Tampilkan postingan dengan label Christmas time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Christmas time. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2009

DUET SAMA RONNY SIANTURI LAGI,..

Salah satu vokalis trio libels Ronny sianturi namanya ternyata sangat baik dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Berawal dari perkenalan lewat duet & promo album perdana saya tahun 2007 *nyanyian hamba* ternyata bisa akrab sampai sekarang 2009. setahun gak pernah informasi dari masing masing eh tiba tiba dimintain duet pas malam natal & natal kedua di gereja.. Kaget banget pas ditawarin duet sama rony sianturi, sosok seorang kakak yang sangat dahsyat bangat buat saya. awalnya saya mikir bakalan duet sama maria shandy karena plan dari gereja emang kayak gitu eh ternyata sama si ronny, pas nyampe digereja saya kaget+skot jantung yang sangat luar biasa, si ronny lagi ngobrol sama panitia & saya bingung harus ngapain^^ saya berinisiatif untuk hanya duduk dikursi paling belakang dan mulai mempelejari improvisasi lagu lagu yang sebentar akan dinyanyiin bareng ronny sianturi.. Hampir setengah jam saya mempelejari dan berhasil taklukin not not yang ada tiba tiba ada yang ngomong haLoooo... dengan suara bijaknya, pas aku liatin ternyata ronny lagi berdiri didepanku dan ngomong ayo kita cek sound, tapi anehnya sebelum itu kita kenalan lagi. dalam hati saya; kita kan udagh saling kenal malah pernah duet di album pertama saya juga, sombong apa pikun ni orang?! saya pun berinisiatif buat tidak nyebutin nama asli saya dulu, sebastian adalah nama yang saya pakai saat itu untuk perkenalan dengan si ronny.. Hmmmm kita pun siap untuk cek sound pas dipanggil sama panitia natal 2009. Cek.. cek.. cek.. cek.. *cek mike* lagu pertama dia sempat kaget+bingung itu terlihat bangat pas dengarin suara saya tidak kenapa sampai segitunya saya diplototin sama dia.. Lagu pertama selesai dinyanyiin terus sekarang dilanjutin lagu kedua dan diluar dugaan saya lagu kedua diganti dari jinggle bells menjadi The prayer, ni lagu kan saya pernah nyanyi sama dia & eka delly. Dengan santai kita bernyanyi dan apa yang saya lihat; mata dan mukanya mulai menunjukan penasaran dan itu terlihat jelas banget.. Selesai nyanyi dan saya segera menuju kursi bagian belakang karena kebetulan teman gereja saya juga lagi duduk disana buat ngejagain bawahan saya.. pas mau duduk ronny sudah didepan dan saya pun kaget banget pas ngelihatin dia dengan wajah penasarannya itu, temanku yang bersebelahan langsung pindah ke depan buat menjauh dari kita. Ronny duduk dan mulai bertanya sejak kapan ganti nama? Saya yang saat itu make topi+kacamata langsung gugup namun berhasil kontrol emosi dan berang mengatakan saya tidak pernah menggantikan nama *sebenarnya sikh ia* dia pun tersenyum dan menanyakan kamu suka gak sama mr bean? Tanpa hitungan tiga saya pun mual dan reaksi muntahpun keluar.. Cuman si ronny aja salah satu dari teman teman aku yang tahu banget apa yang aku suka dan apa yang aku gak suka^^ diapun melepas topi & kacamata saya.. dan dari reaksinya kelihatan dia senang banget, dipeluk dan ngucapin apa kabar adiku sayang? saya hanya diam soalnya reaksi muntah itu masih ada. diapun ketawa terbahak bahak kalau ternyata selama kurang lebih setahun saya telah berubah bangat tapi satu yang gak pernah berubah masih tetap takut dan jijik sama yang namanya mr bean *sumpah saya nulisin mr bean ajagh reaksi muntah datang berulang ulang* kitapun ketawa ketiwi dengan bangganya.. Ha ha ha ha, suatu pertemuan yang sungguh bermakna.
Kitapun mulai ngobrol panjang lebar nanya nanyain pacar keluarga inilah itulah pokoknya banyak banget degh pertanyaannya maklum setahun lebih gak pernah komunikasi dan hasilnya seperti ini. kita sama sama kenalin pacar dan diapun ngomong ternyata kamu masih awet sama pacarmu yang dulu itu ya.. Bagus kata dia^^ jadiannya tanggal 24 jam 24:00 ia kan tanya dia? Bayangin degh rampe dia tau tanggal jadian saya sama my sweat heart yang sekarang lagi kuliah di USA oxford university.. kagum banget degh pokoknya punya sosok kakak yang bisa seperti kayak gini^^ Sam.... Opung saya manggel, eh ternyata opung udagh jemput:) jangan salah loh opung saya gaul abis, keren, belum beruban kok dia.. kan masih 27 tahun^^ opungpun salaman sama ronny, *udagh kenalan sebelumnya/teman lama* dan kata opung; Loh kamu kok ada disini? Kpn datang? Ngapain? Pokoknya banyak banget pertanyaanya sampai gak nyadar kalau udagh jam 3 siang.. Kitapun menuju salah satu cafe ternama di kota ini & nyam nyam nyam sampai benar benar kenyang, balikin rony ke hotel dan saya sama opung tersayang pergi nyari sepatu @sogo buat ntar malam walaupun sepatu dirumah udagh banyak banget^he he he.. selesai itu perawatan bentar dan pulang *istirahat* siapin kondisi buat ntar malam duet sama ronny sianturi^.^

Jumat, 25 Desember 2009

KEMULIAAN ALLAH..

Tidak ada peristiwa lain dapat menceritakan kemuliaan Allah
selain penyataan diri Yesus yang menjadi manusia.
Tidak ada hal lebih indah yang dapat menggambarkan kasih Bapa,
selain kehadiran kristus, Terang Ilahi
yang datang dan menghalau segala bentuk kegelapan di dunia
. . .
Maka, pertemuan istimewa, layaknya menjadi
kesempatan untuk kita temukan kembali
makna kasih Allah bagi dunia ciptaan-Nya dan segala isinya;
inilah waktu yang amat baik untuk menambah kesukaan
serta syukur kepada Tuhan.

Karya Allah Mahakasih dimulai dengan Firman.
Firman itu bersama sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Diat tidak ada satu pun
yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan
dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,
sedang datang ke dalam dunia.
Layaknya kita memperingati kedatangan dan kehadiran-Nya dengan
sukacita dan kekhusukkan beribadah kepada Allah.

Sabtu, 19 Desember 2009

Dua Puluh Lima Desember


Tanpa terasa satu bilangan tahun lagi hampir kita lewati dan masukkan dalam gudang kenangan. Berbagai pergumulan dan sejumlah anugerah telah kita nikmati. Tahun yang baru telah siap menyambut kita dengan segala kerumitan dan kebahagiaan di dalamnya. Memasuki bulan Desember, segenap orang Kristen dan gereja sibuk mempersiapkan diri untuk memperingati hari Natal. Sejauh manakah kita mengenal akan tanggal yang selalu diperingati sebagai hari Natal itu?

Tahun Kelahiran Yesus

Kita dan penanggalan internasional setiap tahun selalu menempatkan hari Natal pada tanggal 25 bulan Desember, dan menceritakan kepada anak Sekolah Minggu kita itulah tanggal kelahiran Yesus. Sebagian orang (termasuk salah satu media massa yang terbit di Jakarta baru-baru ini), dengan pemikiran kalau dalam bahasa Inggris ada sebutan 'Before Christ (B.C.)' atau 'Sebelum Masehi (S.M.)' untuk menyebut tahun-tahun sebelum kelahiran Yesus dan 'Anno Domini (A.D.)' atau 'Masehi (M)' untuk tahun sesudahnya, maka mereka menganggap Yesus lahir tepat pada tahun 0 Masehi. Padahal sebenarnya tahun 0 Sebelum Masehi dan/atau tahun 0 Masehi itu tidak pernah ada. Jadi kalau begitu, tahun berapakah Yesus lahir? Sebagian orang yang lain berpegang bahwa tahun 4 Sebelum Masehi adalah tahun kelahiran Yesus. Mengapa bisa begitu? Bukankah digunakannya tahun 'Masehi' adalah untuk memisahkan tahun sebelum dan sesudah kelahiran Yesus?

