhitungan manusiawi, jelas bangsa Israel mustahil dapat lepas dari kesulitan besar itu. Bangsa Israel mengalami jalan buntu! Namun, Allah tidak mengenal jalan buntu! Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dengan perbuatan-Nya yang ajaib, Allah melepaskan bangsa Israel dari kesulitan besar itu. Allah melepaskan bangsa Israel dari kesulitan besar itu. Allah, dengan kuasa-Nya, membela air Laut Teberau, sehingga bangsa Israel bisa melewati Laut Teberau itu. Ketika bala tentara Mesir mengikutinya, Allah membuat air Laut Teberau berbalik seperti semula dan menenggelamkan mereka. Bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Kita tentu juga masih ingat kesaksian Alkitab dalam Lukas 1:26-37 mengenai pemberitahuan kepada Maria tentang kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Allah mengutus malaikat Gabriel untuk memberi tahu perawan Maria bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, yaitu Yesus. Tentu saja Maria terkejut dan heran. Bagaiman mungkin ia yang masih perawan dan belum bersuami akan mengandung?! Menurut perhitngan manusiawi hal itu mustahil! Bukankah seorang perempuan baru bisa mengandung kalau sudah melakukan hubungan seksual layaknya suami-istri? Namun, malaikat Gabriel mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dan memang benar bahwa kenyataannya Maria mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki yang diberi nama Yesus.
Dua peristiwa dalam Alkitab tersebut bukan sekedar cerita, melainkan sungguh-sungguh menyatakan kuasa Allah yang hebat. Menyatakan bahwa Allah berkuasa melakukan apa pun yang menurut perhitungan akal dan kemampuan manusia mustahil. Kita mempercainya? Di sinilah letak penentunya! Artinya, ketika kita memandang dua peristiwa kesaksian dalam Alkitab tersebut sekedar cerita omong kosong masa lalu, kita tidak akan memperoleh apa-apa dari kesaksian tersebut. Namaun, ketika kita sungguh-sungguh mempercayai kesaksian Alkitab tersebut sebagai kesaksian yang menyatakan bahwa Allah mampu atau berkuasa melakukan segala sesuatu, meskipun menurut perhitungan akal dan kemapuan manusia mustahil, maka keyakinan seperti itulah yang membuat kita bisa menghadapi kesulitan hidup dengan senyum, betapapun beratnya. Karena dari kesaksian itu kita ditunjukan bahwa Allah mampu dan berkuasa melepaskan kita dari segala macam persoalan hidup yang sedang kita hadapi, bagi Allah tidak mustahil untuk menyelesaikannya. Allah tidak mengenal jalan buntu!
Bahkan, mengenai dosa kita pun, Allah mampu membereskannya. Padahal, kita sendiri atau siapa pun selain Allah, mustahil mampu memberekan dosa kita. Dengan jalan apa pun, atas dasar upaya kita sendiri untuk menghapus dosa kita, selain menemui jalan buntu. Namun, Allah berkuasa menghapus segala dosa kita. Apa pun dosa kita! Dan, itu sudah dilakukan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena itu, segala persoalan yang sedang kita hadapi, betapapun berat dan rumitnya, bersama Allah, hadapilah dengan senyum! Semua pasti teratasi! Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil! Hanya ada satu hal yang mustahil bagi Allah. Apa itu? Renungkanlah cerita berikut ini. Seorang guru agama kristiani sedang mengajar tentang pribadi Allah. Guru itu berkata kepada para siswanya, “Hari ini kita akan mempelajari pribadi Allah. Menurut kalian bagaimana pribadi Allah itu?” Seorang siswa dengan penuh percaya diri menjawab, “ Allah itu Mahakuasa! Tidak ada yang mustahil bagi Allah!” Sang guru dengan cepat menanggapi, “O… tidak! Ada satu hal yang mustahil bagi Allah! Siswa itu dengan cepat pula bertanya, “Apa itu?” Guru agama itu menjawab, “Allah mustahil berbuat dosa dan kejahatan!” Benar juga, ya….?!
Selasa, 11 Mei 2010
Saat Memberi Saat Menerima,..
Saat engkau meneguhkan hati sahabatmu yang berada dalam ketakutan, sebenarnya engkau pun sedang menerima ketakutannya. Saat ketakutannya engkau terima, saat itulah juga, engkau mengganti ketakutannya dengan keberanianmu.
