Saat makan siang dengan beberapa teman, salah seorang dokter bedah bertanya kepada saya," dokter, operasi terhebat apakah yang pernah anda lakukan?"
Saya bingung harus menjawab operasi yg mana. Saya sudah banyak melakukan operasi Dan semuanya menuntut keahlian, kesabaran, ketelitian yg tinggi.
Kemudian saya teringat pada operasi yg dijalani oleh gadis kecil yg hanya mempunyai harapan 10% saja untuk hidup.
Malam itu para perawat membawa seorang gadis kecil yg berwajah pucat masuk ke-ruang operasi. Waktu itu pikiran saya sedang dipenuhi berbagai macam persoalan yang berat. Ketika para perawat sedang mempersiapkan pembiusan, gadis kecil ini bertanya kepada saya ....
"Dokter bolehkah saya menanyakan sesuatu ?"
"Ya sayang, apa yg ingin kamu tanyakan?"....
"Setiap malam sebelum tidur saya selalu berdoa, sekarang sebelum operasi dimulai, bolehkah saya berdoa?"......
"Baiklah anak manis, engkau memang harus berdoa, jangan lupa berdoa juga untuk saya.".........
Kemudian gadis kecil itu melipat kedua tanganya Dan berdoa......"Yesus, engkau gembala yang baik, berkatilah domba kecilMu malam ini, dalam kegelapan, kiranya Engkau dekat denganku, lindungi aku sampai datangnya sinar mentari esok pagi" Dan berkati pula dokter yg akan mengoperasiku."
Setelah menutup doanya gadis kecil itu berkata " sekarang saya sudah siap Dokter.
Mata saya berkaca2, melihat betapa besar iman yang dimiliki gadis kecil tersebut. Malam itu sebelum saya mulai operasi, saya berdoa......
" Tuhan yg baik, engkau boleh tidak membantuku dalam operasi yang lain, tapi kali ini bantulah aku untuk menyelamatkan gadis kecil ini," kemudian saya mulai mengoperasi gadis kecil itu Dan keajaiban terjadi, dia disembuhkan.
Saat berpisah Dan melepas gadis kecil itu untuk kembali ke rumah, maka saya sadar sesungguhnya sayalah " pasien" yg menjalani operasi iman. Gaya hidup gadis kecil itu mengajarkan bahwa jika Kita menyerahkan seluruh masalah & beban hidup Kita ke dalam tangan Tuhan, maka Dia akan memulihkan & menolong Kita.
Doa & Iman !......
Membuat Kita yakin bahwa Tuhan mampu memelihara & menjaga harapan yang Kita gantungkan kepadaNya.
Doa menjadikan iman sebuah kenyataan. Doa yg dinaikkan dengan iman akan menghapuskan kekuatiran di dalam hati Kita, sehingga DOA itu akan mendatangkan mujizat. Tidak Ada yg mustahil bagi orang yang percaya kepadaNya, karena itu tetaplah berdoa dengan penuh kenyakinan & pengharapan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Yohanes 16 : 24
"Sudahkah kamu berdoa dengan iman ? Mintalah maka kamu akan menerima dengan penuh sukacita.........."
Sabtu, 19 Desember 2009
MENGHARDIK TUHAN,..
Seorang pria bernama Dwi sedari kecil bercita cita menjadi pilot. Ambisi yang besar serta keinginan membaja dengan tekad bulat, berhasil mengantarkan dia masuk ke sekolah penerbangan di curug, tangerang. Dengan seragam sekolah penerbangan, dia sangat bangga dengan seragamnya. Hobi-nya setiap hari adalah mejeng didepan kerumunan orang banyak, seolah olah mau mengatakan, "lihatlah seragam saya, saya calon pilot !" Aksinya makin membuat dia over convident ketika bertemu dengan gadis-gadis. "Saya calon pilot !" begitulah yang dia selalu ucapkan berkali kali.
Satu ketika dia bertemu dengan seorang gadis mahasiswi di salah satu perguruan tinggi teologia, dan berkenalan dengannya. Namanya Bethania Eden, orang ambon. Perawakannya hitam manis, cara bicaranya sangat santun. Mereka saling jatuh cinta.
Sampai akhirnya Bethania dibawa oleh Dwi untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Baru didepan rumah, Ibu dari Dwi sudah menunggu dan langsung melakukan interview live seperti acara breaking news.
Yang pertama ditanyakan sang ibu bukanlah nama, melainkan berapa tanggal lahir kamu ? Langsung dihitung oleh sang ibu. Ternyata, menurut tanggalan Jawa, mereka tidak cocok.
Pertanyaan kedua adalah "kamu orang mana ?" Begitu tahu sang Ibu kalau si Bethania itu orang Ambon, matanya langsung melotot.
"Hei .. orang Ambon mesti cari jodoh orang Ambon juga ! Tidak boleh cari jodoh dengan orang jawa, apalagi dengan anak saya ! Maklum, si Ibu tidak menyukai orang Ambon. Apalagi orang Batak dan Madura.
Mereka akhirnya pacaran diam diam. Backstreet way. Menjelang kelulusan Dwi dari sekolah pilot, dia harus melewati satu ujian, yaitu terbang solo dengan instrukturnya dengan menggunakan pesawat baru dari Jerman. Sebelum itu, dia sudah mendapat tawaran pekerjaan dari Garuda Indonesia ( karena dia termasuk siswa cemerlang, bahkan tidak diperlukan test lagi untuk masuk ke Garuda ) . Jadi, setelah lulus dia akan bekerja di Garuda. Pagi hari sebelum ujian, dia sempat menelpon sang kekasih untuk memberitahukan penerbangannya yang terakhir dalam sekolah.
Dia terbang, didaerah Jawa Barat. Berjalan beriringan dengan instrukturnya. 2 pesawat melayang terbang. Keduanya terlibat percakapan yang asyik, sampai mereka melewati batas zona hijau ( kondisi yang tidak disarankan untuk penerbangan, karena akan melewati awan putih yang hampa udara ) ketika masuk kedalam awan, pesawatnya langsung turun karena hampa udara dan jatuh ke tebing gunung gede.
Pesawatnya terbakar kedua-nya. Sang instruktur bisa melepaskan diri dari kebakaran, namun tidak bagi Dwi. Dia terbakar hidup hidup selama 1 1/2 jam. Instrukturnya tidak bisa menolong karena api yang terlalu besar. Tapi akhirnya dwi bisa ditolong juga.
Masuk ke rumah sakit Siloam Glenagles, Lippo Karawaci yang waktu itu baru berdiri ( tahun 1997 ), dokter sudah memvonis bahwa hidup Dwi paling lama hanya 3 hari, karena luka bakarnya yang masuk grade 3 ( sangat parah ). Kondisinya ? lubang hidung menjadi lebih besar karena kulit sekitar hidung ciut akibat panas, daun telinga juga demikian. Belum lagi badannya yang gosong.
Dwi dimasukan kedalam ruangan isolasi, tenggorokannya terpaksa dilubangi untuk mengeluarkan asap dari paru parunya. Secara fisik, tidak mungkin hidup lama.
Si Ambon, kekasihnya ketika datang kerumah sakit, ditolak mentah mentah oleh ibu Dwi. Dia tidak diperkenankan masuk keruangan isolasi. Akhirnya dengan sedih dia menunggu di kapel (ruangan untuk berdoa didekat ruangan isolasi ).
Benar juga, nafas Dwi makin lama makin lemah, dan beberapa saat kemudian, Dwi meninggal. Didepan dokter, orang tua dan suster, mayat Dwi diratapi. Disaat yang sama, sang kekasih tidak mengetahui apa yang terjadi, dia hanya berdoa, Tuhan, tolong Dwi, saya mau menerima dia apa adanya dengan kondisi apapun. Tuhan menjawab doa si Ambon.
Mayat Dwi tiba tiba duduk tegak sambil berteriak Bethania. Kontan saja semua orang disana dibuatnya terkejut. Sang dokter bertanya, "siapa Bethania ?"
Lalu orang tuanya juga tidak tahu (karena tidak pernah menanyakan nama si Ambon). Akhirnya sahabat Dwi memberitahukan kalau itu nama pacarnya. Akhirnya, si Ambon masuk juga, tapi dia sama sekali tidak percaya kalau Dwi kondisinya sudah hancur. Kalau wajah Dwi waktu dulu seperti Tom Ming Se, sekarang berubah seperti Tom Yam.
Itulah Dwi, depresi mulai menyerangnya. Dia tidak mau lagi bertemu dengan orang orang. Dia mulai putus asa. Berteriak kepada Tuhan dari ruang isolasi, sambil memegang surat dari Garuda. Disinilah dia menghardik Tuhan, dan selalu bertanya, "kenapa ? kenapa saya mesti seperti ini ?"
Sang pacarpun tidak kalah depresinya. Setiap ke rumah sakit, selalu ditolak oleh Ibu Dwi, bahkan satu kali, wajah Bethania, diludahi oleh ibu Dwi. Tapi karena Bethania mengasihi Dwi, air ludah itu, dia bawa pulang dan dia doakan berkat bagi ibu Dwi. Anda bisa seperti itu ?
Kesengsaraan fisik Dwi, membuat suster di rumah sakit tidak sampai hati melihatnya. Mereka tidak tahan dengan penderitaan Dwi. Tapi bersyukurlah masih ada bethania, si Ambon yang sangat mengasihi Dwi.
Satu satunya jalan untuk mendekati Dwi, adalah menikah! akhirnya dia membicarakan kepada orang tua nya, dan mereka tidak setuju. Lalu dia pergi ke majelis gereja (karena dia masuk pelayanan sebagai hamba Tuhan), mereka juga tidak setuju.
"Dari sekian pemuda di gereja ini, masak tidak ada satupun wajah yang layak untuk kamu?" begitulah ibu majelis bertanya kepadanya. Dan kesempatan terakhir, adalah berbicara dengan orang tua Dwi. Singkat cerita mereka akhirnya menikah !
2 tahun dirumah sakit dengan 25 kali operasi plastik, akhirnya Dwi diperbolehkan pulang. Bukan karena Dwi sudah sembuh, melainkan dana dari departemen perhubungan sudah habis untuk biaya berobat Dwi di rumah sakit. Padahal, jari jari tangan Dwi masih menempel karena panas. Jadi sudah seperti burung pinguin tangannya.