Menurut catatan Flavius Josephus, seorang ahli sejarah yang hidup pada tahun 37-100 Masehi (jadi tidak terlalu jauh dari masa kehidupan Yesus), dapat diketahui bahwa Herodes yang disebutkan dalam Matius 2:1 ".... pada jaman Raja Herodes .." adalah Herodes Agung, yang hidup dari tahun 73-4 Sebelum Masehi. Raja Herodes inilah yang menyebabkan Yesus diungsikan ke Mesir. Baru setelah kematiannya, Yesus kembali dari pengungsian (lihat Matius 2:19-20). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa Yesus dilahirkan sekurang-kurangnya beberapa tahun atau bulan sebelum 4 S.M. Dan menurut dugaan yang lazim, kelahiran Yesus adalah antara tahun 8 dan tahun 5 s.M.


Benarkah Yesus Lahir Tahun 5 s.M.?

Pada jaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti 'sejak berdirinya kota'. Kemudian pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Justinian, seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru. Ia mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi, yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi di kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. Ia menempatkan kelahiran Yesus pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 atau 747 AUC. Kekeliruan ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sampai sekarang kita pun sudah terlanjur menggunakan tahun hasil perhitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus.


Lalu Bagaimana dengan Bulan Kelahiran-Nya?

Apabila kita melihat di peta, maka kita akan menemukan bahwa Israel terletak di sebelah utara garis khatulistiwa, hampir sejajar dengan Jepang, yang berarti bulan Desember adalah musim dingin. Bagaimana dengan catatan Injil yang menjelaskan tentang para gembala pada malam kelahiran Yesus dalam Lukas 2:8 "..gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam"? Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus pasti bukanlah pada bulan Desember.

Seseorang bernama Klemens dari Alexandria membuat perhitungan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon, yaitu tanggal 20 Mei. Tetapi itu pun bukan merupakan suatu kepastian.


Mengapa Kita Tidak Punya Tanggal Kelahiran Yesus yang Pasti?

Pada jaman itu, merayakan ulang tahun hanyalah kelaziman orang kafir. Satu-satunya ulang tahun yang kita baca di Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (lihat Matius 14:6). Dan gereja pada jaman itu tidak merayakan kelahiran Yesus melainkan kebangkitan-Nya. Baru sekitar abad ke-3, umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal. Tanggal yang digunakan adalah 6 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum.

Gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke-4, dan tanggal yang dipilih adalah 25 Desember. Pemilihan tanggal tersebut adalah untuk memberi isi yang baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Tidak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember itu pun ditiru oleh gereja-gereja di tempat lain. Dan hingga sekarang, Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember oleh hampir semua gereja.

Anak Sekolah Minggu yang kritis mungkin akan bertanya: Jika demikian kenapa kita tidak menghitung ulang atau mengikuti perhitungan Klemens, yaitu merayakan Natal pada tanggal 20 Mei saja?

Dengan segala kerendahhatian dan tidak ada maksud untuk menggurui, berikut adalah beberapa hal yang saya bisa bagikan dan barangkali bisa dijadikan contoh jawaban atas pertanyaan semacam itu: Perhitungan Klemens menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 20 Mei, namun itu pun belum pasti benar. Kenapa kita harus menggunakan tanggal yang kebenarannyapun masih diragukan?

Secara umum, sudah berlangsung selama berabad-abad, Natal dirayakan pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 25 Desember, kenapa kita harus menetapkan tanggal perayaan sendiri, yang lain daripada yang lain?

Kekeliruan perhitungan ini pastilah ada campur tangan dan atas ijin Allah, karena hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan orang untuk lebih mengutamakan atau lebih tepatnya mengkeramatkan tanggal tertentu lebih daripada yang lain; yang akhirnya justru akan melupakan bahwa rahmat, kasih dan anugerah-Nya selalu baru dan terlimpah setiap hari. Sebagai perbandingan kita dapat melihat bahwa peringatan akan Kematian Kristus atau Paskah, bukan ditentukan oleh tanggal tertentu tetapi oleh hari.

Atau perhitungan satu hari yang kita pakai sekarang, yaitu pagi-malam, yang berubah dari catatan perhitungan satu hari yang Allah berikan (lihat Kejadian 1:5, 8, 13, dst ". jadilah petang, jadilah pagi, itulah hari ..")

Bukankah kenyataannya selama ini juga sudah berlangsung, bahwa banyak gereja yang melaksanakan perayaan Natal tidak tepat pada tanggal 25 Desember?

Kesalahan tanggal dalam merayakan hari Natal, tidak akan berpengaruh terhadap iman kepercayaan dan keselamatan kita. Yang lebih utama dan terutama harus dipikirkan, ditekankan dan diajarkan dalam perayaan Natal adalah hadiah atau komitmen apa yang akan kita berikan sebagai persembahan kepada Kristus, pada saat kita memperingati hari kelahiran-Nya?

Jadi sekarang kreatifitas guru dan waktu (usia) yang tepat diperlukan untuk mengajarkan hal ini kepada anak-anak Sekolah Minggu, agar tidak membuat mereka justru menjadi bingung dan akhirnya kehilangan arti/makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Kristus ke dunia ini.

[Diambil dari berbagai sumber] (Robby Indarjono)

--------------------------------------------------------------- From: Agus

Pada dasarnya adalah benar, terjadi kekeliruan estimasi kelahiran Yesus dalam penetapan tahun masehi. Tapi penetapan tahun masehi sendiri sebenarnya tidak dibutuhkan hanya saja dilakukan.

Mengenai natal dirayakan tanggal 25 Desember. Sebenarnya kita tidak merayakan "tanggal kelahiran Yesus" atau "ulang tahun Yesus." Yang kita rayakan adalah bahwa dalam kalender liturgi, dalam satu tahun perayaan Gereja, kita menempatkan satu hari khusus untuk refleksi dan memperingati peristiwa inkarnasi.

Kedua, peristiwa-peristiwa liturgis tidak mengimplikasikan ulang tahun atau peringatan sebagaimana dikonsepsi secara sekular. Misalnya saja, walau setiap tahun kita merayakan paskah, tapi setiap hari minggu dan ekaristi pun kita merayakan paskah kembali dan kembali lagi. Suatu anamnesis, seperti kita selalu aklamasikan pada saat doa syukur agung "Kristus sudah wafat, Kristus sudah bangkit, Kristus akan kembali."

Satu hal yang perlu dijelaskan adalah istilah "Anamnesis" ini. Kita tidak punya padanan kata yang tepat untuk ini. Anamnesis, berarti mengingat kembali tapi bukan hanya suatu peringatan abstrak dalam awang2. Suatu anamnesis menghadirkan kembali peristiwa tersebut secara aktual, atau sebaliknya, kita dibawa kembali ke dalam peristiwa tersebut sehingga menjadi partisipan nyata peristiwa historis tersebut. Dan ketika Yesus berkata pada saat perjamuan terakhir ketika Ia menyuruh para rasul untuk merayakan peringatan perjamuan tersebut, Ia menggunakan kata "anamnesis" untuk peristiwa maha-penting ini. Kitab Septuaginta juga menggunakan kata anamnesis menyangkut peringatan akan perjanjian-perjanjian yang diikat Allah dengan Israel.

Ketiga, Natal dirayakan di berbagai tempat pada tanggal yang berbeda. Pada awalnya Gereja hanya memperingati Epifani, perayaan penampakan Tuhan. Tiga peristiwa utama in one: 1) kelahiran Yesus, 2) kedatangan para majus, masa kanak-kanak Yesus dan berpuncak pada 3) baptisan Yesus, pada tanggal 6 Januari.

Kemudian Gereja di Barat mulai memisahkan pesta kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, mungkin sebagai counter terhadap budaya pagan. Natal lebih sebagai awal dari masa Natal yang berpuncak pada Epifani. Pentingnya Natal digarisbawahi baru pada masa reformasi Protestan, ketika mereka awalnya menolak Natal dengan peyorasi sebagai bentuk keterikatan kepada Paus. Gereja Katolik melawan dengan memberikan penekanan religius kepada Natal.