Saat isterimu mengandung anakmu, isterimu memberi makan janin itu lewat tali pusar dalam rahimnya; selama dalam kandungannya itulah, sebagai suami isteri, kalian sebenarnya menerima seorang manusia yang sudah pasrah total untuk diperlakukan apapun juga: mau serius dicintai, dirawat ataupun tidak! Itulah caranya seorang bayi dalam kandungan ibunya mencintai ibu dan ayahnya, bukan dengan memberi tapi menerima apapun perlakuan orang tuanya.
Saat engkau memberikan uang belanja kepada isterimu, saat itu jugalah engkau sebenarnya menerima kerendahan hati isterimu untuk diberi nafkah hidup.
Saat engkau merawat suami, isteri dan anak-anakmu yang sedang sakit, saat itulah juga engkau belajar menerima keterbatasan kesehatan mereka, sehingga engkaupun belajar kerepotan agar hidup tetap berlangsung.
Saat engkau marah kepada anak-anakmu, saat itu juga engkau menerima telinga anak-anakmu untuk mendengarkan kata-katamu dengan penuh kesabaran, walaupun menyakitkan sekalipun.
Saat engkau marah kepada pasangan hidupmu, dan karena itu dia diam, saat itu jugalah engkau menerima kesediaannya menerima kata-kata kasar, mungkin pedas, dan menyakitkan, sampai pasanganmu tidak sanggup untuk membalasnya.
Saat engkau dendam kepada orang serumah, sampai engkau tidak mau berbicara dengan mereka; saat-saat itulah engkau sebenarnya menerima kegelisahan mereka karena merasa tidak lagi dipercaya!
Saat engkau mengampuni pasangan hidupmu dan anak-anakmu setelah konflik akibat berbagai macam masalah, saat itu jugalah engkau menerima kegembiraan mereka karena masih dipercaya walaupun telah berbuat salah!
Saat engkau percaya pada saudaramu, bahkan menaruh harapan bahwa saudaramu dapat berkembang meski dia itu rapuh; saat itulah sebenarnya engkau menerima kerapuhannya menjadi milikmu, dan engkau memberikan harapanmu sehingga berkobar dalam hatinya!
Saat engkau memberi harapan kepada saudaramu, saat itu jugalah engkau melepaskan kacamata hitammu yang lama dan engkau mengganti dengan "kacamata baru" dari saudaramu. Saat itu jugalah engkau mengawali usaha untuk mengampuninya.
Saat Tuhan mengampunimu, saat itu jugalah engkau menerima kehendak bebas dari-Nya agar engkau merasa sungguh dipercaya untuk menentukan keputusanmu demi kepentingan- Nya, yakni kepentingan untuk mengasihi sesama seperti Ia mengasihi.
Saat engkau diampuni oleh Tuhan, saat itu pulalah dengan tulus, Tuhan menerima akibat dosa kita, agar hati kita ditukar dengan hati-Nya. Karena itu semoga hati kita tidak hanya menjadi seperti Hati Kristus yang mahakudus, melainkan akan "menjadi hati-Nya"!
Saat Kristus menjadi "jantung hati"-mu, saat itu jugalah Kristus menempatkan dirimu pada "Jantung Hati-Nya"
Saat isterimu mengandung anakmu, isterimu memberi makan janin itu lewat tali pusar dalam rahimnya; selama dalam kandungannya itulah, sebagai suami isteri, kalian sebenarnya menerima seorang manusia yang sudah pasrah total untuk diperlakukan apapun juga: mau serius dicintai, dirawat ataupun tidak! Itulah caranya seorang bayi dalam kandungan ibunya mencintai ibu dan ayahnya, bukan dengan memberi tapi menerima apapun perlakuan orang tuanya.
Saat engkau memberikan uang belanja kepada isterimu, saat itu jugalah engkau sebenarnya menerima kerendahan hati isterimu untuk diberi nafkah hidup.
Saat engkau merawat suami, isteri dan anak-anakmu yang sedang sakit, saat itulah juga engkau belajar menerima keterbatasan kesehatan mereka, sehingga engkaupun belajar kerepotan agar hidup tetap berlangsung.
Saat engkau marah kepada anak-anakmu, saat itu juga engkau menerima telinga anak-anakmu untuk mendengarkan kata-katamu dengan penuh kesabaran, walaupun menyakitkan sekalipun.
Saat engkau marah kepada pasangan hidupmu, dan karena itu dia diam, saat itu jugalah engkau menerima kesediaannya menerima kata-kata kasar, mungkin pedas, dan menyakitkan, sampai pasanganmu tidak sanggup untuk membalasnya.
Saat engkau dendam kepada orang serumah, sampai engkau tidak mau berbicara dengan mereka; saat-saat itulah engkau sebenarnya menerima kegelisahan mereka karena merasa tidak lagi dipercaya!