Ada kejadian lucu ketika masih di rumah sakit. Satu kali Dwi merasa bosan dengan masakan rumah sakit, dan hendak makan sate ayam. Satu satunya yang jual sate ayam adalah abang sate yang selalu melintas dibelakang rumah sakit pada waktu malam. Dwi serta pacarnya berdua menunggu dibelakang rumah sakit. Dwi waktu itu masih diperban seluruh badannya. Menunggu sekian lama, membuatnya capek dan hendak duduk di sebuah dahan pohon kamboja. Dan ketika tukang sate lewat, Dwi memanggil abang sate itu, he he yang ada tukangnya lari tunggang langgang, sampe gerobaknya menabrak tiang listrik. Besoknya tersebar rumor para pedagang, bahwa malam malam ada setan di belakang rumah sakit.
Pernah juga Dwi tanpa sengaja tangannya ditarik oleh seorang kru film yang sedang syuting di rumah sakit. Mereka berpikir, Dwi itu figuran mereka. Ternyata mereka sadar, itu bukan figuran mereka.
Lepas dari rumah sakit, Dwi harus bekerja. Tapi bekerja dimana? kondisi badan seperti itu (kepalanya botak abis, mukanya masih belang belang) apakah mudah mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ada tawaran sebagai agen asuransi. Sewaktu di wawancara, dia dipandang sebelah mata oleh si pewawancara. Target orang normal aja sebulan 1 klien. Tapi untuk Dwi ? 2 bulan 1 client. Tahu apa yang terjadi ? 43 client dia bisa dapatkan hanya dalam tempo 1 bulan!
Bukan hanya dia bekerja, tapi juga dia mau membagi kesaksian hidupnya kepada semua orang. semangat hidupnya mulai bangkit. Ketika dia membagikan cerita hidup kepada tentara tentara yang cacat ( akibat perang dengan GAM ), mereka akhirnya mau kembali lagi kepada Yesus, dimana sebelumnya mereka menyalahkan Tuhan karena tidak menyertai mereka berperang. Bahkan tak jarang, clientnya banyak yang mengikuti Yesus. Tahun 2003 kemarin, dia mendapat predikat agen terbaik dari tempat asuransi dia bekerja.
Beberapa waktu lalu, Bethania mendapat pelayanan untuk melayani satu keluarga. Alangkah terkejutnya keluarga itu melihat suami sang pendeta seperti itu. Namun setelah diberitahu, mereka baru bisa tenang. Dan salah satu dari anggota keluarga itu, sangat tertarik untuk membawa cerita Dwi menjadi serial sinetron sepanjang 25 episode. Namun akhirnya tidak jadi. Orang itu adalah direktur utama RCTI. Sekarang, Dwi diangkat menjadi karyawan RCTI ( dengan jabatan khusus ).
Rencana sinetron tidak jadi, malah diganti untuk diangkat ke layar lebar. Dengan pemeran utama Tora Sudiro ( memerankan Dwi sebelum kecelakaan ) dan Artika sari Dewi ( memerankan Bethania ), sekarang masih tahap syuting. Dan diperkirakan natal tahun ini sudah keluar filmnya.
Kemarin, saya melihat sendiri korban kecelakaan pesawat itu, si Dwi. Dari jauh, saya kira si bos Medco Energi ( Arifin Panigoro ) maklum, kepala Dwi khan sekarang pelontos dengan kulit agak gelap, jadi hampir agak agak mirip. Sedangkan Bethania, sang istri, sangat cantik ! mereka sekarang dikaruniai seorang anak berusia sekitar 5-6 tahun.
Dwi memang tidak jadi pilot pesawat, tapi sekarang sudah menjadi pilotnya Yesus. Membawa penumpang dari gelap menuju terang !
Satu ketika dia bertemu dengan seorang gadis mahasiswi di salah satu perguruan tinggi teologia, dan berkenalan dengannya. Namanya Bethania Eden, orang ambon. Perawakannya hitam manis, cara bicaranya sangat santun. Mereka saling jatuh cinta.
Sampai akhirnya Bethania dibawa oleh Dwi untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Baru didepan rumah, Ibu dari Dwi sudah menunggu dan langsung melakukan interview live seperti acara breaking news.
Yang pertama ditanyakan sang ibu bukanlah nama, melainkan berapa tanggal lahir kamu ? Langsung dihitung oleh sang ibu. Ternyata, menurut tanggalan Jawa, mereka tidak cocok.
Pertanyaan kedua adalah "kamu orang mana ?" Begitu tahu sang Ibu kalau si Bethania itu orang Ambon, matanya langsung melotot.
"Hei .. orang Ambon mesti cari jodoh orang Ambon juga ! Tidak boleh cari jodoh dengan orang jawa, apalagi dengan anak saya ! Maklum, si Ibu tidak menyukai orang Ambon. Apalagi orang Batak dan Madura.
Mereka akhirnya pacaran diam diam. Backstreet way. Menjelang kelulusan Dwi dari sekolah pilot, dia harus melewati satu ujian, yaitu terbang solo dengan instrukturnya dengan menggunakan pesawat baru dari Jerman. Sebelum itu, dia sudah mendapat tawaran pekerjaan dari Garuda Indonesia ( karena dia termasuk siswa cemerlang, bahkan tidak diperlukan test lagi untuk masuk ke Garuda ) . Jadi, setelah lulus dia akan bekerja di Garuda. Pagi hari sebelum ujian, dia sempat menelpon sang kekasih untuk memberitahukan penerbangannya yang terakhir dalam sekolah.
Dia terbang, didaerah Jawa Barat. Berjalan beriringan dengan instrukturnya. 2 pesawat melayang terbang. Keduanya terlibat percakapan yang asyik, sampai mereka melewati batas zona hijau ( kondisi yang tidak disarankan untuk penerbangan, karena akan melewati awan putih yang hampa udara ) ketika masuk kedalam awan, pesawatnya langsung turun karena hampa udara dan jatuh ke tebing gunung gede.
Pesawatnya terbakar kedua-nya. Sang instruktur bisa melepaskan diri dari kebakaran, namun tidak bagi Dwi. Dia terbakar hidup hidup selama 1 1/2 jam. Instrukturnya tidak bisa menolong karena api yang terlalu besar. Tapi akhirnya dwi bisa ditolong juga.
Masuk ke rumah sakit Siloam Glenagles, Lippo Karawaci yang waktu itu baru berdiri ( tahun 1997 ), dokter sudah memvonis bahwa hidup Dwi paling lama hanya 3 hari, karena luka bakarnya yang masuk grade 3 ( sangat parah ). Kondisinya ? lubang hidung menjadi lebih besar karena kulit sekitar hidung ciut akibat panas, daun telinga juga demikian. Belum lagi badannya yang gosong.
Dwi dimasukan kedalam ruangan isolasi, tenggorokannya terpaksa dilubangi untuk mengeluarkan asap dari paru parunya. Secara fisik, tidak mungkin hidup lama.
Si Ambon, kekasihnya ketika datang kerumah sakit, ditolak mentah mentah oleh ibu Dwi. Dia tidak diperkenankan masuk keruangan isolasi. Akhirnya dengan sedih dia menunggu di kapel (ruangan untuk berdoa didekat ruangan isolasi ).
Benar juga, nafas Dwi makin lama makin lemah, dan beberapa saat kemudian, Dwi meninggal. Didepan dokter, orang tua dan suster, mayat Dwi diratapi. Disaat yang sama, sang kekasih tidak mengetahui apa yang terjadi, dia hanya berdoa, Tuhan, tolong Dwi, saya mau menerima dia apa adanya dengan kondisi apapun. Tuhan menjawab doa si Ambon.
Mayat Dwi tiba tiba duduk tegak sambil berteriak Bethania. Kontan saja semua orang disana dibuatnya terkejut. Sang dokter bertanya, "siapa Bethania ?"
Lalu orang tuanya juga tidak tahu (karena tidak pernah menanyakan nama si Ambon). Akhirnya sahabat Dwi memberitahukan kalau itu nama pacarnya. Akhirnya, si Ambon masuk juga, tapi dia sama sekali tidak percaya kalau Dwi kondisinya sudah hancur. Kalau wajah Dwi waktu dulu seperti Tom Ming Se, sekarang berubah seperti Tom Yam.
Itulah Dwi, depresi mulai menyerangnya. Dia tidak mau lagi bertemu dengan orang orang. Dia mulai putus asa. Berteriak kepada Tuhan dari ruang isolasi, sambil memegang surat dari Garuda. Disinilah dia menghardik Tuhan, dan selalu bertanya, "kenapa ? kenapa saya mesti seperti ini ?"
Sang pacarpun tidak kalah depresinya. Setiap ke rumah sakit, selalu ditolak oleh Ibu Dwi, bahkan satu kali, wajah Bethania, diludahi oleh ibu Dwi. Tapi karena Bethania mengasihi Dwi, air ludah itu, dia bawa pulang dan dia doakan berkat bagi ibu Dwi. Anda bisa seperti itu ?
Kesengsaraan fisik Dwi, membuat suster di rumah sakit tidak sampai hati melihatnya. Mereka tidak tahan dengan penderitaan Dwi. Tapi bersyukurlah masih ada bethania, si Ambon yang sangat mengasihi Dwi.
Satu satunya jalan untuk mendekati Dwi, adalah menikah! akhirnya dia membicarakan kepada orang tua nya, dan mereka tidak setuju. Lalu dia pergi ke majelis gereja (karena dia masuk pelayanan sebagai hamba Tuhan), mereka juga tidak setuju.
"Dari sekian pemuda di gereja ini, masak tidak ada satupun wajah yang layak untuk kamu?" begitulah ibu majelis bertanya kepadanya. Dan kesempatan terakhir, adalah berbicara dengan orang tua Dwi. Singkat cerita mereka akhirnya menikah !
2 tahun dirumah sakit dengan 25 kali operasi plastik, akhirnya Dwi diperbolehkan pulang. Bukan karena Dwi sudah sembuh, melainkan dana dari departemen perhubungan sudah habis untuk biaya berobat Dwi di rumah sakit. Padahal, jari jari tangan Dwi masih menempel karena panas. Jadi sudah seperti burung pinguin tangannya.