Sekarang ini, Epifani di Gereja Barat malah hidup dibawah bayang-bayang Natal, suatu hal yang amat disayangkan dan menciptakan kekeliruan mengenai Natal sebagai hari kelahiran Yesus dalam arti "ulang tahun", tanpa referensi kepada Epifani.

Gereja Ortodoks, Oriental dan Katolik Timur, umumnya tidak merayakan Natal secara tersendiri tapi masih menggabungkan perayaan kelahiran Yesus dalam Epifani.

BEBAN BERAT DI SAAT NATAL

Bacaan: Lukas 4:14-21

Dalam perjalanan menuju Museum Seni Metropolitan di New York pada bulan Desember, saya berhenti sejenak untuk mengagumi pohon Natal yang menakjubkan. Pohon itu dihiasi boneka malaikat dan dasarnya dikelilingi oleh patung-patung dari abad ke-18 yang menggambarkan kelahiran Kristus. Jumlahnya hampir 200 patung. Di antaranya terdapat para gembala, orang majus, dan penduduk kota. Mereka memandangi palungan dengan penuh harap atau menatap para malaikat dengan takjub.

Namun, ada satu patung yang tampak berbeda dari yang lainnya, yaitu patung pria tanpa alas kaki, yang membawa beban berat di punggungnya dan menundukkan kepala. Hati saya tersentak. Pria ini seperti kebanyakan orang saat ini, yang sangat berbeban berat sehingga tidak dapat melihat Sang Mesias.

Natal dapat menjadi saat yang tidak menyenangkan bagi mereka yang menderita karena beban kerja yang berat, ketegangan dalam keluarga, dan kehilangan. Namun, patut diingat bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk mengangkat kepala orang yang tertunduk karena beban berat. Yesus mengutip perkataan Yesaya untuk memberitahukan misi yang diberikan Allah kepada-Nya bagi dunia: "Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; ... untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas." (Lukas 4:18,19)
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Yesus datang untuk mengangkat beban kita sehingga kita dapat mengangkat kepala kita untuk menyambut-Nya saat Natal tiba.

Malam Saat Lonceng Berdentang

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Amsal 16:16

Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya.

Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu.

Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu.

Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka.

Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri."
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

"Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya."

"Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembahNya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku."

Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya.

Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal.

Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. "Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara.

Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar.

CERITA NATAL,..

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di salah satu ibu kota negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota . Ada sebuah kisah Natal yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang,



Cerita ini dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa IA bukan penduduk asli kota itu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, Tidak sampai setahun di kota itu, mereka sudah kehabisan seluruh uangnya,



Hingga suatu pagi mereka menyadari akan tinggal dimana malam nanti dengan tidak sepeserpun uang Ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong seorang bayi berumur satu tahun. Dalam keadaan panik Dan putus ASA, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya Dan tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing dari sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.



Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang untuk mendapatkan pekerjaan apapun, kalau tidak malam nanti Kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya IA pergi. Dan itu adalah kata2nya yang terakhir karena setelah itu IA tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu dengan pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika.



Selama beberapa Hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, Dan bila malam menjelang ibu Dan anaknya tidur diemperan toko itu. Pada Hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, Dan jadilah mereka pengemis disana selama 6 bulan berikutnya.



Pada suatu Hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit Dan memutuskan untuk bekerja. Persoalan nya adalah di mana IA harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, Dan tampak amat cantik. Keliahatan nya tidak Ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu Dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka.



Suatu pagi IA berpesan pada anaknya, agar IA tidak pergi kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau yang menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa Hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, Dan Kita tidak lagi tidur dengan angin dirambut Kita".

Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, Dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya, di sebelahnya

IA meletakkan sepotong roti, kemudian, dengan Mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, dimana IA bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa Hari, hingga dikantong sang Ibu

Kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh tsb.



Dengan suka cita sang Ibu menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, membayar uang muka sewa kamarnya.

Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa,

Dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota . Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya Dan membawanya kesebuah rumah mewah dipusat kota .

Disitu gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.



Suami istri dokter tsb memberi nama anak gadis itu Serrafona, mereka memanjakannya dengan amat sangat.

Di tengah-tengah kemewahan istana gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi Dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, Dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun IA pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, Dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.



Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif digereja, Dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian

Setiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, Dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan Dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga Dan istana yang paling megah di kota

Itu.



Menjelang Hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang Ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, Dan di laci meja kerja ayahnya, IA menemukan selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, Dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar Dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian IA membuka lemarinya sendiri, Dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu tampak sesuatu yang terbungkus oleh kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan Dan bukan terbuat dari emas murni.



Almarhum ibu memberinya benda itu dengan pesan untuk tidak menghilangkan nya. Ia sempat bertanya, kalau itu anting, dimana pasangannya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya.

Serrafona menaruh anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.

Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, dengan senyum yang dibuat-buat, belum pernah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.



Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat dibenaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya Dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dingin sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.



Matanya basah ketika ia keluar dari kamar Dan menghampiri suaminya, "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkin kah ibu sekarang masih Ada di jalan setelah 25 tahun?" Ini semua adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar

ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, penerbit surat kabar Dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.



Bulan demi bulan telah berlalu, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya.

Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu dinegeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah.

Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian.

Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.

Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.



Saat itu waktu sudah memasuki masa menjelang Natal .

Seluruh negeri bersiap untuk menyambut hari kelahiran Kristus, Dan bahkan untuk kasus Serrafona-pun, orang tidak lagi menaruh perhatian utama. Melihat pohon-pohon terang mulai menyala disana-sini, mendengar lagu-lagu Natal

mulai dimainkan ditempat-tempat umum, Serrafona menjadi amat sedih.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan hari lahirmu, tapi ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup ini 'temukan saya dengan ibu' ".



Tuhan mendengarkan doa itu.



Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan

Ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ketempat wanita itu berada, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang,



Malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik, mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa Ibunya masih hidup dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.



Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan Maha Kasih nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu nyonya, hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak terlalu banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh Dan banyak angin. Rumah-rumah disepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.



Tubuh Serrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Cepat, Serrafonna, mama menunggumu, sayang".

Ia mulai berdoa: "Tuhan beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja untuknya".

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil masih berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita

bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka.

Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan".



Ketika mereka masuk dibelokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas, panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak.



Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya Dan 3 mobil polisi, di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi

tempat itu.

"Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang.

Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun dari Mobil, suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.

"Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu."

Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingatan semasa kecilnya kembali menerawang saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan kembali terlintas bayangan ketika IA mulai belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.

Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

"Tuhan", ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, "Beri kami sehari,Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberinya tahu bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Sehingga mama tidak sia-sia pernah merawat saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya, wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri disaat ia masih muda.

"Mama....", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang selama ini ditunggunya tiap malam dan seiap hari - antara sadar Dan tidak kini menjadi kenyataan.

Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas, dengan perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebuah anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk Dan menyadari bahwa itulah pasangan anting yang selama ini dicarinya dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dengan makanan enak setiap hari. Mama jangan pergi, Kita bisa lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur apapun juga........ Mama jangan pergi....... ."

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan Maha Pengasih dan Pemberi, Tuhan..... satu jam saja.......satu jam saja....."

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang

menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Kado Natal..


Salam Damai dalam Kasih Yesus......!!!

Tinggal beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Natal, pesta kelahiran Juru Selamat, Tuhan kita Yesus Kristus. Tentunya saya yakin rekan-rekan sekalian pasti sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk menyambut hari Natal. Natal tahun ini juga punya keistimewaan karena hubungannya dengan Tahun Yubileum dan 2000 tahun sejak kelahiran Yesus.