Saat engkau mengampuni pasangan hidupmu dan anak-anakmu setelah konflik akibat berbagai macam masalah, saat itu jugalah engkau menerima kegembiraan mereka karena masih dipercaya walaupun telah berbuat salah!
Saat engkau percaya pada saudaramu, bahkan menaruh harapan bahwa saudaramu dapat berkembang meski dia itu rapuh; saat itulah sebenarnya engkau menerima kerapuhannya menjadi milikmu, dan engkau memberikan harapanmu sehingga berkobar dalam hatinya!
Saat engkau memberi harapan kepada saudaramu, saat itu jugalah engkau melepaskan kacamata hitammu yang lama dan engkau mengganti dengan "kacamata baru" dari saudaramu. Saat itu jugalah engkau mengawali usaha untuk mengampuninya.
Saat Tuhan mengampunimu, saat itu jugalah engkau menerima kehendak bebas dari-Nya agar engkau merasa sungguh dipercaya untuk menentukan keputusanmu demi kepentingan- Nya, yakni kepentingan untuk mengasihi sesama seperti Ia mengasihi.
Saat engkau diampuni oleh Tuhan, saat itu pulalah dengan tulus, Tuhan menerima akibat dosa kita, agar hati kita ditukar dengan hati-Nya. Karena itu semoga hati kita tidak hanya menjadi seperti Hati Kristus yang mahakudus, melainkan akan "menjadi hati-Nya"!
Saat Kristus menjadi "jantung hati"-mu, saat itu jugalah Kristus menempatkan dirimu pada "Jantung Hati-Nya"
KISAH ALERGI HIDUP,..
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalirterus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalirterus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP
Senin, 26 April 2010
5 Hal Perusak Energi Positif
Setiap hal yang kita lakukan pasti berefek pada jumlah energi positif yang kita miliki. Meskipun kita makan makanan sehat, olahraga secara teratur tetapi jika dan kebiasaan Anda buruk, maka energi akan berkurang dan membuat tubuh selalu merasa lelah.
Hal itu karena pikiran kerap dipenuhi dengan sesuatu yang negatif. Anda tentu penasaran hal apa saja yang menguras energi positif dan berdampak buruk pada keadaan psikis dan fisik.
1. Menunda pekerjaan.
Banyak pekerjaan atau hal yang bisa dilakukan secepatnya tetapi Anda lebih memilih untuk menundanya. Hal ini sangat menyita energi karena jika sewaktu-waktu pekerjaan atau hal tersebut harus diselesaikan segera, waktu dan pikiran Anda pasti akan terkuras maksimal untuk menyelesaikannya. Jika Ada yang belum selesai dan tertunda pasti ada yang mengganjal dan menyita pikiran Anda, hal ini juga membuat konsentrasi dan energi berkurang.
2. Mengeluh.
Wajar jika Anda sesekali mengeluh tentang suatu hal tetapi jika setiap hari diisi keluhan, maka Anda tidak aakan mendapatkan apa-apa. Mengeluh artinya membuang energi positif. Jangan sampai setiap hari berisi keluhan karena hanya akan membuat lelah. Lagipula tidak akan ada yang berubah hanya karena keluhan tanpa tindakan nyata.
3. Berdekatan dengan orang yang selalu berpikiran negatif.
Berdekatan dengan orang yang memandang segala hal dari sisi negatif juga sangat mempengaruhi energi dan pikiran Anda. Dengan mendengarkan cerita dan pernyataan yang selalu negatif pasti Anda akan merasa lelah. Pikiran Anda pun bisa terpengaruh menjadi negatif.
4. Selalu membandingkan diri sendiri dan orang lain.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seburuk-buruknya orang pun pasti memiliki sisi baik. Dengan selalu membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang energi dengan percuma.
5. Diet sembarangan.
Pola makan yang tidak baik bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman, yang secara tak langsung bisa membuat emosi tidak stabil. Saat kondisi mood sedang tidak baik, Anda perlu asupan nutrisi khusus. Lakukan diet dengan mengonsumsi makanan yang bisa membuat perasaan Anda lebih nyaman.
Hal itu karena pikiran kerap dipenuhi dengan sesuatu yang negatif. Anda tentu penasaran hal apa saja yang menguras energi positif dan berdampak buruk pada keadaan psikis dan fisik.
1. Menunda pekerjaan.
Banyak pekerjaan atau hal yang bisa dilakukan secepatnya tetapi Anda lebih memilih untuk menundanya. Hal ini sangat menyita energi karena jika sewaktu-waktu pekerjaan atau hal tersebut harus diselesaikan segera, waktu dan pikiran Anda pasti akan terkuras maksimal untuk menyelesaikannya. Jika Ada yang belum selesai dan tertunda pasti ada yang mengganjal dan menyita pikiran Anda, hal ini juga membuat konsentrasi dan energi berkurang.