Ada kejadian lucu ketika masih di rumah sakit. Satu kali Dwi merasa bosan dengan masakan rumah sakit, dan hendak makan sate ayam. Satu satunya yang jual sate ayam adalah abang sate yang selalu melintas dibelakang rumah sakit pada waktu malam. Dwi serta pacarnya berdua menunggu dibelakang rumah sakit. Dwi waktu itu masih diperban seluruh badannya. Menunggu sekian lama, membuatnya capek dan hendak duduk di sebuah dahan pohon kamboja. Dan ketika tukang sate lewat, Dwi memanggil abang sate itu, he he yang ada tukangnya lari tunggang langgang, sampe gerobaknya menabrak tiang listrik. Besoknya tersebar rumor para pedagang, bahwa malam malam ada setan di belakang rumah sakit.
Pernah juga Dwi tanpa sengaja tangannya ditarik oleh seorang kru film yang sedang syuting di rumah sakit. Mereka berpikir, Dwi itu figuran mereka. Ternyata mereka sadar, itu bukan figuran mereka.
Lepas dari rumah sakit, Dwi harus bekerja. Tapi bekerja dimana? kondisi badan seperti itu (kepalanya botak abis, mukanya masih belang belang) apakah mudah mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ada tawaran sebagai agen asuransi. Sewaktu di wawancara, dia dipandang sebelah mata oleh si pewawancara. Target orang normal aja sebulan 1 klien. Tapi untuk Dwi ? 2 bulan 1 client. Tahu apa yang terjadi ? 43 client dia bisa dapatkan hanya dalam tempo 1 bulan!
Bukan hanya dia bekerja, tapi juga dia mau membagi kesaksian hidupnya kepada semua orang. semangat hidupnya mulai bangkit. Ketika dia membagikan cerita hidup kepada tentara tentara yang cacat ( akibat perang dengan GAM ), mereka akhirnya mau kembali lagi kepada Yesus, dimana sebelumnya mereka menyalahkan Tuhan karena tidak menyertai mereka berperang. Bahkan tak jarang, clientnya banyak yang mengikuti Yesus. Tahun 2003 kemarin, dia mendapat predikat agen terbaik dari tempat asuransi dia bekerja.
Beberapa waktu lalu, Bethania mendapat pelayanan untuk melayani satu keluarga. Alangkah terkejutnya keluarga itu melihat suami sang pendeta seperti itu. Namun setelah diberitahu, mereka baru bisa tenang. Dan salah satu dari anggota keluarga itu, sangat tertarik untuk membawa cerita Dwi menjadi serial sinetron sepanjang 25 episode. Namun akhirnya tidak jadi. Orang itu adalah direktur utama RCTI. Sekarang, Dwi diangkat menjadi karyawan RCTI ( dengan jabatan khusus ).
Rencana sinetron tidak jadi, malah diganti untuk diangkat ke layar lebar. Dengan pemeran utama Tora Sudiro ( memerankan Dwi sebelum kecelakaan ) dan Artika sari Dewi ( memerankan Bethania ), sekarang masih tahap syuting. Dan diperkirakan natal tahun ini sudah keluar filmnya.
Kemarin, saya melihat sendiri korban kecelakaan pesawat itu, si Dwi. Dari jauh, saya kira si bos Medco Energi ( Arifin Panigoro ) maklum, kepala Dwi khan sekarang pelontos dengan kulit agak gelap, jadi hampir agak agak mirip. Sedangkan Bethania, sang istri, sangat cantik ! mereka sekarang dikaruniai seorang anak berusia sekitar 5-6 tahun.
Dwi memang tidak jadi pilot pesawat, tapi sekarang sudah menjadi pilotnya Yesus. Membawa penumpang dari gelap menuju terang !
CERITA NATAL,..
Los Felidas adalah nama sebuah jalan di salah satu ibu kota negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota . Ada sebuah kisah Natal yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang,
Cerita ini dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa IA bukan penduduk asli kota itu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, Tidak sampai setahun di kota itu, mereka sudah kehabisan seluruh uangnya,
Hingga suatu pagi mereka menyadari akan tinggal dimana malam nanti dengan tidak sepeserpun uang Ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong seorang bayi berumur satu tahun. Dalam keadaan panik Dan putus ASA, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya Dan tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing dari sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.
Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang untuk mendapatkan pekerjaan apapun, kalau tidak malam nanti Kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya IA pergi. Dan itu adalah kata2nya yang terakhir karena setelah itu IA tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu dengan pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika.
Selama beberapa Hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, Dan bila malam menjelang ibu Dan anaknya tidur diemperan toko itu. Pada Hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, Dan jadilah mereka pengemis disana selama 6 bulan berikutnya.
Pada suatu Hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit Dan memutuskan untuk bekerja. Persoalan nya adalah di mana IA harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, Dan tampak amat cantik. Keliahatan nya tidak Ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu Dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka.
Suatu pagi IA berpesan pada anaknya, agar IA tidak pergi kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau yang menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa Hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, Dan Kita tidak lagi tidur dengan angin dirambut Kita".
Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, Dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya, di sebelahnya
IA meletakkan sepotong roti, kemudian, dengan Mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, dimana IA bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa Hari, hingga dikantong sang Ibu
Kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh tsb.
Dengan suka cita sang Ibu menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, membayar uang muka sewa kamarnya.
Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa,
Dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota . Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya Dan membawanya kesebuah rumah mewah dipusat kota .
Disitu gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.
Suami istri dokter tsb memberi nama anak gadis itu Serrafona, mereka memanjakannya dengan amat sangat.
Di tengah-tengah kemewahan istana gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi Dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, Dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun IA pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, Dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.
Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif digereja, Dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian
Setiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.
Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, Dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan Dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga Dan istana yang paling megah di kota
Itu.
Menjelang Hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang Ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, Dan di laci meja kerja ayahnya, IA menemukan selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, Dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar Dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian IA membuka lemarinya sendiri, Dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu tampak sesuatu yang terbungkus oleh kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan Dan bukan terbuat dari emas murni.
Almarhum ibu memberinya benda itu dengan pesan untuk tidak menghilangkan nya. Ia sempat bertanya, kalau itu anting, dimana pasangannya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya.
Serrafona menaruh anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.
Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, dengan senyum yang dibuat-buat, belum pernah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat dibenaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya Dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dingin sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.
Matanya basah ketika ia keluar dari kamar Dan menghampiri suaminya, "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkin kah ibu sekarang masih Ada di jalan setelah 25 tahun?" Ini semua adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar
ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, penerbit surat kabar Dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.
Bulan demi bulan telah berlalu, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya.
Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu dinegeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah.
Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian.
Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.
Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.
Saat itu waktu sudah memasuki masa menjelang Natal .
Seluruh negeri bersiap untuk menyambut hari kelahiran Kristus, Dan bahkan untuk kasus Serrafona-pun, orang tidak lagi menaruh perhatian utama. Melihat pohon-pohon terang mulai menyala disana-sini, mendengar lagu-lagu Natal
mulai dimainkan ditempat-tempat umum, Serrafona menjadi amat sedih.
Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan hari lahirmu, tapi ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup ini 'temukan saya dengan ibu' ".
Tuhan mendengarkan doa itu.
Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan
Ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ketempat wanita itu berada, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang,
Malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik, mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa Ibunya masih hidup dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.
Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan Maha Kasih nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu nyonya, hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak terlalu banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh Dan banyak angin. Rumah-rumah disepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.
Tubuh Serrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Cepat, Serrafonna, mama menunggumu, sayang".
Ia mulai berdoa: "Tuhan beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja untuknya".
Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil masih berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita
bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka.
Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan".
Ketika mereka masuk dibelokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas, panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak.
Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya Dan 3 mobil polisi, di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi
tempat itu.
"Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang.
Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun dari Mobil, suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.
"Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu."
Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingatan semasa kecilnya kembali menerawang saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan kembali terlintas bayangan ketika IA mulai belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.
Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.
"Tuhan", ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, "Beri kami sehari,Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberinya tahu bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Sehingga mama tidak sia-sia pernah merawat saya".
Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya, wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri disaat ia masih muda.
"Mama....", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang selama ini ditunggunya tiap malam dan seiap hari - antara sadar Dan tidak kini menjadi kenyataan.
Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas, dengan perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebuah anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk Dan menyadari bahwa itulah pasangan anting yang selama ini dicarinya dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.
"Mama, saya tinggal di istana dengan makanan enak setiap hari. Mama jangan pergi, Kita bisa lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur apapun juga........ Mama jangan pergi....... ."
Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan Maha Pengasih dan Pemberi, Tuhan..... satu jam saja.......satu jam saja....."
Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang
menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.
Cerita ini dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa IA bukan penduduk asli kota itu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, Tidak sampai setahun di kota itu, mereka sudah kehabisan seluruh uangnya,
Hingga suatu pagi mereka menyadari akan tinggal dimana malam nanti dengan tidak sepeserpun uang Ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong seorang bayi berumur satu tahun. Dalam keadaan panik Dan putus ASA, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya Dan tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing dari sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.
Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang untuk mendapatkan pekerjaan apapun, kalau tidak malam nanti Kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya IA pergi. Dan itu adalah kata2nya yang terakhir karena setelah itu IA tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu dengan pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika.
Selama beberapa Hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, Dan bila malam menjelang ibu Dan anaknya tidur diemperan toko itu. Pada Hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, Dan jadilah mereka pengemis disana selama 6 bulan berikutnya.
Pada suatu Hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit Dan memutuskan untuk bekerja. Persoalan nya adalah di mana IA harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, Dan tampak amat cantik. Keliahatan nya tidak Ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu Dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka.
Suatu pagi IA berpesan pada anaknya, agar IA tidak pergi kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau yang menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa Hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, Dan Kita tidak lagi tidur dengan angin dirambut Kita".
Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, Dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya, di sebelahnya
IA meletakkan sepotong roti, kemudian, dengan Mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, dimana IA bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa Hari, hingga dikantong sang Ibu
Kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh tsb.
Dengan suka cita sang Ibu menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, membayar uang muka sewa kamarnya.
Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa,
Dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota . Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya Dan membawanya kesebuah rumah mewah dipusat kota .
Disitu gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.
Suami istri dokter tsb memberi nama anak gadis itu Serrafona, mereka memanjakannya dengan amat sangat.
Di tengah-tengah kemewahan istana gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi Dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, Dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun IA pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, Dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.
Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif digereja, Dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian
Setiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.
Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, Dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan Dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga Dan istana yang paling megah di kota
Itu.
Menjelang Hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang Ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, Dan di laci meja kerja ayahnya, IA menemukan selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, Dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar Dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian IA membuka lemarinya sendiri, Dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu tampak sesuatu yang terbungkus oleh kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan Dan bukan terbuat dari emas murni.
Almarhum ibu memberinya benda itu dengan pesan untuk tidak menghilangkan nya. Ia sempat bertanya, kalau itu anting, dimana pasangannya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya.
Serrafona menaruh anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.
Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, dengan senyum yang dibuat-buat, belum pernah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat dibenaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya Dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dingin sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.
Matanya basah ketika ia keluar dari kamar Dan menghampiri suaminya, "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkin kah ibu sekarang masih Ada di jalan setelah 25 tahun?" Ini semua adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar
ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, penerbit surat kabar Dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.
Bulan demi bulan telah berlalu, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya.
Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu dinegeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah.
Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian.
Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.
Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.
Saat itu waktu sudah memasuki masa menjelang Natal .
Seluruh negeri bersiap untuk menyambut hari kelahiran Kristus, Dan bahkan untuk kasus Serrafona-pun, orang tidak lagi menaruh perhatian utama. Melihat pohon-pohon terang mulai menyala disana-sini, mendengar lagu-lagu Natal
mulai dimainkan ditempat-tempat umum, Serrafona menjadi amat sedih.
Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan hari lahirmu, tapi ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup ini 'temukan saya dengan ibu' ".
Tuhan mendengarkan doa itu.
Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan
Ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ketempat wanita itu berada, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang,
Malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik, mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa Ibunya masih hidup dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.
Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan Maha Kasih nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu nyonya, hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak terlalu banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh Dan banyak angin. Rumah-rumah disepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.
Tubuh Serrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Cepat, Serrafonna, mama menunggumu, sayang".
Ia mulai berdoa: "Tuhan beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja untuknya".
Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil masih berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita
bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka.
Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan".
Ketika mereka masuk dibelokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas, panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak.
Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya Dan 3 mobil polisi, di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi
tempat itu.
"Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang.
Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun dari Mobil, suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.
"Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu."
Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingatan semasa kecilnya kembali menerawang saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan kembali terlintas bayangan ketika IA mulai belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.
Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.
"Tuhan", ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, "Beri kami sehari,Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberinya tahu bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Sehingga mama tidak sia-sia pernah merawat saya".
Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya, wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri disaat ia masih muda.
"Mama....", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang selama ini ditunggunya tiap malam dan seiap hari - antara sadar Dan tidak kini menjadi kenyataan.
Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas, dengan perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebuah anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk Dan menyadari bahwa itulah pasangan anting yang selama ini dicarinya dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.
"Mama, saya tinggal di istana dengan makanan enak setiap hari. Mama jangan pergi, Kita bisa lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur apapun juga........ Mama jangan pergi....... ."
Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan Maha Pengasih dan Pemberi, Tuhan..... satu jam saja.......satu jam saja....."
Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang
menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.
Kado Natal..

Salam Damai dalam Kasih Yesus......!!!
Tinggal beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Natal, pesta kelahiran Juru Selamat, Tuhan kita Yesus Kristus. Tentunya saya yakin rekan-rekan sekalian pasti sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk menyambut hari Natal. Natal tahun ini juga punya keistimewaan karena hubungannya dengan Tahun Yubileum dan 2000 tahun sejak kelahiran Yesus.
Pada Minggu malam tanggal 17 saya bersama-sama belasan rekan-rekan dari persekutuan doa Maria Bunda Allah, merayakan Minggu Adven ke-3 di paroki St.Dominic yang bergaya Gothic yang indah di kota San Francisco, California. Pada waktu homili, pastor memperkenalkan seorang wanita muda yang meninggalkan kerlap-kerlip dunia, karir yang bagus, demi untuk kembali ke tengah-tengah memori keluarganya yang dulu miskin dan hidup di tengah-tengah slum/ghetto, pemukimam orang miskin yang rawan kejahatan, di New York. Alexis, nama wanita itu, memberikan refleksi Natal yang sangat indah lewat perjalanan hidupnya. Baginya, makna Natal adalah "to put back together", untuk mengingat kembali misi kita dilahirkan di dunia ini. Serupa seperti Yesus, Allah yang menjadi manusia dengan misi-Nya di dunia. Kita dipanggil untuk mengingat kembali apa yang seharusnya kita lakukan di dunia ini dalam hidup kita. Sudahkah kita mengarahkan hati dan pikiran kita bagi Tuhan dalam masa Adven ini? Apa yang telah atau akan kamu lakukan sebelum menyambut kelahiran Yesus?
Saya menyebutkan bahwa banyak orang sibuk membuat rencana untuk mengadakan pesta-pesta Natal, diantara karyawan sekantor, bersama sanak-keluarga, diantara kawan-kawan dan lain-lain. Tukar kadopun juga merupakan acara populer dan menjadi bagian dari tradisi. Tetapi apakah kita masing-masing juga sudah mempersiapkan kado Natal bagi bayi Yesus? Apa yang harus kita berikan bagi Yesus? Yesus cuma membutuhkan satu hal saja dari kita, yaitu hati kita. Mari kita mempersiapkan hati kita supaya bisa menjadi kado yang berarti bagi Yesus. Waktu kita tinggal sedikit lagi, jangan menunda-nunda, lakukanlah sekarang.
Sebagai umat Katolik, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat hati kita lebih berharga bagi Tuhan. Misalnya dengan menerimakan sakramen pengakuan dosa. Kita mencuci bersih hati kita sebelum kita menyambut kedatangan Yesus. Berapa lama sejak terakhir kalinya kamu mengakukan dosa kepada Tuhan melalui romo? Apakah malu untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita kepada romo yang dalam hal ini bertindak mewakili Kristus (in persona Christi)? Ingatkah kita bahwa Tuhan itu Allah Yang Maha Tahu (Omni Science). Dia tidak saja mengenal kamu, tetapi mengenal kamu secara jauh lebih baik daripada kamu mengenal dirimu sendiri. Dia juga tahu apa yang kamu pikirkan dalam setiap tarikan nafasmu, dalam setiap detak jantungmu, dan dia tidak akan melupakan apa-apa yang telah kamu lakukan dalam hidupmu. Oleh karena itu menerimakan pengakuan dosa merupakan suatu perbuatan sudah layak dan sepantasnya dan membuat kita rendah hati di hadapan Tuhan dengan mengakui kesalahan-kesalahan kita. Dengan demikian hal itu akan mendamaikan kita kembali dengan Tuhan.
Masih ada waktu bagi kita untuk mengintensifkan doa-doa kita, terutama lewat doa bersama dalam Novena, Rosario, persekutuan doa dan lain-lain dimana kita juga bisa saling mendoakan satu sama lain, para sanak-keluarga, juga mendoakan orang-orang lain yang belum menerima Kristus, mereka yang imannya lemah, mereka yang menolak Kristus, mereka yang menyakiti hati kita, mereka yang terlupakan. Ini adalah "kado-kado" kita bagi orang lain, yang jauh lebih besar nilainya daripada kado-kado berbentuk materi.
Masih banyak hal-hal lain yang bisa kita lakukan baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Malam ini, sehabis mengikuti Misa Kudus di St.Dominic, saya dan rekan-rekan PD bergabung bersama sejumlah besar orang dewasa (young adults) untuk berkeliling Christmas caroling, menyanyikan berbagai lagu-lagu Natal yang riang gembira. Kita berhenti di berbagai tempat untuk menghibur orang-orang di jalanan, orang-orang di restoran-restoran maupun mereka yang tinggal di bangunan apartment. Ada manfaat caroling yang entah disadari oleh tidak oleh orang-orang. Ketika kita bernyanyi lagu-lagu Natal kepada orang-orang yang kita temui, kita sebetulnya memanggil mereka untuk kembali kepada Kristus, kepada Gereja, kepada misi mereka ketika dilahirkan di dunia ini. Ada berapa banyak orang yang telah melupakan Kristus di luar sana. Ada berapa banyak orang yang belum mengenal Kristus di luar sana. Pada saat itu kita memanggil orang-orang untuk mengingat Dia, untuk mengenal Dia. Saya teringat pada tulisan salah satu Bapa Gereja perdana dalam suatu apologinya terhadap kaisar Romawi: "Lihatlah orang-orang Kristen itu. Mereka saling mengasihi." Itulah yang membuat iman Kristen memiliki daya tarik yang universal. Kasih, yaitu Tuhan Yesus sendiri, ada diantara kita. Lebih dekat kita kepada Kristus, maka lebih besar kasih itu hidup dalam diri kita.
Oleh karena itu marilah kita mempersiapkan hati kita sebaik-baiknya supaya kita layak menyambut kedatangan Kristus. Supaya kita teringat kembali, apa misi kita di dunia ini. Supaya kasih selalu ada dalam diri kita. Itulah kado kita yang terbaik bagi Kristus.
Tuhan beserta kita.
Sekarang dan selama-lamanya.
"Behold, the virgin shall be with child and bear a son, and they shall name Him Emmanuel," which means "God is with us." (Matthew 1:23) (Matius 1:23)
"For God so loved the world that He gave His only Son, so that everyone who believes in Him might not perish but might have eternal life." (John 3:16) (Yohanes 3:16)
NATAL , ANDUNG-ANDUNG PETUALANG IBU SEORANG PENYAIR
Kali ini kumpulan puisi yang berjudul otobiografi ([sic] November 2007) dari penyair Saut Situmorang yang berisi puisi-puisi yang diramunya dalam kurun waktu 1987-2007, dengan tebal halaman 282 dan total jumlah puisi sebanyak 184 buah, saya jelajahi dalam penerawangan mata hati seorang awam.