Pada Minggu malam tanggal 17 saya bersama-sama belasan rekan-rekan dari persekutuan doa Maria Bunda Allah, merayakan Minggu Adven ke-3 di paroki St.Dominic yang bergaya Gothic yang indah di kota San Francisco, California. Pada waktu homili, pastor memperkenalkan seorang wanita muda yang meninggalkan kerlap-kerlip dunia, karir yang bagus, demi untuk kembali ke tengah-tengah memori keluarganya yang dulu miskin dan hidup di tengah-tengah slum/ghetto, pemukimam orang miskin yang rawan kejahatan, di New York. Alexis, nama wanita itu, memberikan refleksi Natal yang sangat indah lewat perjalanan hidupnya. Baginya, makna Natal adalah "to put back together", untuk mengingat kembali misi kita dilahirkan di dunia ini. Serupa seperti Yesus, Allah yang menjadi manusia dengan misi-Nya di dunia. Kita dipanggil untuk mengingat kembali apa yang seharusnya kita lakukan di dunia ini dalam hidup kita. Sudahkah kita mengarahkan hati dan pikiran kita bagi Tuhan dalam masa Adven ini? Apa yang telah atau akan kamu lakukan sebelum menyambut kelahiran Yesus?

Saya menyebutkan bahwa banyak orang sibuk membuat rencana untuk mengadakan pesta-pesta Natal, diantara karyawan sekantor, bersama sanak-keluarga, diantara kawan-kawan dan lain-lain. Tukar kadopun juga merupakan acara populer dan menjadi bagian dari tradisi. Tetapi apakah kita masing-masing juga sudah mempersiapkan kado Natal bagi bayi Yesus? Apa yang harus kita berikan bagi Yesus? Yesus cuma membutuhkan satu hal saja dari kita, yaitu hati kita. Mari kita mempersiapkan hati kita supaya bisa menjadi kado yang berarti bagi Yesus. Waktu kita tinggal sedikit lagi, jangan menunda-nunda, lakukanlah sekarang.

Sebagai umat Katolik, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat hati kita lebih berharga bagi Tuhan. Misalnya dengan menerimakan sakramen pengakuan dosa. Kita mencuci bersih hati kita sebelum kita menyambut kedatangan Yesus. Berapa lama sejak terakhir kalinya kamu mengakukan dosa kepada Tuhan melalui romo? Apakah malu untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita kepada romo yang dalam hal ini bertindak mewakili Kristus (in persona Christi)? Ingatkah kita bahwa Tuhan itu Allah Yang Maha Tahu (Omni Science). Dia tidak saja mengenal kamu, tetapi mengenal kamu secara jauh lebih baik daripada kamu mengenal dirimu sendiri. Dia juga tahu apa yang kamu pikirkan dalam setiap tarikan nafasmu, dalam setiap detak jantungmu, dan dia tidak akan melupakan apa-apa yang telah kamu lakukan dalam hidupmu. Oleh karena itu menerimakan pengakuan dosa merupakan suatu perbuatan sudah layak dan sepantasnya dan membuat kita rendah hati di hadapan Tuhan dengan mengakui kesalahan-kesalahan kita. Dengan demikian hal itu akan mendamaikan kita kembali dengan Tuhan.

Masih ada waktu bagi kita untuk mengintensifkan doa-doa kita, terutama lewat doa bersama dalam Novena, Rosario, persekutuan doa dan lain-lain dimana kita juga bisa saling mendoakan satu sama lain, para sanak-keluarga, juga mendoakan orang-orang lain yang belum menerima Kristus, mereka yang imannya lemah, mereka yang menolak Kristus, mereka yang menyakiti hati kita, mereka yang terlupakan. Ini adalah "kado-kado" kita bagi orang lain, yang jauh lebih besar nilainya daripada kado-kado berbentuk materi.

Masih banyak hal-hal lain yang bisa kita lakukan baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Malam ini, sehabis mengikuti Misa Kudus di St.Dominic, saya dan rekan-rekan PD bergabung bersama sejumlah besar orang dewasa (young adults) untuk berkeliling Christmas caroling, menyanyikan berbagai lagu-lagu Natal yang riang gembira. Kita berhenti di berbagai tempat untuk menghibur orang-orang di jalanan, orang-orang di restoran-restoran maupun mereka yang tinggal di bangunan apartment. Ada manfaat caroling yang entah disadari oleh tidak oleh orang-orang. Ketika kita bernyanyi lagu-lagu Natal kepada orang-orang yang kita temui, kita sebetulnya memanggil mereka untuk kembali kepada Kristus, kepada Gereja, kepada misi mereka ketika dilahirkan di dunia ini. Ada berapa banyak orang yang telah melupakan Kristus di luar sana. Ada berapa banyak orang yang belum mengenal Kristus di luar sana. Pada saat itu kita memanggil orang-orang untuk mengingat Dia, untuk mengenal Dia. Saya teringat pada tulisan salah satu Bapa Gereja perdana dalam suatu apologinya terhadap kaisar Romawi: "Lihatlah orang-orang Kristen itu. Mereka saling mengasihi." Itulah yang membuat iman Kristen memiliki daya tarik yang universal. Kasih, yaitu Tuhan Yesus sendiri, ada diantara kita. Lebih dekat kita kepada Kristus, maka lebih besar kasih itu hidup dalam diri kita.

Oleh karena itu marilah kita mempersiapkan hati kita sebaik-baiknya supaya kita layak menyambut kedatangan Kristus. Supaya kita teringat kembali, apa misi kita di dunia ini. Supaya kasih selalu ada dalam diri kita. Itulah kado kita yang terbaik bagi Kristus.

Tuhan beserta kita.
Sekarang dan selama-lamanya.


"Behold, the virgin shall be with child and bear a son, and they shall name Him Emmanuel," which means "God is with us." (Matthew 1:23) (Matius 1:23)

"For God so loved the world that He gave His only Son, so that everyone who believes in Him might not perish but might have eternal life." (John 3:16) (Yohanes 3:16)

NATAL , ANDUNG-ANDUNG PETUALANG IBU SEORANG PENYAIR

Kali ini kumpulan puisi yang berjudul otobiografi ([sic] November 2007) dari penyair Saut Situmorang yang berisi puisi-puisi yang diramunya dalam kurun waktu 1987-2007, dengan tebal halaman 282 dan total jumlah puisi sebanyak 184 buah, saya jelajahi dalam penerawangan mata hati seorang awam.

Memasuki alam pikiran seorang Saut, bagi yang belum mengenal secara luas bagaimana dia memposisikan diri dalam kancah sastra kontemporer Indonesia, yang selalu berani dan konsisten di jalur perlawanan terhadap hegemoni kelompok tertentu yang selama ini berusaha untuk mendominasi sastra Indonesia, tentunya akan sangat berbeda penilaiannya dengan yang sudah mengenal tulisan-tulisan dan ucapan yang cukup membuat kuping pembaca atau mata lawannnya menadi meradang.

Saut dalam puisi-pusinya justru terkandung nilai-nilai manusiawi pada umumnya seorang bersikap. Kelembutan pada puisi, juga humor bernada getir dan kadang kenakalan dalam romantisme dan pemberontakan pada situasi sekelilingnya lebih dirasakan daripada seorang Saut yang penyerang dan bersuara keras.

Dalam pengantar buku tersebut yang dia tulis sendiri bahwa ciri para penyair di dunia puisi kontemporer Indonesia periode 1990an memilih kesederhanaan bahasa sehari-hari, kesederhanaan bahasa leksikal-gramatikal sehari-hari yang lugas tidak rumit, dengan tidak mengorbankan musikalitas dan visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas puitis. Bahkan dia tambahkan juga sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah Politik. Hal ini berkaitan dengan dibaginya kumpulan dalam buku tersebut dalam 3 babak yaitu Cinta, Politik dan Rantau.

Dalam penjelajahan pertama yaitu CINTA dari 3 babak imajinasi seorang Saut, dengan diiringi petikan gitar Bahalawan menari, sajak dengan judul “tidurlah cicak”, “sajak cicak”, “boraspati”, “tenunlah bendera o laba laba” dan “cicak mabuk”, sudah membuat diriku seperti melihat seseorang membuat pot keramik. Dimulai dari sebongkah tanah liat yang kemudian ditaruhnya dalam lempengan kayu pada mesin pemutar membentuk pot keramik sesuai yang diinginkan. Berputarnya mesin dan bongkahan tanah liat yang semakin besar membentuk pot ini yang tergambar dalam imajinasi saya membaca puisi-puisi tersebut.