2. Mengeluh.
Wajar jika Anda sesekali mengeluh tentang suatu hal tetapi jika setiap hari diisi keluhan, maka Anda tidak aakan mendapatkan apa-apa. Mengeluh artinya membuang energi positif. Jangan sampai setiap hari berisi keluhan karena hanya akan membuat lelah. Lagipula tidak akan ada yang berubah hanya karena keluhan tanpa tindakan nyata.
3. Berdekatan dengan orang yang selalu berpikiran negatif.
Berdekatan dengan orang yang memandang segala hal dari sisi negatif juga sangat mempengaruhi energi dan pikiran Anda. Dengan mendengarkan cerita dan pernyataan yang selalu negatif pasti Anda akan merasa lelah. Pikiran Anda pun bisa terpengaruh menjadi negatif.
4. Selalu membandingkan diri sendiri dan orang lain.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seburuk-buruknya orang pun pasti memiliki sisi baik. Dengan selalu membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang energi dengan percuma.
5. Diet sembarangan.
Pola makan yang tidak baik bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman, yang secara tak langsung bisa membuat emosi tidak stabil. Saat kondisi mood sedang tidak baik, Anda perlu asupan nutrisi khusus. Lakukan diet dengan mengonsumsi makanan yang bisa membuat perasaan Anda lebih nyaman.
Rabu, 21 April 2010
"The Horror of the Cross" (KENGERIAN SALIB)
Orang-orang kuno berbicara tentang penyaliban dengan penuh kengerian. Sejarah yang ditulis oleh Cicero mengungkapkan perasaan jijik orang terhadap kematian di atas salib. Hukuman tersebut merupakan "hukuman paling puncak dan paling ekstrim terhadap budak" (Servitutis ekstrem summumque supplicium, dari buku Against Verres 2.5.169), "hukuman yang paling kejam dan yang paling menjijikkan" (crudelissimum taeterrimumque supplicium, ibid. 2.5. 165.).
Yosefus menyebutnya "kematian yang paling malang". (Perang Yahudi 7:203.)
Tuhan Yesus tinggal di wilayah Romawi yang akrab dengan penyaliban. Hukuman ekstrim ini adalah metode penaklukan Roma, seperti kisah Yosefus tentang wilayah Palestina yang bergejolak berulang kali menunjukkannya. Ketika pemberontakan muncul di Yerusalem setelah kematian Herod Agung, gubernur Suriah menyiapkan pasukannya berbaris melalui Galilea ke Yerusalem dan memerintahkan 2.000 pemberontak untuk disalib. (Antiquities 17:295.)
Ketika ancaman Perang Yahudi muncul pada tahun 66, prokurator Florus Gessius membalas dengan membantai dengan sembarangan di jalan-jalan Yerusalem, menangkap banyak warga negara Romawi, dan memerintahkan mereka harus "dicambuk terlebih dahulu kemudian disalibkan." (Perang Yahudi 2:306) Puncak perang tersebut adalah pengepungan tahun 70 M, ketika Yerusalem sedang terisolasi oleh Titus, jenderal Romawi yang terkenal yang kemudian menjadi kaisar Romawi berikutnya. Kelaparan memaksa orang-orang miskin untuk mencuri keluar dari benteng mereka untuk mencari makanan. Dengan gaya teror khas Romawi, ratusan orang-orang miskin ini dibuat menjadi contoh sehari-hari dengan disiksa dan kemudian disalibkan dengan terlihat jelas dari tembok kota. (Perang Yahudi 5:449.)
Ketika Palestina menjadi wilayah Romawi salib diperkenalkan sebagai bentuk hukuman, khususnya bagi mereka yang tidak dapat membuktikan kewarganegaraan Romawi mereka; di kemudian hari hukuman tersebut hanya diperuntukkan bagi pencuri dan pembuat keonaran.
Hukuman salib dijatuhkan juga secara teratur untuk kejahatan seperti perampokan dan pembajakan. Menurut adat Romawi, penyaliban selalu didahului oleh penderaan [pencambukan]; setelah hukuman pendahuluan tersebut, si terhukum harus membawa kayu salib, atau setidaknya bagian balok yang melintang, ke tempat eksekusi, dihadapkan pada ejekan dan hinaan rakyat. Setibanya di tempat pelaksanaan hukuman mati, si terpidana dipakukan di salib lalu diangkat. Tak lama kemudian, si terhukum, sepenuhnya telanjang, terikat di atas dengan tali. Ia kemudian direkatkank dengan paku ke kayu salib. Akhirnya, sebuah plakat disebut "titulus" bertuliskan nama si terhukum dan kalimatnya, ditempatkan di bagian atas salib.