Memasuki alam pikiran seorang Saut, bagi yang belum mengenal secara luas bagaimana dia memposisikan diri dalam kancah sastra kontemporer Indonesia, yang selalu berani dan konsisten di jalur perlawanan terhadap hegemoni kelompok tertentu yang selama ini berusaha untuk mendominasi sastra Indonesia, tentunya akan sangat berbeda penilaiannya dengan yang sudah mengenal tulisan-tulisan dan ucapan yang cukup membuat kuping pembaca atau mata lawannnya menadi meradang.
Saut dalam puisi-pusinya justru terkandung nilai-nilai manusiawi pada umumnya seorang bersikap. Kelembutan pada puisi, juga humor bernada getir dan kadang kenakalan dalam romantisme dan pemberontakan pada situasi sekelilingnya lebih dirasakan daripada seorang Saut yang penyerang dan bersuara keras.
Dalam pengantar buku tersebut yang dia tulis sendiri bahwa ciri para penyair di dunia puisi kontemporer Indonesia periode 1990an memilih kesederhanaan bahasa sehari-hari, kesederhanaan bahasa leksikal-gramatikal sehari-hari yang lugas tidak rumit, dengan tidak mengorbankan musikalitas dan visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas puitis. Bahkan dia tambahkan juga sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah Politik. Hal ini berkaitan dengan dibaginya kumpulan dalam buku tersebut dalam 3 babak yaitu Cinta, Politik dan Rantau.
Dalam penjelajahan pertama yaitu CINTA dari 3 babak imajinasi seorang Saut, dengan diiringi petikan gitar Bahalawan menari, sajak dengan judul “tidurlah cicak”, “sajak cicak”, “boraspati”, “tenunlah bendera o laba laba” dan “cicak mabuk”, sudah membuat diriku seperti melihat seseorang membuat pot keramik. Dimulai dari sebongkah tanah liat yang kemudian ditaruhnya dalam lempengan kayu pada mesin pemutar membentuk pot keramik sesuai yang diinginkan. Berputarnya mesin dan bongkahan tanah liat yang semakin besar membentuk pot ini yang tergambar dalam imajinasi saya membaca puisi-puisi tersebut.
Betapa makna yang tersirat dari kata “cicak” akan terasa semakin dalam seperti kumparan yang berputar semakin cepat dan berakhir dengan klimaks setelah selesai membaca keempat syair tersebut.
Saya kutipkan pada sajak pertama di akhir bait tertulis
cicak cicak di dinding dinding
tidurlah
tidur
kemudian pada syair ke dua,
hormatilah cicak cicak di dinding rumahmu
yang ke tiga ,
kata kata terbakar lilinlah makananMu!
Yang ke empat ,
lalu berpawailah di sekeliling langit langit kamar!
Terakhir ,
cicak mabuk di dinding
bayangannya menari sempoyongan di lilin kamar
mengikuti gitar Lightning Hopkins
dan hei, bukankah itu Li Po yang baru datang!
Penggambaran seperti kehidupan ini, mengikuti siklus yang dipelajari dalam mata rantai makanan pelajaran biologi, yang kemudian dihubungkan dengan watak manusia lewat pengertian bahwa di atas langit masih ada langit begitu seterusnya, kegetiran dan kegembiraan datang silih berganti walau tidak seperti yang diharapkan bahkan kadang memabukkan sejenak, menjadi orang lain dalam diri sendiri.
Kelembutan penyair ini kutemukan dalam beberapa puisi bahkan kadang tergores muram dan getir. Pada puisi yang dia buat setelah kawannya dari Kanada meninggal dunia dengan bunuh diri menggantung di kamar mandi di Medan. Syair itu berjudul “untuk Bill Russon, Medan, Oktober 1988”. Suara Daniel Powter menyanyikan Bad Day lamat-lamat menemani saya menyelaminya,
kematian
seperti ular juga mengganti kulitnya
dia jadi malam di kotamu yang gelap
dengan rakus dia makan bulan & bintang bintang yang
menyerah tak berdaya
dia makan juga lampu lampu neon di hotel hotel
jalan-jalan utama kota & lilin lilin redup gubuk gubuk perbatasan
dia jadi burung malam yang menjerit jerit di langit di atas
rumahmu
jadi derak pintu & jendela yang tak terkunci rapat
Kelembutan dan kegetiran juga tergores dalam puisinya yang berjudul ”Natal 1989”. Saya katakan sejujurnya puisi ini sangat kuat menggambarkan kerinduhan seorang anak terhadap ibunya yang sudah lama meninggal, hati penyair ini akan sama dirasakan oleh jutaan anak-anak di dunia terhadap kehilangan ibu pusatnya gudang rasa kasih dan maaf yang tak tergantikan, walau kita ini sekeras batu hati ini terbuat, namun IBU tetap bisa meluluh lantakkan rasa itu. Itulah alasan saya mengapa kemudian judul puisi ini saya ambil menjadi judul esai dalam memandang kumpulan puisi Saut Situmorang ini. Kali ini Michael Buble menemani dengan Home-nya, suara jengkrik di pot bunga terdengar nyaring.
Natal 1989
hari ini
genap lima tahun
aku tak merayakan natal bersamamu
di sudut ruang tamu
yang biasanya berdiri pohon natal
sekarang cuma ada sarang laba laba
dan debu -
pohon natal itu juga pergi bersamamu
di gereja ada pohon natal besar
orang orang gembira dan lilin di tangan mereka terbakar
hari ini mereka merayakan pesta -
bagiku genap lima tahun kita berpisah
seorang ibu melemparkan kembang api ke langit
dan anaknya bersorak sorak mandi hujan cahaya
aku bersihkan sarang laba laba dan debu
dari sudut ruang tamu tempatmu dibaringkan lima tahun yang lalu
Membaca bait terakhir kepedihan itu terasa tergores dalam, saya membayangkan adakah setetes air mata di sudut mata penyair ini ketika menyudahinya? Adakah dia masih merindukan “mamak” pada setiap natal yang setia hadir? Saya rasa pasti itu, apalagi bila sejenak dalam diri ini merasakan tak punya siapa siapa, sendiri dalam hidup ini, lainnya dianggap debu. Sayup-sayup suara lonceng gereja menggema, dalam lamunan seperti ada gemerincing jejak Sinterklas menapaki awan .
Disamping itu masih ada tiga puisinya yang menggambarkan akan jalinan antara dia dan almarhum ibunya, dalam puisi yang berjudul “andung andung petualang”, saya kutip sebagian, karena puisi ini cukup panjang dalam 19 bait,
“kalau kau pergi , anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
menyeberang laut menyeberang pulau
beribu gunung kota terlampaui
di negeri seberang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau
…………………………………………………………………
Keseluruhan 19 bait itu terangkai begitu indahnya, menceritakan awal dia berangkat merantau dengan dihantar hati ibu yang galau, gambaran yang terasa pilu memendam rindu dendam pada keadaan yang memisahkan penyair dan ibunya sampai kematian kemudian tiba.
Ada catatan kaki di bawah sajak ini, memberikan sekilas gambaran tentang ”andung-andung” yang merupakan nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak Toba, isinya berupa kisah hidup yang meninggal dan dinyanyikan dalam bentuk performance tunggal di hadapan jasadnya. Ternyata penyair Batak ini tetap tidak meninggalkan aroma tradisinya dalam penciptaan syair-syairnya. Bagi saya ini suatu kelangkaan, banyak penyair kontemporer Indonesia masa kini, kadang terlarut dalam hiruk pikuk kata, jarang mengangkat tema tradisi mereka sendiri dalam memperkaya khasanah penciptaan puisinya, sehingga akan melestarikan tradisi itu sendiri, namun juga akan menambah wawasan pembacanya akan berbagai ragam tradisi yang melatar-belakangi kehidupan penyair itu sendiri. Imajinasi luas tak terbatas, begitu juga ada sejuta kata yang tak sama dapat diambil dari sekeliling kita sehari hari, seharusnya tak ada kata-kata yang itu itu saja muncul di syair-syair penyair sekarang ini juga temanya, karena tradisi memperkaya tema dan kata.
Pada puisi yang berjudul “ibu seorang penyair”, menggambarkan awal ibu melahirkan sampai kemudian meninggal dunia ditorehkan dengan kesederhanaaan kata, namun tutur bahasa pengulangan yang begitu pilu, menambah goresan kelembutan hati penyair ini terpampang jelas.
ibu yang menangis
menunggu kelahirannya
ibu yang menangis
kesakitan melahirkannya
……………………………………..
ibu yang menangis itu
tak menangis lagi
airmatanya sudah habis
sekarang Dia tidur
di antara rumputan di antara bintang bintang
di langit
Kemudian klimaksnya adalah puisi yang berjudul “hanya airmata dan terik matahari yang mengerti”
rumput rumput sudah mulai panjang
dan seperti rambut kusut
merambati permukaan gundukan tanah
yang tak lagi berwarna merah
waktu aku datang mengunjungimu
pertemuan kita ini
punya arti
hanya airmata dan terik matahari
yang mengerti
…………………………………………………………
ada yang bilang tak boleh noleh ke belakang’kalau kaki sudah beranjak mau pulang
tapi dari jauh
kulihat salib kayumu
tegak penuh
seperti dirimu waktu melepasku
di pelabuhan dulu
Dalam sisi yang lain kematian binatang peliaraannya berupa kucing, mampu juga membuat penyair ini menggoreskan kata-kata mengenangnya dalam rangkaian yang indah dan menyentuh. Dalam smsnya pada saya beberapa waktu lalu, dia ceritakan bahwa kucing itu dibawa dari Medan kemudian sempat ke Eropa mengalami masa karantina 3 bulan sampai kemudian selamat di Selandia Baru. Eh, sampai di sana mati dipukul orang. Saya sempat mengira ini seekor anjing, maklum di otakku tercemar Batak kan suka anjing, tak tahu kalau ini kucing.