Betapa makna yang tersirat dari kata “cicak” akan terasa semakin dalam seperti kumparan yang berputar semakin cepat dan berakhir dengan klimaks setelah selesai membaca keempat syair tersebut.
Saya kutipkan pada sajak pertama di akhir bait tertulis

cicak cicak di dinding dinding
tidurlah
tidur

kemudian pada syair ke dua,

hormatilah cicak cicak di dinding rumahmu

yang ke tiga ,

kata kata terbakar lilinlah makananMu!

Yang ke empat ,

lalu berpawailah di sekeliling langit langit kamar!

Terakhir ,

cicak mabuk di dinding
bayangannya menari sempoyongan di lilin kamar
mengikuti gitar Lightning Hopkins
dan hei, bukankah itu Li Po yang baru datang!

Penggambaran seperti kehidupan ini, mengikuti siklus yang dipelajari dalam mata rantai makanan pelajaran biologi, yang kemudian dihubungkan dengan watak manusia lewat pengertian bahwa di atas langit masih ada langit begitu seterusnya, kegetiran dan kegembiraan datang silih berganti walau tidak seperti yang diharapkan bahkan kadang memabukkan sejenak, menjadi orang lain dalam diri sendiri.

Kelembutan penyair ini kutemukan dalam beberapa puisi bahkan kadang tergores muram dan getir. Pada puisi yang dia buat setelah kawannya dari Kanada meninggal dunia dengan bunuh diri menggantung di kamar mandi di Medan. Syair itu berjudul “untuk Bill Russon, Medan, Oktober 1988”. Suara Daniel Powter menyanyikan Bad Day lamat-lamat menemani saya menyelaminya,

kematian
seperti ular juga mengganti kulitnya
dia jadi malam di kotamu yang gelap
dengan rakus dia makan bulan & bintang bintang yang
menyerah tak berdaya
dia makan juga lampu lampu neon di hotel hotel
jalan-jalan utama kota & lilin lilin redup gubuk gubuk perbatasan
dia jadi burung malam yang menjerit jerit di langit di atas
rumahmu
jadi derak pintu & jendela yang tak terkunci rapat

Kelembutan dan kegetiran juga tergores dalam puisinya yang berjudul ”Natal 1989”. Saya katakan sejujurnya puisi ini sangat kuat menggambarkan kerinduhan seorang anak terhadap ibunya yang sudah lama meninggal, hati penyair ini akan sama dirasakan oleh jutaan anak-anak di dunia terhadap kehilangan ibu pusatnya gudang rasa kasih dan maaf yang tak tergantikan, walau kita ini sekeras batu hati ini terbuat, namun IBU tetap bisa meluluh lantakkan rasa itu. Itulah alasan saya mengapa kemudian judul puisi ini saya ambil menjadi judul esai dalam memandang kumpulan puisi Saut Situmorang ini. Kali ini Michael Buble menemani dengan Home-nya, suara jengkrik di pot bunga terdengar nyaring.

Natal 1989

hari ini
genap lima tahun
aku tak merayakan natal bersamamu

di sudut ruang tamu
yang biasanya berdiri pohon natal
sekarang cuma ada sarang laba laba
dan debu -
pohon natal itu juga pergi bersamamu

di gereja ada pohon natal besar
orang orang gembira dan lilin di tangan mereka terbakar
hari ini mereka merayakan pesta -
bagiku genap lima tahun kita berpisah

seorang ibu melemparkan kembang api ke langit
dan anaknya bersorak sorak mandi hujan cahaya
aku bersihkan sarang laba laba dan debu
dari sudut ruang tamu tempatmu dibaringkan lima tahun yang lalu

Membaca bait terakhir kepedihan itu terasa tergores dalam, saya membayangkan adakah setetes air mata di sudut mata penyair ini ketika menyudahinya? Adakah dia masih merindukan “mamak” pada setiap natal yang setia hadir? Saya rasa pasti itu, apalagi bila sejenak dalam diri ini merasakan tak punya siapa siapa, sendiri dalam hidup ini, lainnya dianggap debu. Sayup-sayup suara lonceng gereja menggema, dalam lamunan seperti ada gemerincing jejak Sinterklas menapaki awan .

Disamping itu masih ada tiga puisinya yang menggambarkan akan jalinan antara dia dan almarhum ibunya, dalam puisi yang berjudul “andung andung petualang”, saya kutip sebagian, karena puisi ini cukup panjang dalam 19 bait,

“kalau kau pergi , anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya

“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya

“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam

“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

menyeberang laut menyeberang pulau
beribu gunung kota terlampaui
di negeri seberang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau

…………………………………………………………………

Keseluruhan 19 bait itu terangkai begitu indahnya, menceritakan awal dia berangkat merantau dengan dihantar hati ibu yang galau, gambaran yang terasa pilu memendam rindu dendam pada keadaan yang memisahkan penyair dan ibunya sampai kematian kemudian tiba.

Ada catatan kaki di bawah sajak ini, memberikan sekilas gambaran tentang ”andung-andung” yang merupakan nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak Toba, isinya berupa kisah hidup yang meninggal dan dinyanyikan dalam bentuk performance tunggal di hadapan jasadnya. Ternyata penyair Batak ini tetap tidak meninggalkan aroma tradisinya dalam penciptaan syair-syairnya. Bagi saya ini suatu kelangkaan, banyak penyair kontemporer Indonesia masa kini, kadang terlarut dalam hiruk pikuk kata, jarang mengangkat tema tradisi mereka sendiri dalam memperkaya khasanah penciptaan puisinya, sehingga akan melestarikan tradisi itu sendiri, namun juga akan menambah wawasan pembacanya akan berbagai ragam tradisi yang melatar-belakangi kehidupan penyair itu sendiri. Imajinasi luas tak terbatas, begitu juga ada sejuta kata yang tak sama dapat diambil dari sekeliling kita sehari hari, seharusnya tak ada kata-kata yang itu itu saja muncul di syair-syair penyair sekarang ini juga temanya, karena tradisi memperkaya tema dan kata.

Pada puisi yang berjudul “ibu seorang penyair”, menggambarkan awal ibu melahirkan sampai kemudian meninggal dunia ditorehkan dengan kesederhanaaan kata, namun tutur bahasa pengulangan yang begitu pilu, menambah goresan kelembutan hati penyair ini terpampang jelas.

ibu yang menangis
menunggu kelahirannya

ibu yang menangis
kesakitan melahirkannya

……………………………………..

ibu yang menangis itu
tak menangis lagi
airmatanya sudah habis

sekarang Dia tidur
di antara rumputan di antara bintang bintang
di langit

Kemudian klimaksnya adalah puisi yang berjudul “hanya airmata dan terik matahari yang mengerti”

rumput rumput sudah mulai panjang
dan seperti rambut kusut
merambati permukaan gundukan tanah
yang tak lagi berwarna merah
waktu aku datang mengunjungimu

pertemuan kita ini
punya arti
hanya airmata dan terik matahari
yang mengerti
…………………………………………………………
ada yang bilang tak boleh noleh ke belakang’kalau kaki sudah beranjak mau pulang
tapi dari jauh
kulihat salib kayumu
tegak penuh
seperti dirimu waktu melepasku
di pelabuhan dulu

Dalam sisi yang lain kematian binatang peliaraannya berupa kucing, mampu juga membuat penyair ini menggoreskan kata-kata mengenangnya dalam rangkaian yang indah dan menyentuh. Dalam smsnya pada saya beberapa waktu lalu, dia ceritakan bahwa kucing itu dibawa dari Medan kemudian sempat ke Eropa mengalami masa karantina 3 bulan sampai kemudian selamat di Selandia Baru. Eh, sampai di sana mati dipukul orang. Saya sempat mengira ini seekor anjing, maklum di otakku tercemar Batak kan suka anjing, tak tahu kalau ini kucing.