Yosefus menyebutnya "kematian yang paling malang". (Perang Yahudi 7:203.)
Tuhan Yesus tinggal di wilayah Romawi yang akrab dengan penyaliban. Hukuman ekstrim ini adalah metode penaklukan Roma, seperti kisah Yosefus tentang wilayah Palestina yang bergejolak berulang kali menunjukkannya. Ketika pemberontakan muncul di Yerusalem setelah kematian Herod Agung, gubernur Suriah menyiapkan pasukannya berbaris melalui Galilea ke Yerusalem dan memerintahkan 2.000 pemberontak untuk disalib. (Antiquities 17:295.)
Ketika ancaman Perang Yahudi muncul pada tahun 66, prokurator Florus Gessius membalas dengan membantai dengan sembarangan di jalan-jalan Yerusalem, menangkap banyak warga negara Romawi, dan memerintahkan mereka harus "dicambuk terlebih dahulu kemudian disalibkan." (Perang Yahudi 2:306) Puncak perang tersebut adalah pengepungan tahun 70 M, ketika Yerusalem sedang terisolasi oleh Titus, jenderal Romawi yang terkenal yang kemudian menjadi kaisar Romawi berikutnya. Kelaparan memaksa orang-orang miskin untuk mencuri keluar dari benteng mereka untuk mencari makanan. Dengan gaya teror khas Romawi, ratusan orang-orang miskin ini dibuat menjadi contoh sehari-hari dengan disiksa dan kemudian disalibkan dengan terlihat jelas dari tembok kota. (Perang Yahudi 5:449.)
Ketika Palestina menjadi wilayah Romawi salib diperkenalkan sebagai bentuk hukuman, khususnya bagi mereka yang tidak dapat membuktikan kewarganegaraan Romawi mereka; di kemudian hari hukuman tersebut hanya diperuntukkan bagi pencuri dan pembuat keonaran.
Hukuman salib dijatuhkan juga secara teratur untuk kejahatan seperti perampokan dan pembajakan. Menurut adat Romawi, penyaliban selalu didahului oleh penderaan [pencambukan]; setelah hukuman pendahuluan tersebut, si terhukum harus membawa kayu salib, atau setidaknya bagian balok yang melintang, ke tempat eksekusi, dihadapkan pada ejekan dan hinaan rakyat. Setibanya di tempat pelaksanaan hukuman mati, si terpidana dipakukan di salib lalu diangkat. Tak lama kemudian, si terhukum, sepenuhnya telanjang, terikat di atas dengan tali. Ia kemudian direkatkank dengan paku ke kayu salib. Akhirnya, sebuah plakat disebut "titulus" bertuliskan nama si terhukum dan kalimatnya, ditempatkan di bagian atas salib.
KEBESARAN JIWA SEORANG IBU
Sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.
Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.
Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.
Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.
Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.
Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.
Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.
Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!
Pada hari Yesus disalibkan, kekelaman menutupi matahari dan membungkus Yerusalem dalam kegelapan yang jahat. Seolah-olah setiap orang bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kegelapan, iblis dan maut telah mengalahkan Anak Allah untuk selamanya.
Perlu saya akui bahwa ketiga D (darkness/kegelapan, devil/iblis dan death/maut) itu melandasi hampir semua kekuatiran yang saya alami. Saya menguatirkan death [maut] - terutama kematian orang-orang yang saya kasihi. Saya kuatir pada darkness [kegelapan], baik yang alamiah maupun yang rohaniah. Saya juga kuatir pada hal-hal yang akan dilakukan oleh devil [iblis].
Iblis, kegelapan dan maut...ketiganya bekerja dengan giat di sepanjang pelayanan Yesus yang berpuncak pada hari yang panjang dan menyengsarakan itu. Namun, hal yang luput dari pengamatan orang-orang adalah bahwa kematian Mesias itu justru menghunjam jantung sang iblis.
Tiga hari setelah Yesus dibaringkan dalam kubur, pada Minggu pagi, Maria Magdalena dan beberapa perempuan yang lain pergi kekuburan. Saat mendekati kuburan tersebut, mereka dapati bahwa batu besar penutup pintu kuburan telah tersingkir. Maria Magdalena segera lari memberitahukan Petrus dan Yohanes, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." (Yohanes 20:2).