Lentingan suara Mariah Carey mendendangkan We belong together berbarengan dengan suara kucing tetangga mengeong sejenak, seakan kucing itu menerima tanda saya sedang membaca sajak tentang kematian kucing.
elegi claudie
di atas tanah
lembab
terlindung
beberapa rumput berduri
dia terbaring
bulu badannya
yang putih
dan pirang
tegak memanjang
dari leher
ke ujung punggungnya
kedua kaki depannya
agak terdorong ke muka
dan kaki belakangnya
keduanya tertekuk
seolah dia sedang mengamati sesuatu
kedua matanya
terbuka
terbelahak
dan mulutnya menganga
waktu kuangkat
ke pangkuanku
badannya
sudah dingin
sorenya
dokter bilang
nadi ke hatinya
pecah-
seseorang pasti memukulnya
besoknya aku
kubur dia
di atas bukit (di belakang rumah)
yang memandang ke lembah
wellington, juni 1990
Tipologi penulisan yang terpotong potong ke bawah menggambarkan betapa hati penyair ini membuat susunan kata-kata dengan terbata-bata seperti seorang anak kecil yang menangis dalam sedu sedannya bercerita ketika menjumpai hewan peliharaan mati dengan sangat mengenaskan, hancur hati, dia membuat begitu jelas intonasi kata pada baris tersendiri untuk “dia terbaring”, kemudian “seolah dia sedang mengamati sesuatu” dan terakhir penyebab kematian “pecah”. Penyair ini telah memberikan “tanda” intonasi kata apabila ada pembaca yang akan membacakan puisinya, sehingga puisi ini akan semakin hidup. Kadang pembaca sering menemukan kesulitan dalam membacakan puisi penyair. Apabila tidak terbiasa baca puisi, apalagi bagi seorang awam. Namun dalam puisi di atas ini, Saut juga memberikan semacam kemudahan dalam membaca karyanya terutama bagi orang awam untuk suatu ketika dibaca di depan publik.
Dalam babak Cinta ini, saya justru menemukan penggambaran romantisme masa pacaran penyair ini yang dibuat dalam bentuk puisi kurang begitu dalam dan kesannya kering di permukaan dan saya rasakan agak kasar, entahlah apa karena ada penggambaran hubungan yang terlalu gamblang dalam kata-kata atau mungkin saya sendiri sudah terhanyut berkubang sebelumnya dengan sajak-sajak dia dalam hubungan dengan kemanusiaan juga tentang kehidupan yang justru digambarkan dengan kelembutan hati penyair yang selalu ada dalam gambaran saya selama ini.
Ada banyak sajak yang dalam, sebagai contoh ”karena laut sungai lupa jalan pulang”, soal Gempa Yogja, “Santiago”, “penyair dan danau”, ”marilah kita mabuk”, “bocah pemancing ikan” dan sajak dia yang terkenal “saut kecil bicara dengan tuhan”.
Bahkan dalam kejadian gempa Yogja, dia masih sempat bermain nakal dalam imajinasi dengan puisi yang berjudul “aku ingin” kukutip sebagian , dengan lirih suara dentingan piano Christian Bautista dalam the way you look at me mengalun sendu ,
aku ingin bercinta denganmu
waktu gempa lewat
di kota kita
saat itu
pasti tak ada
keluh cemas , sinar mata ketakutan
atau gemetar kakimu
yang membuatku termangu
…………………………………………..
Ada beberapa puisinya yang menceritakan gempa ini, dan semuanya dia buat dengan pendalaman makna walau tersusun dari kata-kata yang sederhana. Bagi orang awam yang membacanya dapat ikut serta merasakan goncangan gempa itu dan sayatan pilu bagi korbannya. Bahkan saya sempat terjatuh dari kursi ternyata mor-bautnya copot.
Dalam imajinasi kemudian dituangkan melalui bait bait puisinya, saya menemukan beberapa puisi dengan gaya bagaikan kumparan membentuk sebuah gelas kaca, berputar-putar menggelembung. Beberapa puisinya seperti ini dalam gambaran saya ketika membacanya: ”insomania”,”sajak mabuk”, ”sajak musim salju”.
Saya kutipkan sajak “insomania”
hampir.tengah.malam.jalan.
jalan.kota.sudah.sepi.mobil
kadang.lewat.lewat.mengiris.dingin.malam.
di.kamar.sendiri.aku.mendengar.
……………………………………………
Perhatikan penulisan setiap kata yang diakhiri tanda titik, menggambarkan bagaimana kesulitan kita untuk tidur. Bagi penderita insomania akut, penggambaran kesulitan memejamkan mata terasa dalam kata-kata yang dia tulis dengan akhiran titik. Saya melihat seperti kelopak mata ini sejenak terpejam, sejenak lagi terbuka terus menerus seperti itulah kiranya tafsir saya terhadap apa yang ditulis penyair ini dengan setiap kata langsung diakhiri titik. Padahal kalau dibaca dengan membuang tanda baca “titik” tadi akan tersususn baris-baris kata puisi biasa pada umumnya, namun di sini penyair tidak hanya menyampaikan isi puisi itu namun dia juga menggambarkan penyampaian itu seperti pembaca ini mengalami juga penyakit “insomania” dengan kejelasan titik-titik dalam setiap kata yang tersusun itu. Luar biasa!
Di sini kemudian saya menemukan sisi lain dari Saut penyair garis keras ini (sebagian teman sastrawan menilai dia begitu), rocker garis cadas atau metal kali ya kalau pada aliran musik. Namun saya tak setuju seratus persen terhadap penilaian ini. Justru dalam syair syairnya itu banyak saya temui kelembutan seorang penyair yang sebenarnya, juga rasa tanggung jawab dia terhadap pembelajaran bagi pembacanya bagaimana dia menuntun pembaca untuk dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan, apa yang ingin dia ceritakan dengan segudang petualangannya selama ini mencari kehidupan dan membentuk kehidupan dia selanjutnya. Kata baginya tidak hanya sekedar rangkaian memilah milah, menggabung gabung, tapi bagaimana kata disusun dalam kontek tradisi juga pembacaan yang diatur dengan memberikan semacam tanda bagi pembaca yang mendalami puisi puisinya. Hal ini sangat jarang saya temui pada puisi-puisi penyair lain.
Saut yang gegap gempita dalam konsistensi pendapat dan pemikiran juga tercermin dalam babak ke dua yang berjudul POLITIK.
Sajak sajaknya pada babak ini luar biasa, penuh tenaga dan dorongan, kuat dalam penyampai ide dan kesederhanaan kata itu berhasil membuat beberapa teman kecil saya di SMA bisa memahami mengapa seorang penyair juga harus peka terhadap kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya, tidak hanya situasi kemanusiaan, namun juga merembet pada keadaaan Negara, perjuangan kantong-kantong perlawanan yang ada di masyarakat pada umumnya.
”Sajak mimpi untuk Widji Thukul”, ”marsinah”, ”dari berita di sebuah majalah”. Puisi terakhir ini sempat membuat mata hati saya meradang merah dan menggigil.
Saya kutipkan sebagian dengan ditemani lolongan Celien Dion dalam the power of love,
bocah perempuan itu pecah jantungnya
waktu dituduh mencuri perhiasan tetangga
airmatanya cuma minyak
memarakkan api di dada sang angkara murka
lalu seorang polisi membawa bocak kecil itu
ke kantornya. lalu polisi itu menendang
badan kecilnya ke dalam sel yang terlalu
besar buat rasa takut di matanya
dia tak pernah mencuri perhiasan siapa
siapa jawabnya waktu sebuah kepalan
tangan raksasa menghancurkan semua
keriangan kanak kanaknya
selamanya
lalu perempuan kecil itu direndam
bagai selembar sarung kotor di bak mandi
kantor polisi
lalu perempuan kecil itu dinikmati
jerit kesakitannya oleh dua polisi
yang duduk merokok di kursi yang memaku kuku kakinya
ke semen lantai!
Puisi ini cukup panjang, dan membuat saya tak mampu membaca habis, karena tanpa sadar airmata mengaburkan kata-kata itu dan lamat-lamat seperti terdengar suara penyiar dalam acara buser atau jejak pembunuh entah apalagi di televisi dalam acara yang biasanya mengulas pembunuhan yang sudah dikemas menjadi barang tontonan menarik dan acara ini telah menjadi semacam ”guide” bagi lahirnya pembunuh pembunuh selanjutnya di masyarakat. Ya, acara televisi yang paling saya benci dan kurcaci saya larang untuk menontonnya, takut dia akan menjadi pembunuh dalam dunia lain.
Kebobrokan moral, ketidak adilan dan tingkah laku masyarakat di sekeliling ini, memang tak luput dari goresan imajinasinya yang pilu dan dalam. ”sajak orang orang buangan”, ”surat bawah tanah”, ”catatan subversif tahun 1998”, juga puisinya tentang kejadian Mei 1998, ”aku adalah mayat” dan masih banyak lagi, yang begitu kuat menggambarkan situasi peristiwa yang berhubungan dengannya.
Ada satu puisi dalam babak ini yang begitu menyentuh judulnya “inilah aku”
inilah wajahku
yang kau siarkan di media massamu
tak perlu lagi kau memburuku
inilah tanganku
yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu
tak perlu lagi kau memburuku
inilah kakiku
yang kau katakan lari dari tanggungjawabku
tak perlu lagi kau memburuku
dan inilah dadaku
yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri
tembaklah dengan senapanmu
kalau kau berani melawan nuranimu!
Pada babak terakhir buku kumpulan ini RANTAU lebih banyak memuat puisi puisinya dalam bahasa Inggris, yang memperjelas kalau penyair ini merantaunya di negeri sono. Ada beberapa yang merupakan terjemahan puisi dia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris seperti “1966”, “totem”, “subversive notes 1998”, “a letter from the underground”, “imagine we were in Dili”. Judul yang terakhir ini, sebelumnya dalam bahasa Indonesia terdapat dalam babak POLITIK ini cukup menggelikan setelah membacanya. Saya kutipkan dengan keriangan Michael Learns dalam the actor dari jauh mengalun lembut,
seandainya kita di Dili imagine we were in Dili
“jangan tembak, pak! “don’t shoot, sir!
jangan tembak! please don’t shoot I’m an Indonesian!
saya ini orang Indonesia! look! here’s my ID card.
lihat KTP saya KTP Jakarta!!!” it was issued in Jakarta!!!”