Lentingan suara Mariah Carey mendendangkan We belong together berbarengan dengan suara kucing tetangga mengeong sejenak, seakan kucing itu menerima tanda saya sedang membaca sajak tentang kematian kucing.

elegi claudie

di atas tanah
lembab
terlindung
beberapa rumput berduri

dia terbaring

bulu badannya
yang putih
dan pirang

tegak memanjang
dari leher

ke ujung punggungnya

kedua kaki depannya
agak terdorong ke muka
dan kaki belakangnya
keduanya tertekuk

seolah dia sedang mengamati sesuatu

kedua matanya
terbuka
terbelahak
dan mulutnya menganga

waktu kuangkat
ke pangkuanku
badannya
sudah dingin

sorenya
dokter bilang
nadi ke hatinya

pecah-

seseorang pasti memukulnya

besoknya aku
kubur dia
di atas bukit (di belakang rumah)

yang memandang ke lembah

wellington, juni 1990

Tipologi penulisan yang terpotong potong ke bawah menggambarkan betapa hati penyair ini membuat susunan kata-kata dengan terbata-bata seperti seorang anak kecil yang menangis dalam sedu sedannya bercerita ketika menjumpai hewan peliharaan mati dengan sangat mengenaskan, hancur hati, dia membuat begitu jelas intonasi kata pada baris tersendiri untuk “dia terbaring”, kemudian “seolah dia sedang mengamati sesuatu” dan terakhir penyebab kematian “pecah”. Penyair ini telah memberikan “tanda” intonasi kata apabila ada pembaca yang akan membacakan puisinya, sehingga puisi ini akan semakin hidup. Kadang pembaca sering menemukan kesulitan dalam membacakan puisi penyair. Apabila tidak terbiasa baca puisi, apalagi bagi seorang awam. Namun dalam puisi di atas ini, Saut juga memberikan semacam kemudahan dalam membaca karyanya terutama bagi orang awam untuk suatu ketika dibaca di depan publik.

Dalam babak Cinta ini, saya justru menemukan penggambaran romantisme masa pacaran penyair ini yang dibuat dalam bentuk puisi kurang begitu dalam dan kesannya kering di permukaan dan saya rasakan agak kasar, entahlah apa karena ada penggambaran hubungan yang terlalu gamblang dalam kata-kata atau mungkin saya sendiri sudah terhanyut berkubang sebelumnya dengan sajak-sajak dia dalam hubungan dengan kemanusiaan juga tentang kehidupan yang justru digambarkan dengan kelembutan hati penyair yang selalu ada dalam gambaran saya selama ini.

Ada banyak sajak yang dalam, sebagai contoh ”karena laut sungai lupa jalan pulang”, soal Gempa Yogja, “Santiago”, “penyair dan danau”, ”marilah kita mabuk”, “bocah pemancing ikan” dan sajak dia yang terkenal “saut kecil bicara dengan tuhan”.

Bahkan dalam kejadian gempa Yogja, dia masih sempat bermain nakal dalam imajinasi dengan puisi yang berjudul “aku ingin” kukutip sebagian , dengan lirih suara dentingan piano Christian Bautista dalam the way you look at me mengalun sendu ,

aku ingin bercinta denganmu
waktu gempa lewat

di kota kita

saat itu
pasti tak ada
keluh cemas , sinar mata ketakutan
atau gemetar kakimu
yang membuatku termangu
…………………………………………..

Ada beberapa puisinya yang menceritakan gempa ini, dan semuanya dia buat dengan pendalaman makna walau tersusun dari kata-kata yang sederhana. Bagi orang awam yang membacanya dapat ikut serta merasakan goncangan gempa itu dan sayatan pilu bagi korbannya. Bahkan saya sempat terjatuh dari kursi ternyata mor-bautnya copot.

Dalam imajinasi kemudian dituangkan melalui bait bait puisinya, saya menemukan beberapa puisi dengan gaya bagaikan kumparan membentuk sebuah gelas kaca, berputar-putar menggelembung. Beberapa puisinya seperti ini dalam gambaran saya ketika membacanya: ”insomania”,”sajak mabuk”, ”sajak musim salju”.

Saya kutipkan sajak “insomania”

hampir.tengah.malam.jalan.
jalan.kota.sudah.sepi.mobil
kadang.lewat.lewat.mengiris.dingin.malam.
di.kamar.sendiri.aku.mendengar.
……………………………………………

Perhatikan penulisan setiap kata yang diakhiri tanda titik, menggambarkan bagaimana kesulitan kita untuk tidur. Bagi penderita insomania akut, penggambaran kesulitan memejamkan mata terasa dalam kata-kata yang dia tulis dengan akhiran titik. Saya melihat seperti kelopak mata ini sejenak terpejam, sejenak lagi terbuka terus menerus seperti itulah kiranya tafsir saya terhadap apa yang ditulis penyair ini dengan setiap kata langsung diakhiri titik. Padahal kalau dibaca dengan membuang tanda baca “titik” tadi akan tersususn baris-baris kata puisi biasa pada umumnya, namun di sini penyair tidak hanya menyampaikan isi puisi itu namun dia juga menggambarkan penyampaian itu seperti pembaca ini mengalami juga penyakit “insomania” dengan kejelasan titik-titik dalam setiap kata yang tersusun itu. Luar biasa!

Di sini kemudian saya menemukan sisi lain dari Saut penyair garis keras ini (sebagian teman sastrawan menilai dia begitu), rocker garis cadas atau metal kali ya kalau pada aliran musik. Namun saya tak setuju seratus persen terhadap penilaian ini. Justru dalam syair syairnya itu banyak saya temui kelembutan seorang penyair yang sebenarnya, juga rasa tanggung jawab dia terhadap pembelajaran bagi pembacanya bagaimana dia menuntun pembaca untuk dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan, apa yang ingin dia ceritakan dengan segudang petualangannya selama ini mencari kehidupan dan membentuk kehidupan dia selanjutnya. Kata baginya tidak hanya sekedar rangkaian memilah milah, menggabung gabung, tapi bagaimana kata disusun dalam kontek tradisi juga pembacaan yang diatur dengan memberikan semacam tanda bagi pembaca yang mendalami puisi puisinya. Hal ini sangat jarang saya temui pada puisi-puisi penyair lain.

Saut yang gegap gempita dalam konsistensi pendapat dan pemikiran juga tercermin dalam babak ke dua yang berjudul POLITIK.

Sajak sajaknya pada babak ini luar biasa, penuh tenaga dan dorongan, kuat dalam penyampai ide dan kesederhanaan kata itu berhasil membuat beberapa teman kecil saya di SMA bisa memahami mengapa seorang penyair juga harus peka terhadap kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya, tidak hanya situasi kemanusiaan, namun juga merembet pada keadaaan Negara, perjuangan kantong-kantong perlawanan yang ada di masyarakat pada umumnya.
”Sajak mimpi untuk Widji Thukul”, ”marsinah”, ”dari berita di sebuah majalah”. Puisi terakhir ini sempat membuat mata hati saya meradang merah dan menggigil.

Saya kutipkan sebagian dengan ditemani lolongan Celien Dion dalam the power of love,

bocah perempuan itu pecah jantungnya
waktu dituduh mencuri perhiasan tetangga
airmatanya cuma minyak
memarakkan api di dada sang angkara murka

lalu seorang polisi membawa bocak kecil itu
ke kantornya. lalu polisi itu menendang
badan kecilnya ke dalam sel yang terlalu
besar buat rasa takut di matanya
dia tak pernah mencuri perhiasan siapa
siapa jawabnya waktu sebuah kepalan
tangan raksasa menghancurkan semua
keriangan kanak kanaknya
selamanya
lalu perempuan kecil itu direndam
bagai selembar sarung kotor di bak mandi
kantor polisi
lalu perempuan kecil itu dinikmati
jerit kesakitannya oleh dua polisi
yang duduk merokok di kursi yang memaku kuku kakinya
ke semen lantai!

Puisi ini cukup panjang, dan membuat saya tak mampu membaca habis, karena tanpa sadar airmata mengaburkan kata-kata itu dan lamat-lamat seperti terdengar suara penyiar dalam acara buser atau jejak pembunuh entah apalagi di televisi dalam acara yang biasanya mengulas pembunuhan yang sudah dikemas menjadi barang tontonan menarik dan acara ini telah menjadi semacam ”guide” bagi lahirnya pembunuh pembunuh selanjutnya di masyarakat. Ya, acara televisi yang paling saya benci dan kurcaci saya larang untuk menontonnya, takut dia akan menjadi pembunuh dalam dunia lain.