Saat Maria Magdalena pergi, salah satu dari perempuan yang tinggal itu mendekati kuburan. Lubang pintu kuburan itu terbuka. Bagian dalam kuburan itu sendiri tetap seperti sedia kala, hanya saja sudah kosong. Tidak ada jenazah di sana. Mereka terheran sesaat, sampai kemudian menyadari keberadaan dua malaikat di belakang mereka. Yang satu duduk di atas batu sedangkan yang seorang lagi berdiri di dekatnya. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea." (Lukas 24:5-6).
Saat mereka berlari dari kuburan itu, mereka bertemu seseorang yang meredakan ketakutan mereka. "Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: 'Salam bagimu.' ... 'Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.'" (Matius 28:9-10).
Saat para perempuan itu menceritakan apa yang telah terjadi, para murid menganggap itu hanya omongan orang gila, celotehan tanpa arti. Sementara itu, Maria Magdalena menemui Petrus dan Yohanes. Pada awalnya, mereka juga mengabaikan ceritanya, namun rasa ingin tahu akhirnya mendorong mereka untuk lari ke kuburan.
Saat Yohanes tiba, dia berhenti di pintu masuk dan melihat ke dalam. Petrus berlari masuk ke dalam dan dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Saat masuk bersama Petrus ke dalam kuburan, saya senang membayangkan bahwa Yohanes berbisik kepada Petrus, "Dia hidup!"
Saat berita itu tersebar, banyak murid lalu berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Dalam keadaan pintu rumah itu terkunci, tiba-tiba terdengar suara di tengah ruangan, "'Damai sejahtera bagi kamu!' Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka." (Yohanes 20:19-20). Lalu mereka percaya.
Sayangnya, Tomas - salah satu dari kedua belas murid - saat itu tidak berada di sana. Saat dia tiba, semua orang bercerita kepadanya tentang kejadian tersebut. Tomas tidak mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25). Delapan hari kemudian, ketika Tomas sedang berada di rumah itu, dengan pintu yang terkunci lebih rapat dari sebelumya, "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yohanes 20:26). Yesus kembali berdiri di tengah ruangan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Tomas tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengangkat satu jari pun. Dia menjawab seperti lazimnya seorang murid Yesus mampu menjawab, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28).
Tanggapan orang-orang yang akrab dengan Yesus, pada Minggu pagi itu, sama dengan reaksi yang saya temui setiap hari sebagai seorang pemberita kabar baik di zaman modern ini.
Ada yang langsung percaya. Mereka menerima informasi tersebut, mengingat lagi akan hal-hal yang telah dinubuatkan oleh Yesus selama pelayanan-nya, dan menerima kebangkitan-nya sebagai hal yang benar-benar terjadi.
Ada yang percaya lewat bukti tidak langsung. Awalnya mereka meragukan cerita ini, namun setelah menerima informasi lainnya - misalnya dengan melihat kuburan yang telah kosong itu - lalu tahulah mereka bahwa Yesus telah bangkit.
Ada yang percaya lewat bukti-bukti langsung. Mereka baru percaya bahwa Yesus telah bangkit setelah melihat Kristus secara langsung.
Demon (iblis), darkness (kegelapan) dan death (maut) telah dikalahkan, namun mereka masih melampiaskan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap ciptaan Allah. Tetapi jangan kuatir...Yesus hidup dengan hidup baru yang benar-benar ingin dia bagikan kepada siapa saja yang percaya. Apakah Anda termasuk yang percaya? Atau apakah Anda sekarang sadar bahwa Anda butuh Juruselamat? Kesadaran yang bagus buat Anda!
Devil [iblis], darkness [kegelapan] dan death [maut] boleh saja menggertak dan membual, kepedihan hidup mungkin masih akan menghunjam dalam beberapa waktu, akan tetapi bala tentara kejahatan sedang menghembuskan nafas terakhir mereka. Jadi, tak ada yang perlu dikuatirkan... Dia telah bangkit! Dia memang telah bangkit!
Perlu saya akui bahwa ketiga D (darkness/kegelapan, devil/iblis dan death/maut) itu melandasi hampir semua kekuatiran yang saya alami. Saya menguatirkan death [maut] - terutama kematian orang-orang yang saya kasihi. Saya kuatir pada darkness [kegelapan], baik yang alamiah maupun yang rohaniah. Saya juga kuatir pada hal-hal yang akan dilakukan oleh devil [iblis].
Iblis, kegelapan dan maut...ketiganya bekerja dengan giat di sepanjang pelayanan Yesus yang berpuncak pada hari yang panjang dan menyengsarakan itu. Namun, hal yang luput dari pengamatan orang-orang adalah bahwa kematian Mesias itu justru menghunjam jantung sang iblis.