“wah, tenane, lho sialan! “It’s true, shit!
ya sudah. Hayo sembunyi! okay, go and hide sana di Koramil. ourheadquarters. Hurry up!
kok wong Indonesia ada di jalan, hat the hell is an Indonesian doing out in the street,
pengen mati, ya! diancuk!!!” do you want to get shot dead, eh? hurry up!
bastard!”
15 september 1999
Saya baru tahu kalau pisuh pisuhan bahasa Suroboyoan itu dalam bahasa Inggris jadi “bastard”, tapi kayaknya lebih enak dalam bahasa aslinya deh! terasa nendang diintonasinya. Dan saya bisa lebih leluasa misuhi wong bule dengan aslinya, kalau diterjemahkan kurang makyus. Dan Saut dalam puisi tersebut berupaya melucu namun getir. Bahasa sulitnya parody satire, dalam perang yang kejam selalu ada kelucuan terselip.
Buku tebal bergambar narsis habis penyairnya ini diambil kala dia masih imut dan menggemaskan, apakah sudah gede begini masih menggemaskan? Tentunya hanya untuk seorang Katrin Bandel hal ini masih menggemaskan dan bagi lawannya yang suka dikritik, Saut pun masih menggemaskan (barangkali?), rasanya tak habis habis untuk digali dan diselami. Bagi saya yang belum bertatap muka dengannya, walau sudah sering kontak by sms dan membaca beberapa esainya yang ditulis cukup serius, setidaknya cukup memberikan gambaran seorang Saut Situmorang yang sebenarnya mempunyai sisi bertolak belakang dengan gaya lantang bicaranya apalagi bila dia menemukan ketidak adilan dalam perjalanan sastra Indonesia saat ini.
Di akhir buku ini ditutup dengan tiga puisinya yang berjudul “Blues for Allah 1” , “Blues for Allah 2”, dan “Blues for Allah 3”, puisi puisi ini sangat pendek, orang bilang walau dia pendek tapi padat berisi dan telak. Bahkan untuk puisi “Blues for Allah 3” tidak ada isinya, kosong melompong, dibiarkan pembacanya untuk bebas mau menulis apa.
Iringan lembut Whitney Houston dalam I will always love you mengantarku menyelami dua puisi terakhir ini.
Blues for Allah 1
the sky’s so blue the kids’re playing
then the sea rose and ate up everything -
tsunami
Blues for Allah 2
the lonely moon and
the silent night are what the
tsunami left behind
Blues for Allah 3
Penilaian saya akan puisi-puisi Saut yang mudah untuk dicerna pembaca awam ini, tidak terikat dengan metafora yang jelimet, namun centang perentang dalam penyampaian gagasan juga penilaian dan perlawanan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, membuat saya pribadi tak lelah menikmati puisi-puisinya. Walau ada beberapa puisi panjang dalam bait dan barisan kalimat, tetapi tidak memanjang satu kalimat oleh puluhan kata ini, sehingga bagi saya yang penggemar berat puisi yang tidak bertele-tele, terasa nyaman di mata dan di hati.
Puisi-puisinya mewakili karakter dia sebenarnya, di satu sisi lembut, lucu dan romantis kering, di sisi lain garang perlawanan dan lantang tergores. Jadi ingat cerita Vendetta dengan lambang “V”nya yang terkenal itu.
Memasuki alam pikiran seorang Saut, bagi yang belum mengenal secara luas bagaimana dia memposisikan diri dalam kancah sastra kontemporer Indonesia, yang selalu berani dan konsisten di jalur perlawanan terhadap hegemoni kelompok tertentu yang selama ini berusaha untuk mendominasi sastra Indonesia, tentunya akan sangat berbeda penilaiannya dengan yang sudah mengenal tulisan-tulisan dan ucapan yang cukup membuat kuping pembaca atau mata lawannnya menadi meradang.
Saut dalam puisi-pusinya justru terkandung nilai-nilai manusiawi pada umumnya seorang bersikap. Kelembutan pada puisi, juga humor bernada getir dan kadang kenakalan dalam romantisme dan pemberontakan pada situasi sekelilingnya lebih dirasakan daripada seorang Saut yang penyerang dan bersuara keras.
Dalam pengantar buku tersebut yang dia tulis sendiri bahwa ciri para penyair di dunia puisi kontemporer Indonesia periode 1990an memilih kesederhanaan bahasa sehari-hari, kesederhanaan bahasa leksikal-gramatikal sehari-hari yang lugas tidak rumit, dengan tidak mengorbankan musikalitas dan visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas puitis. Bahkan dia tambahkan juga sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah Politik. Hal ini berkaitan dengan dibaginya kumpulan dalam buku tersebut dalam 3 babak yaitu Cinta, Politik dan Rantau.
Dalam penjelajahan pertama yaitu CINTA dari 3 babak imajinasi seorang Saut, dengan diiringi petikan gitar Bahalawan menari, sajak dengan judul “tidurlah cicak”, “sajak cicak”, “boraspati”, “tenunlah bendera o laba laba” dan “cicak mabuk”, sudah membuat diriku seperti melihat seseorang membuat pot keramik. Dimulai dari sebongkah tanah liat yang kemudian ditaruhnya dalam lempengan kayu pada mesin pemutar membentuk pot keramik sesuai yang diinginkan. Berputarnya mesin dan bongkahan tanah liat yang semakin besar membentuk pot ini yang tergambar dalam imajinasi saya membaca puisi-puisi tersebut.
Betapa makna yang tersirat dari kata “cicak” akan terasa semakin dalam seperti kumparan yang berputar semakin cepat dan berakhir dengan klimaks setelah selesai membaca keempat syair tersebut.
Saya kutipkan pada sajak pertama di akhir bait tertulis
cicak cicak di dinding dinding
tidurlah
tidur
kemudian pada syair ke dua,
hormatilah cicak cicak di dinding rumahmu
yang ke tiga ,
kata kata terbakar lilinlah makananMu!
Yang ke empat ,
lalu berpawailah di sekeliling langit langit kamar!
Terakhir ,
cicak mabuk di dinding
bayangannya menari sempoyongan di lilin kamar
mengikuti gitar Lightning Hopkins
dan hei, bukankah itu Li Po yang baru datang!
Penggambaran seperti kehidupan ini, mengikuti siklus yang dipelajari dalam mata rantai makanan pelajaran biologi, yang kemudian dihubungkan dengan watak manusia lewat pengertian bahwa di atas langit masih ada langit begitu seterusnya, kegetiran dan kegembiraan datang silih berganti walau tidak seperti yang diharapkan bahkan kadang memabukkan sejenak, menjadi orang lain dalam diri sendiri.
Kelembutan penyair ini kutemukan dalam beberapa puisi bahkan kadang tergores muram dan getir. Pada puisi yang dia buat setelah kawannya dari Kanada meninggal dunia dengan bunuh diri menggantung di kamar mandi di Medan. Syair itu berjudul “untuk Bill Russon, Medan, Oktober 1988”. Suara Daniel Powter menyanyikan Bad Day lamat-lamat menemani saya menyelaminya,
kematian
seperti ular juga mengganti kulitnya
dia jadi malam di kotamu yang gelap
dengan rakus dia makan bulan & bintang bintang yang
menyerah tak berdaya
dia makan juga lampu lampu neon di hotel hotel
jalan-jalan utama kota & lilin lilin redup gubuk gubuk perbatasan
dia jadi burung malam yang menjerit jerit di langit di atas
rumahmu
jadi derak pintu & jendela yang tak terkunci rapat
Kelembutan dan kegetiran juga tergores dalam puisinya yang berjudul ”Natal 1989”. Saya katakan sejujurnya puisi ini sangat kuat menggambarkan kerinduhan seorang anak terhadap ibunya yang sudah lama meninggal, hati penyair ini akan sama dirasakan oleh jutaan anak-anak di dunia terhadap kehilangan ibu pusatnya gudang rasa kasih dan maaf yang tak tergantikan, walau kita ini sekeras batu hati ini terbuat, namun IBU tetap bisa meluluh lantakkan rasa itu. Itulah alasan saya mengapa kemudian judul puisi ini saya ambil menjadi judul esai dalam memandang kumpulan puisi Saut Situmorang ini. Kali ini Michael Buble menemani dengan Home-nya, suara jengkrik di pot bunga terdengar nyaring.
Natal 1989
hari ini
genap lima tahun
aku tak merayakan natal bersamamu
di sudut ruang tamu
yang biasanya berdiri pohon natal
sekarang cuma ada sarang laba laba
dan debu -
pohon natal itu juga pergi bersamamu
di gereja ada pohon natal besar
orang orang gembira dan lilin di tangan mereka terbakar
hari ini mereka merayakan pesta -
bagiku genap lima tahun kita berpisah
seorang ibu melemparkan kembang api ke langit
dan anaknya bersorak sorak mandi hujan cahaya
aku bersihkan sarang laba laba dan debu
dari sudut ruang tamu tempatmu dibaringkan lima tahun yang lalu
Membaca bait terakhir kepedihan itu terasa tergores dalam, saya membayangkan adakah setetes air mata di sudut mata penyair ini ketika menyudahinya? Adakah dia masih merindukan “mamak” pada setiap natal yang setia hadir? Saya rasa pasti itu, apalagi bila sejenak dalam diri ini merasakan tak punya siapa siapa, sendiri dalam hidup ini, lainnya dianggap debu. Sayup-sayup suara lonceng gereja menggema, dalam lamunan seperti ada gemerincing jejak Sinterklas menapaki awan .
Disamping itu masih ada tiga puisinya yang menggambarkan akan jalinan antara dia dan almarhum ibunya, dalam puisi yang berjudul “andung andung petualang”, saya kutip sebagian, karena puisi ini cukup panjang dalam 19 bait,
“kalau kau pergi , anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
menyeberang laut menyeberang pulau
beribu gunung kota terlampaui
di negeri seberang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau
…………………………………………………………………
Keseluruhan 19 bait itu terangkai begitu indahnya, menceritakan awal dia berangkat merantau dengan dihantar hati ibu yang galau, gambaran yang terasa pilu memendam rindu dendam pada keadaan yang memisahkan penyair dan ibunya sampai kematian kemudian tiba.