Kebobrokan moral, ketidak adilan dan tingkah laku masyarakat di sekeliling ini, memang tak luput dari goresan imajinasinya yang pilu dan dalam. ”sajak orang orang buangan”, ”surat bawah tanah”, ”catatan subversif tahun 1998”, juga puisinya tentang kejadian Mei 1998, ”aku adalah mayat” dan masih banyak lagi, yang begitu kuat menggambarkan situasi peristiwa yang berhubungan dengannya.

Ada satu puisi dalam babak ini yang begitu menyentuh judulnya “inilah aku”

inilah wajahku
yang kau siarkan di media massamu
tak perlu lagi kau memburuku

inilah tanganku
yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu
tak perlu lagi kau memburuku

inilah kakiku
yang kau katakan lari dari tanggungjawabku
tak perlu lagi kau memburuku

dan inilah dadaku
yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri
tembaklah dengan senapanmu

kalau kau berani melawan nuranimu!

Pada babak terakhir buku kumpulan ini RANTAU lebih banyak memuat puisi puisinya dalam bahasa Inggris, yang memperjelas kalau penyair ini merantaunya di negeri sono. Ada beberapa yang merupakan terjemahan puisi dia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris seperti “1966”, “totem”, “subversive notes 1998”, “a letter from the underground”, “imagine we were in Dili”. Judul yang terakhir ini, sebelumnya dalam bahasa Indonesia terdapat dalam babak POLITIK ini cukup menggelikan setelah membacanya. Saya kutipkan dengan keriangan Michael Learns dalam the actor dari jauh mengalun lembut,

seandainya kita di Dili imagine we were in Dili

“jangan tembak, pak! “don’t shoot, sir!
jangan tembak! please don’t shoot I’m an Indonesian!
saya ini orang Indonesia! look! here’s my ID card.
lihat KTP saya KTP Jakarta!!!” it was issued in Jakarta!!!”

“wah, tenane, lho sialan! “It’s true, shit!
ya sudah. Hayo sembunyi! okay, go and hide sana di Koramil. ourheadquarters. Hurry up!
kok wong Indonesia ada di jalan, hat the hell is an Indonesian doing out in the street,
pengen mati, ya! diancuk!!!” do you want to get shot dead, eh? hurry up!
bastard!”

15 september 1999

Saya baru tahu kalau pisuh pisuhan bahasa Suroboyoan itu dalam bahasa Inggris jadi “bastard”, tapi kayaknya lebih enak dalam bahasa aslinya deh! terasa nendang diintonasinya. Dan saya bisa lebih leluasa misuhi wong bule dengan aslinya, kalau diterjemahkan kurang makyus. Dan Saut dalam puisi tersebut berupaya melucu namun getir. Bahasa sulitnya parody satire, dalam perang yang kejam selalu ada kelucuan terselip.

Buku tebal bergambar narsis habis penyairnya ini diambil kala dia masih imut dan menggemaskan, apakah sudah gede begini masih menggemaskan? Tentunya hanya untuk seorang Katrin Bandel hal ini masih menggemaskan dan bagi lawannya yang suka dikritik, Saut pun masih menggemaskan (barangkali?), rasanya tak habis habis untuk digali dan diselami. Bagi saya yang belum bertatap muka dengannya, walau sudah sering kontak by sms dan membaca beberapa esainya yang ditulis cukup serius, setidaknya cukup memberikan gambaran seorang Saut Situmorang yang sebenarnya mempunyai sisi bertolak belakang dengan gaya lantang bicaranya apalagi bila dia menemukan ketidak adilan dalam perjalanan sastra Indonesia saat ini.

Di akhir buku ini ditutup dengan tiga puisinya yang berjudul “Blues for Allah 1” , “Blues for Allah 2”, dan “Blues for Allah 3”, puisi puisi ini sangat pendek, orang bilang walau dia pendek tapi padat berisi dan telak. Bahkan untuk puisi “Blues for Allah 3” tidak ada isinya, kosong melompong, dibiarkan pembacanya untuk bebas mau menulis apa.
Iringan lembut Whitney Houston dalam I will always love you mengantarku menyelami dua puisi terakhir ini.

Blues for Allah 1

the sky’s so blue the kids’re playing
then the sea rose and ate up everything -
tsunami

Blues for Allah 2

the lonely moon and
the silent night are what the
tsunami left behind

Blues for Allah 3

Penilaian saya akan puisi-puisi Saut yang mudah untuk dicerna pembaca awam ini, tidak terikat dengan metafora yang jelimet, namun centang perentang dalam penyampaian gagasan juga penilaian dan perlawanan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, membuat saya pribadi tak lelah menikmati puisi-puisinya. Walau ada beberapa puisi panjang dalam bait dan barisan kalimat, tetapi tidak memanjang satu kalimat oleh puluhan kata ini, sehingga bagi saya yang penggemar berat puisi yang tidak bertele-tele, terasa nyaman di mata dan di hati.

Puisi-puisinya mewakili karakter dia sebenarnya, di satu sisi lembut, lucu dan romantis kering, di sisi lain garang perlawanan dan lantang tergores. Jadi ingat cerita Vendetta dengan lambang “V”nya yang terkenal itu.

Seorang Anak Telah Lahir Bagi Kita,..

Hati kita penuh sukacita,
karena Ia telah lahir bagi kita...
Yesus menjadi seperti kita,
supaya kita dapat menjadi seperti Dia...
Suatu pemberian yang indah dan ajaib,
yang diberikan kepada setiap hati yang menantikan-Nya...

Jumat, 18 Desember 2009

USU MAE UPULERU,..


Poka poka tanuar baku sena. kunang kunang urung bungah cengkeh.
soso kamuka dengar habar. marinyo tabaos dengar titah upu lanite

burung pombo manari diatas tana. kewang huele dari tenga tenga ewang
eee, mahina malona, pameri wijik deng negri

mari badansa nari badonci. ator langkah pende la tiop tahori
anana negri angka kapata. usu mae Upuleru

ambei cengkeh dalang timbil, angka pala dari para para
ator momar pake kalabasa jang lupa ikang julung dalang waya
ator isi kabong, kasbi sampe kombili

katong cakalele, katong cakaiba, katong semua arika pele Upuleru di jiku straat mata ampa

anak kacil su jadi Upuleru di palungan
pohong trang sinar katong tita dunya
jang taku! jang bimbang!
Tongala pegang ale supaya jang tasonto
lalu rame rame katong bilang: su sopu kokun Upuleru

Hadiah Terindah,..

Saya meletakkan gagang telepon dan berpaling ke arah orang tua saya. "Kata Dr. Wallwork, aku bisa pulang untuk merayakan Natal." Kami tersenyum bersama seakan-akan perkataan dokter itu adalah berita baik, tetapi kami tahu bahwa hal itu bukanlah berita baik.

Saat itu tanggal 22 Desember 1980. Sudah beberapa bulan ini kami tinggal di suatu tempat yang disebut Life Row. Gedung ini merupakan apartemen yang berdekatan dengan Rumah Sakit Stanford di Palo Alto. Di tempat inilah pasien seperti saya menunggu donor organ tubuh yang dapat digunakan untuk tranplantasi. Pada usia 18 tahun, saya menanti-nantikan jantung yang baru.

Ibu menelepon nenek yang berada di rumah kami di Napa, California. "Kami akan pulang!" katanya. "Mari kita merayakan Natal dengan baik!"

Kami bertiga menyiapkan semua barang dan masuk ke mobil Dodge Magnum kami. Hati kecil saya berharap ini bukanlah masa liburan. Saya ingin merasakan nikmatnya berada di rumah, tetapi kami semua tahu bahwa tanpa jantung yang baru hari kematian saya akan semakin dekat. Apa gunanya merayakan Natal?

Tetapi, bagaimanapun juga, kami akan pulang. Saya memutuskan bahwa saya akan berusaha menyenangkan keluarga -- saya yakin mereka pun berusaha menyenangkan hati saya.