Tiga hari setelah Yesus dibaringkan dalam kubur, pada Minggu pagi, Maria Magdalena dan beberapa perempuan yang lain pergi kekuburan. Saat mendekati kuburan tersebut, mereka dapati bahwa batu besar penutup pintu kuburan telah tersingkir. Maria Magdalena segera lari memberitahukan Petrus dan Yohanes, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." (Yohanes 20:2).
Saat Maria Magdalena pergi, salah satu dari perempuan yang tinggal itu mendekati kuburan. Lubang pintu kuburan itu terbuka. Bagian dalam kuburan itu sendiri tetap seperti sedia kala, hanya saja sudah kosong. Tidak ada jenazah di sana. Mereka terheran sesaat, sampai kemudian menyadari keberadaan dua malaikat di belakang mereka. Yang satu duduk di atas batu sedangkan yang seorang lagi berdiri di dekatnya. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea." (Lukas 24:5-6).
Saat mereka berlari dari kuburan itu, mereka bertemu seseorang yang meredakan ketakutan mereka. "Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: 'Salam bagimu.' ... 'Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.'" (Matius 28:9-10).
Saat para perempuan itu menceritakan apa yang telah terjadi, para murid menganggap itu hanya omongan orang gila, celotehan tanpa arti. Sementara itu, Maria Magdalena menemui Petrus dan Yohanes. Pada awalnya, mereka juga mengabaikan ceritanya, namun rasa ingin tahu akhirnya mendorong mereka untuk lari ke kuburan.
Saat Yohanes tiba, dia berhenti di pintu masuk dan melihat ke dalam. Petrus berlari masuk ke dalam dan dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Saat masuk bersama Petrus ke dalam kuburan, saya senang membayangkan bahwa Yohanes berbisik kepada Petrus, "Dia hidup!"
Saat berita itu tersebar, banyak murid lalu berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Dalam keadaan pintu rumah itu terkunci, tiba-tiba terdengar suara di tengah ruangan, "'Damai sejahtera bagi kamu!' Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka." (Yohanes 20:19-20). Lalu mereka percaya.
Sayangnya, Tomas - salah satu dari kedua belas murid - saat itu tidak berada di sana. Saat dia tiba, semua orang bercerita kepadanya tentang kejadian tersebut. Tomas tidak mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25). Delapan hari kemudian, ketika Tomas sedang berada di rumah itu, dengan pintu yang terkunci lebih rapat dari sebelumya, "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yohanes 20:26). Yesus kembali berdiri di tengah ruangan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Tomas tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengangkat satu jari pun. Dia menjawab seperti lazimnya seorang murid Yesus mampu menjawab, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28).
Tanggapan orang-orang yang akrab dengan Yesus, pada Minggu pagi itu, sama dengan reaksi yang saya temui setiap hari sebagai seorang pemberita kabar baik di zaman modern ini.
Ada yang langsung percaya. Mereka menerima informasi tersebut, mengingat lagi akan hal-hal yang telah dinubuatkan oleh Yesus selama pelayanan-nya, dan menerima kebangkitan-nya sebagai hal yang benar-benar terjadi.
Ada yang percaya lewat bukti tidak langsung. Awalnya mereka meragukan cerita ini, namun setelah menerima informasi lainnya - misalnya dengan melihat kuburan yang telah kosong itu - lalu tahulah mereka bahwa Yesus telah bangkit.
Ada yang percaya lewat bukti-bukti langsung. Mereka baru percaya bahwa Yesus telah bangkit setelah melihat Kristus secara langsung.
Demon (iblis), darkness (kegelapan) dan death (maut) telah dikalahkan, namun mereka masih melampiaskan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap ciptaan Allah. Tetapi jangan kuatir...Yesus hidup dengan hidup baru yang benar-benar ingin dia bagikan kepada siapa saja yang percaya. Apakah Anda termasuk yang percaya? Atau apakah Anda sekarang sadar bahwa Anda butuh Juruselamat? Kesadaran yang bagus buat Anda!
Devil [iblis], darkness [kegelapan] dan death [maut] boleh saja menggertak dan membual, kepedihan hidup mungkin masih akan menghunjam dalam beberapa waktu, akan tetapi bala tentara kejahatan sedang menghembuskan nafas terakhir mereka. Jadi, tak ada yang perlu dikuatirkan... Dia telah bangkit! Dia memang telah bangkit!
Sabtu, 27 Maret 2010
DOSA-DOSA KECIL
Dua orang pendosa mengunjungi hamba Tuhan yang bijak dan meminta nasehatNya.
