Tampilkan postingan dengan label Ketika Hati Tercabik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketika Hati Tercabik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Menjaga Cahaya Hati..

Friends.. Kalau kamu mau, bisa lho gelap jadi terang lagi. Bisa lho sedih jadi happy lagi. Bisa lhn.. angin dan hujan yang gede itu nggak bikin kamu kedinginan lagi. Kayak nggak tahu saja sih.. Kan kamu punya "The Best Friend" yang paling "The Best" (idih.. nggak benar ya bahasanya?). Dia punya banyak cahaya buat kamu, yang bikin kamu... "sudah lupa tuh". Dia punya stok happy yang mengusir sedihmu. Dia punya segalanya deh.. Siapa lagi kalau bukan Tuhan, yang terbaik seduni. Kalau kata orang Ambom.. Seng ada lawang! Nggak ada yang nggak mungkin kalau Tuhan sudah turun tangan. Coba deh ingat-ingat, Tuhan kan sudah ngasih kamu teladan yang bisa dicontoh (he... he... nggak perlu diingat-ingat juga kamu sudah tahu ya). Malah beliau tuh lebih susah lagi hidupnya daripada aku dan kamu.

Kesempatan Emas Itu: Hidup!

Ayo bangkit, friends! Nggak usah pakai acara bunuh diri segala. Itu mah bukan level kamu atuh! Apa kamu mau nyesal seperti mereka? Nyesal saat segala perkara sudah di pjttus? Nyesel yang sudah nggak ada gunanya lag, friends! Jangankan nyesel di sana, nyesel pas nyawanya sudah dipegang malaikat, sampai di tenggorokan, sudah nggak berguna lagi kok. Mumpung kamu masih hidup, berjuanglah friends! Mau sedihnya kazak apa, yang penting masih hidup gitu lho.. Masih ada kesempatan! Namanya hidup.. sudah biasa lagi.. ada siang dan malam. Kamu nggak boleh egois juga dong! Kamu kudu berbagi matahari dengan yang lain. Makanya, datang malam, biar kamu juga ngerasain gimana dinginnya malam. Lagian, apalah artinya malam yang gelap, malam yang dingin, kalau hati kamu tetap terang, tetap hangat (cieee!). Matahari boleh saja pergi meninggalkan siang hidup kamu sehingga mendung pun tiba, tetapi.. Matahari di hati kamu nggak akan pernah pergi dan selalu menghangatkan! Senang boleh menghilang dari hidupmu sementara berganti sedih, tetapi.. hatimu tetap tegar bercahaya. Itu, kalau kamu mau menjaga matahari di hatimu. Mau tahu gimana caranya agar matahari di hatimu tetap terjaga? Pantau terus bLog ini, he he

Menjadi Hidup Adalah Kuasanya

Di antara kamu mungkin bilang, "kita kan nggak minta hidup kok"! Yee.. siapa yang berkuasa di sini? Tuhan kan? Terserah Tuhan lagi.. Dahulu.. waktu mereka lagi happy-happy, lupa deh.. ngerasa hidup ini indah, tanpa pernah bersyukur kepada Tuhan. Giliran sedih, putus asa begitu saja, pakai nyesel lagi, kenapa harus hidup di dunia ini. Bunuh diri deh jadinya.. minum racun, gantung diri, nyobek nadi.Nah lho.. giliran di alam setelah dunia, baru nyesel deh.. gara-gara ditolak langit. Terus.. di alam kubur nggak bisa menjawab pertanyaan malaikat munkar dan malaikat nakir. Nyesl.. karena ternyata alam akhirat itu ada. Nyesel.. karena nggak memanfaatkan hidup di dunia dengan sebaik-baiknya di jalan Tuhan.

Bunug Diri? Nggak lah ya..

Nggak bisa dong menyerah begitu saja, apalagi memilih nggak hidup lagi alias bunuh diri. Seperti yang sudah di lakukan oleh teman-teman kita tempo hari? Hhh! Mudah-mudahan sekarang sudah berkurang ya, teman-teman yang pada bunuh diri baik secara langsung yaitu mati di tempat maupun secara tidak langsung yaitu mati perlahan dengan narkoba dan pergaulan bebas. Ya, soalnya sayang kalau banyak yang pengin bunuh diri, padahal.. di alam kubur sana, banyak orang yang pengin balik lagi ke dunia ini, pengin hidup lagi, bahkan mungkin termasuk teman-teman kita yang pada bunuh diri itu juga pengin balik lagian, main-main sama Tuhan sih. Sudah mau dikasih hidup sama Tuhan malah disia-siakan dengan menyerah begitu saja. Kudu introspeksi nih!

AwaLnya..

Memang nggak enak ya kalau lagi patah hati, lagi sedih. Dunia berasa malam terus. Mending kalau malamnya ada bulan dan bintang.. Pokoknya gelaaap banget deh. Belum lagi ada hujan deras yang bikin kita kedinginan. Sudah gitu.. Ada badai pula. Mau dipakai selimut setebal apa pun nggak akan mempan mengusir dingin. Ya.. Jadinya pengen nangis terus. Diam di tempat nggak mau ngapa-ngapain. Bahkan, nggak ada usaha untuk membuat suasana menjadi hangat dan ceria. Padahal, ada perapian yang siap dinyalakan untuk menghangatkan. Ada gigi-geligi yang indah untuk tersenyum sejenak, menceriakan hati (duh..). Kitanya saja (terutama aku he.. he..) yang malas menghidupkan perapian itu.. Yang enggan untuk meregangkan bibir dan menampakan gigi-gigi indah itu lalu tersenyum. Cemberut deh! Wah, ini mah nggak akan memecahkan masalah ya, friends? Kapan bangkitnya dong kalau gitu terus?