Pemandangan di luar mobil sangat menyenangkan. Tinggal di rumah sakit selama berbulan-bulan adalah saat-saat yang berat. Bagi remaja seperti saya, dinding-dinding yang berwarna putih dan bau antiseptik benar-benar telah membuat saya muak. Sekarang, semua warna, suara, bahkan bau knalpot terasa sangat menyenangkan. Dua tahun belakangan ini adalah masa yang sangat sulit. Saya lahir dengan kondisi jantung yang kurang baik, tetapi tidak terlihat saat saya bayi. Saya menjalani kehidupan yang normal. Masa SMU saya penuh dengan teman-teman, ektrakulikuler, dan olahraga. Kehidupan sangat menyenangkan.

Saat masuk kuliah saya mulai mengalami beberapa kali gagal jantung. Sekarang pun, duduk di bangku mobil, saya dapat merasakan jantung lemah saya berdetak dengan susah payah di dada. Ia tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Seiring perjalanan pulang yang cukup jauh, saya mencoba untuk berkonsentrasi pada hal-hal indah yang telah saya terima. Pertama, dokter kami berhasil memasukkan saya ke dalam program tranplantasi di Stanford. Kemudian, ketika sepertinya tidak akan mungkin memperoleh uang yang cukup untuk operasi, seluruh warga Napa datang menolong. Mereka menjual kue dan mengadakan berbagai program pengumpulan dana lainnya. Teman, saudara, dan bahkan orang yang tidak kami kenal pun ikut menyumbangkan darahnya. Saya ingin bersyukur atas semua ini, tetapi semua itu tidak akan terlalu berdampak jika saya tidak memperoleh jantung yang baru.

Ayah berbelok masuk ke jalan-jalan kota Napa yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Tak lama kemudian kami tiba di pekarangan rumah putih kami. Pintu depan terbuka dan nenek lari keluar.

"Kembali! Kembali!" Nenek berteriak.

"Apa?"

"Mereka telah mendapatkan sebuah jantung!" teriaknya. "Mereka telah berusaha mencari kalian! Polisi lalu lintas telah berusaha mengejar kalian bahkan berita ini telah disiarkan di radio!"

" Mereka telah mendapat sebuah jantung?" kata ayah, seakan-akan tidak dapat mempercayainya.

"Ya, tetapi mereka hanya dapat menjaganya sampai pukul 4:30! Dan, sekarang sudah pukul 3:25!"

Kami saling berpandangan dengan kaget. Perjalanan kembali ke Palo Alto membutuhkan waktu satu setengah jam. Tetapi nenek telah memikirkannya. "Kami telah menyewa pesawat," ucapnya.

Saat nenek berbicara, sebuah mobil polisi datang. "Masuklah!" ucap sang polisi. "Kita menuju ke lapangan udara Napa!"

Pertarungan kami melawan waktu pun dimulai. Polantas berhasil membawa kami ke lapangan udara dan pilot pesawat Cessna Skyhawk berhasil menerbangkan kami sampai ke Palo Alto. Sebuah mobil ambulans telah menunggu kami di landasan pacu untuk membawa kami ke rumah sakit.

Kami tiba di rumah sakit pada pukul 4:26, hanya tersisa waktu 4 menit!

Di ruang operasi mereka mulai memberikan berbagai obat yang dibutuhkan tubuh saya agar tidak melawan jantung yang baru. Kemudian saya mendengar nama saya diucapkan di radio. Pembaca berita meminta para pendengarnya untuk memanjatkan doa sejenak bagi saya karena operasi akan segera dilakukan. Saat itu saya pun ikut berdoa.

Ibu dan ayah menunggu saya. "Ayah rela memberikan apa aja untuk menggantikan tempatmu, Nak," ucap ayah.

Ibu menempelkan telinganya di dada saya yang berdebar dengan kerasnya. "Ibu dapat mendengarnya," ucap ibu.

"Esok, suaranya akan berbeda," jawab saya. Kemudian saya menyerahkan kepada ibu sebuah kartu yang selama ini saya pegang, kutipan dari Yehezkiel 36:26 "Aku memberikan hati yang baru dan roh yang baru dalam hatimu."

Dua hari berikutnya terasa kabur. Pada hari kedua, saya tahu bahwa saya berada di kamar UGD khusus untuk pemulihan pasien yang baru saja menjalani transplantasi. Suster saya, Seana, memberitahukan bahwa operasi berjalan sukses.

Pada hari berikutnya saya sudah dapat duduk di tempat tidur. Dada saya terasa sangat sakit karena dibedah. Tetapi, ada satu hal yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam 2 tahun ini, saya tidak dapat merasakan hati saya!

Keluarga saya berkumpul di sisi luar kaca kamar. Mereka harus mengenakan baju steril, sarung tangan, dan masker wajah yang terlihat konyol, dan mereka hanya boleh masuk berdua-berdua. Namun, mereka tetap ingin menjenguk!

"Dan," ucap ibu. "Selamat Natal!"

Natal. Ini adalah Hari Natal. Padahal, beberapa hari yang lalu saya merasakan tidak ada gunanya merayakan Natal. Sekarang saya punya alasan untuk merayakannya!

Dengan tangan bergetar ibu menyerahkan Alkitab saya ke tangan saya. Kami bersama-sama membuka Lukas pasal 2, dan setiap orang diam saat kami membacakan kisah kelahiran Yesus.

Setelah itu, Seana membawakan setumpuk surat yang ditujukan kepada saya. Semua kartu -- banyak kartu berasal dari orang yang tidak saya kenal -- yang menyatakan bahwa mereka berdoa bagi saya. Saya merasa sangat tersentuh. Kami membuka dan membacakan setiap surat.

Akhirnya saya tiba pada sebuah surat dengan cap pos dari daerah barat. Saya terdiam, terlalu kaget untuk dapat berbicara. "Dan, ada apa?" ayah bertanya. Dengan terisak-isak saya membacakan surat tersebut.

Dan yang terkasih,

Sekalipun kami tidak mengenalmu, saya dan suami saya merasa sangat dekat dengan keluargamu. Anak kami satu-satunya, Lloyd, adalah donormu. Menyadari bahwa kamu memiliki jantungnya membuat kami lebih ringan menanggung rasa kehilangan kami.

Dengan penuh kasih,
Paul dan Barbara Chambers

Saya tidak dapat lagi menahan air mata saya. Dan, tiba-tiba saja segalanya menjadi jelas alasan sebenarnya mengapa saya harus merayakan Natal. Dalam kematian satu-satunya anak keluarga Chambers telah memberikan kehidupan kepada saya. Dalam kematian-Nya, Anak Allah satu-satunya telah memberikan kehidupan-Nya kepada kita, kehidupan kekal. Ingin rasanya saya meneriakkan rasa syukur karena Yesus Kristus telah lahir!

"Terima kasih, Tuhan!" kata saya. "Dan diberkatilah kamu," ujar saya saat memikirkan anak muda yang telah menandatangani kartu donor yang telah memberikan hadiah Natal terindah. "Diberkatilah kamu, Lloyd Chambers."

Kehidupan setiap orang adalah rencana Allah. ( Horace Bushnell)

Apa yang Kita Suka dari Natal?

Apa yang Kita Suka dari Natal;
Apakah kegembiraan kita terletak pada pernak-perniknya?
Ataukah pada apa yang kita rasakan di dalam hati kita
Hadiah sejati adalah apa yang Natal hadirkan.

Bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi,
Mengirimkan kartu Natal,
Menyambut orang-orang yang membawa kebahagiaan dengan penuh sukacita
Khususnya mereka yang mengasihimu.

Natal yang Teduh

natal telah menjadi puisi alam raya
hiruk-pikuk pekik sorak hura-hura
apalagi cuma gegap gempita iklan
agaknya sudah tidak diperlukan

mohon jangan gaduh
sang bayi penebus bumi
masih tertidur nyenak
dalam dekapan bunda terkasih
semua ilalang, seisi kandang
adalah segala yang teduh
dalam syukur dan simpuh

ya, natal itu puisi alam raya
karena itu jangan gaduh
bumi kita telah ditebus
perlu istirahat dan tidur
ia sudah amat lelah
bekerja keras menata nasib
beri kesempatan ia bermimpi
biarkan ia merindu dan mencinta
merdeka dari segala tetek bengek
yang makin menjauhkan bumi kita
dari sang keabadian sendiri