"Kami telah melakukan suatu dosa," kata mereka dan suara hati kami terganggu.
"Apa yang harus kami lakukan ?" "Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, Anakku," kata hamba Tuhan tersebut.
Pria pertama mengatakan ,"Saya melakukan suatu dosa yang berat dan mematikan."
Pria kedua berkata,"Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan."
"Baik," kata hamba Tuhan tersebut, "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa yang telah kamu lakukan !".
Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.
"Sekarang," kata hamba Tuhan tersebut, "Pergilah dan kembalikan semua batu itu tepat dimana kamu telah menemukannya!".
Pria pertama mengangkat batu besar itu dan memikulnya kembali ke tempat dimana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang telah diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu berada didalam tasnya. Katanya, "Itu pekerjaan yang sulit."
Dosa itu seperti batu-batu itu, kata hamba Tuhan bijak tersebut, Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya, tetapi dengan penyesalan yang sejati, memohon ampun dan mengakui Nama Tuhan, maka kesalahannya diampuni seluruhnya oleh Tuhan.
Tetapi pria yang terus menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu itu salah, namun semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesali sedikitpun, maka ia tetap sebagai seorang pendosa. Ia sulit membuang batu-batu itu kembali ke tempatnya dan terus menerus membawanya seumur hidup.
"Maka ketahuilah,anak-anakku," nasihat hamba Tuhan itu, "Adalah sama untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat !"
"Kami telah melakukan suatu dosa," kata mereka dan suara hati kami terganggu.
"Apa yang harus kami lakukan ?" "Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, Anakku," kata hamba Tuhan tersebut.
Pria pertama mengatakan ,"Saya melakukan suatu dosa yang berat dan mematikan."
Pria kedua berkata,"Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan."
"Baik," kata hamba Tuhan tersebut, "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa yang telah kamu lakukan !".
Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.
"Sekarang," kata hamba Tuhan tersebut, "Pergilah dan kembalikan semua batu itu tepat dimana kamu telah menemukannya!".
Pria pertama mengangkat batu besar itu dan memikulnya kembali ke tempat dimana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang telah diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu berada didalam tasnya. Katanya, "Itu pekerjaan yang sulit."
Dosa itu seperti batu-batu itu, kata hamba Tuhan bijak tersebut, Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya, tetapi dengan penyesalan yang sejati, memohon ampun dan mengakui Nama Tuhan, maka kesalahannya diampuni seluruhnya oleh Tuhan.
Tetapi pria yang terus menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu itu salah, namun semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesali sedikitpun, maka ia tetap sebagai seorang pendosa. Ia sulit membuang batu-batu itu kembali ke tempatnya dan terus menerus membawanya seumur hidup.
"Maka ketahuilah,anak-anakku," nasihat hamba Tuhan itu, "Adalah sama untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat !"
Sabtu, 20 Maret 2010
BEJANA PILIHAN
Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana.
Sambil berjalan sang Tuan melihat dan menilai bejana-bejana tersebut.
1. Bejana Emas
"Pilihlah aku," teriak bejana emas,"Aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!"
Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.
2. Bejana Perak, Ramping dan Tinggi
Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi.
"Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu."
Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga.’
3. Bejana Kaca
Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca.
"Sini! Sini!" teriak bejana itu, "aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku."
4. Bejana Kristal
"Lihatlah aku!", panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu."
5. Bejana Kayu
Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh.
"Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti."
6. Bejana Tanah Liat
Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu.
Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku.
Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, "Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu."
Demikianlah halnya dengan Tuhan. Ia mencari orang-orang yang rendah hati dan mau berjalan menurut kehendak dan kemauan Tuhan.
Dan tentunya orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.
Yesus Memberkati.
Sambil berjalan sang Tuan melihat dan menilai bejana-bejana tersebut.
1. Bejana Emas
"Pilihlah aku," teriak bejana emas,"Aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!"
Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.
2. Bejana Perak, Ramping dan Tinggi
Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi.
"Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu."
Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga.’
3. Bejana Kaca
Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca.
"Sini! Sini!" teriak bejana itu, "aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku."
4. Bejana Kristal
"Lihatlah aku!", panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu."
5. Bejana Kayu
Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh.
"Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti."
6. Bejana Tanah Liat
Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu.
Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku.
Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, "Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu."
Demikianlah halnya dengan Tuhan. Ia mencari orang-orang yang rendah hati dan mau berjalan menurut kehendak dan kemauan Tuhan.
Dan tentunya orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.
Yesus Memberkati.
Langganan:
Komentar (Atom)