Ada catatan kaki di bawah sajak ini, memberikan sekilas gambaran tentang ”andung-andung” yang merupakan nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak Toba, isinya berupa kisah hidup yang meninggal dan dinyanyikan dalam bentuk performance tunggal di hadapan jasadnya. Ternyata penyair Batak ini tetap tidak meninggalkan aroma tradisinya dalam penciptaan syair-syairnya. Bagi saya ini suatu kelangkaan, banyak penyair kontemporer Indonesia masa kini, kadang terlarut dalam hiruk pikuk kata, jarang mengangkat tema tradisi mereka sendiri dalam memperkaya khasanah penciptaan puisinya, sehingga akan melestarikan tradisi itu sendiri, namun juga akan menambah wawasan pembacanya akan berbagai ragam tradisi yang melatar-belakangi kehidupan penyair itu sendiri. Imajinasi luas tak terbatas, begitu juga ada sejuta kata yang tak sama dapat diambil dari sekeliling kita sehari hari, seharusnya tak ada kata-kata yang itu itu saja muncul di syair-syair penyair sekarang ini juga temanya, karena tradisi memperkaya tema dan kata.
Pada puisi yang berjudul “ibu seorang penyair”, menggambarkan awal ibu melahirkan sampai kemudian meninggal dunia ditorehkan dengan kesederhanaaan kata, namun tutur bahasa pengulangan yang begitu pilu, menambah goresan kelembutan hati penyair ini terpampang jelas.
ibu yang menangis
menunggu kelahirannya
ibu yang menangis
kesakitan melahirkannya
……………………………………..
ibu yang menangis itu
tak menangis lagi
airmatanya sudah habis
sekarang Dia tidur
di antara rumputan di antara bintang bintang
di langit
Kemudian klimaksnya adalah puisi yang berjudul “hanya airmata dan terik matahari yang mengerti”
rumput rumput sudah mulai panjang
dan seperti rambut kusut
merambati permukaan gundukan tanah
yang tak lagi berwarna merah
waktu aku datang mengunjungimu
pertemuan kita ini
punya arti
hanya airmata dan terik matahari
yang mengerti
…………………………………………………………
ada yang bilang tak boleh noleh ke belakang’kalau kaki sudah beranjak mau pulang
tapi dari jauh
kulihat salib kayumu
tegak penuh
seperti dirimu waktu melepasku
di pelabuhan dulu
Dalam sisi yang lain kematian binatang peliaraannya berupa kucing, mampu juga membuat penyair ini menggoreskan kata-kata mengenangnya dalam rangkaian yang indah dan menyentuh. Dalam smsnya pada saya beberapa waktu lalu, dia ceritakan bahwa kucing itu dibawa dari Medan kemudian sempat ke Eropa mengalami masa karantina 3 bulan sampai kemudian selamat di Selandia Baru. Eh, sampai di sana mati dipukul orang. Saya sempat mengira ini seekor anjing, maklum di otakku tercemar Batak kan suka anjing, tak tahu kalau ini kucing.
Lentingan suara Mariah Carey mendendangkan We belong together berbarengan dengan suara kucing tetangga mengeong sejenak, seakan kucing itu menerima tanda saya sedang membaca sajak tentang kematian kucing.
elegi claudie
di atas tanah
lembab
terlindung
beberapa rumput berduri
dia terbaring
bulu badannya
yang putih
dan pirang
tegak memanjang
dari leher
ke ujung punggungnya
kedua kaki depannya
agak terdorong ke muka
dan kaki belakangnya
keduanya tertekuk
seolah dia sedang mengamati sesuatu
kedua matanya
terbuka
terbelahak
dan mulutnya menganga
waktu kuangkat
ke pangkuanku
badannya
sudah dingin
sorenya
dokter bilang
nadi ke hatinya
pecah-
seseorang pasti memukulnya
besoknya aku
kubur dia
di atas bukit (di belakang rumah)
yang memandang ke lembah
wellington, juni 1990
Tipologi penulisan yang terpotong potong ke bawah menggambarkan betapa hati penyair ini membuat susunan kata-kata dengan terbata-bata seperti seorang anak kecil yang menangis dalam sedu sedannya bercerita ketika menjumpai hewan peliharaan mati dengan sangat mengenaskan, hancur hati, dia membuat begitu jelas intonasi kata pada baris tersendiri untuk “dia terbaring”, kemudian “seolah dia sedang mengamati sesuatu” dan terakhir penyebab kematian “pecah”. Penyair ini telah memberikan “tanda” intonasi kata apabila ada pembaca yang akan membacakan puisinya, sehingga puisi ini akan semakin hidup. Kadang pembaca sering menemukan kesulitan dalam membacakan puisi penyair. Apabila tidak terbiasa baca puisi, apalagi bagi seorang awam. Namun dalam puisi di atas ini, Saut juga memberikan semacam kemudahan dalam membaca karyanya terutama bagi orang awam untuk suatu ketika dibaca di depan publik.
Dalam babak Cinta ini, saya justru menemukan penggambaran romantisme masa pacaran penyair ini yang dibuat dalam bentuk puisi kurang begitu dalam dan kesannya kering di permukaan dan saya rasakan agak kasar, entahlah apa karena ada penggambaran hubungan yang terlalu gamblang dalam kata-kata atau mungkin saya sendiri sudah terhanyut berkubang sebelumnya dengan sajak-sajak dia dalam hubungan dengan kemanusiaan juga tentang kehidupan yang justru digambarkan dengan kelembutan hati penyair yang selalu ada dalam gambaran saya selama ini.
Ada banyak sajak yang dalam, sebagai contoh ”karena laut sungai lupa jalan pulang”, soal Gempa Yogja, “Santiago”, “penyair dan danau”, ”marilah kita mabuk”, “bocah pemancing ikan” dan sajak dia yang terkenal “saut kecil bicara dengan tuhan”.
Bahkan dalam kejadian gempa Yogja, dia masih sempat bermain nakal dalam imajinasi dengan puisi yang berjudul “aku ingin” kukutip sebagian , dengan lirih suara dentingan piano Christian Bautista dalam the way you look at me mengalun sendu ,
aku ingin bercinta denganmu
waktu gempa lewat
di kota kita
saat itu
pasti tak ada
keluh cemas , sinar mata ketakutan
atau gemetar kakimu
yang membuatku termangu
…………………………………………..
Ada beberapa puisinya yang menceritakan gempa ini, dan semuanya dia buat dengan pendalaman makna walau tersusun dari kata-kata yang sederhana. Bagi orang awam yang membacanya dapat ikut serta merasakan goncangan gempa itu dan sayatan pilu bagi korbannya. Bahkan saya sempat terjatuh dari kursi ternyata mor-bautnya copot.
Dalam imajinasi kemudian dituangkan melalui bait bait puisinya, saya menemukan beberapa puisi dengan gaya bagaikan kumparan membentuk sebuah gelas kaca, berputar-putar menggelembung. Beberapa puisinya seperti ini dalam gambaran saya ketika membacanya: ”insomania”,”sajak mabuk”, ”sajak musim salju”.
Saya kutipkan sajak “insomania”
hampir.tengah.malam.jalan.
jalan.kota.sudah.sepi.mobil
kadang.lewat.lewat.mengiris.dingin.malam.
di.kamar.sendiri.aku.mendengar.
……………………………………………
Perhatikan penulisan setiap kata yang diakhiri tanda titik, menggambarkan bagaimana kesulitan kita untuk tidur. Bagi penderita insomania akut, penggambaran kesulitan memejamkan mata terasa dalam kata-kata yang dia tulis dengan akhiran titik. Saya melihat seperti kelopak mata ini sejenak terpejam, sejenak lagi terbuka terus menerus seperti itulah kiranya tafsir saya terhadap apa yang ditulis penyair ini dengan setiap kata langsung diakhiri titik. Padahal kalau dibaca dengan membuang tanda baca “titik” tadi akan tersususn baris-baris kata puisi biasa pada umumnya, namun di sini penyair tidak hanya menyampaikan isi puisi itu namun dia juga menggambarkan penyampaian itu seperti pembaca ini mengalami juga penyakit “insomania” dengan kejelasan titik-titik dalam setiap kata yang tersusun itu. Luar biasa!
Di sini kemudian saya menemukan sisi lain dari Saut penyair garis keras ini (sebagian teman sastrawan menilai dia begitu), rocker garis cadas atau metal kali ya kalau pada aliran musik. Namun saya tak setuju seratus persen terhadap penilaian ini. Justru dalam syair syairnya itu banyak saya temui kelembutan seorang penyair yang sebenarnya, juga rasa tanggung jawab dia terhadap pembelajaran bagi pembacanya bagaimana dia menuntun pembaca untuk dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan, apa yang ingin dia ceritakan dengan segudang petualangannya selama ini mencari kehidupan dan membentuk kehidupan dia selanjutnya. Kata baginya tidak hanya sekedar rangkaian memilah milah, menggabung gabung, tapi bagaimana kata disusun dalam kontek tradisi juga pembacaan yang diatur dengan memberikan semacam tanda bagi pembaca yang mendalami puisi puisinya. Hal ini sangat jarang saya temui pada puisi-puisi penyair lain.
Saut yang gegap gempita dalam konsistensi pendapat dan pemikiran juga tercermin dalam babak ke dua yang berjudul POLITIK.
Sajak sajaknya pada babak ini luar biasa, penuh tenaga dan dorongan, kuat dalam penyampai ide dan kesederhanaan kata itu berhasil membuat beberapa teman kecil saya di SMA bisa memahami mengapa seorang penyair juga harus peka terhadap kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya, tidak hanya situasi kemanusiaan, namun juga merembet pada keadaaan Negara, perjuangan kantong-kantong perlawanan yang ada di masyarakat pada umumnya.
”Sajak mimpi untuk Widji Thukul”, ”marsinah”, ”dari berita di sebuah majalah”. Puisi terakhir ini sempat membuat mata hati saya meradang merah dan menggigil.
Saya kutipkan sebagian dengan ditemani lolongan Celien Dion dalam the power of love,
bocah perempuan itu pecah jantungnya
waktu dituduh mencuri perhiasan tetangga
airmatanya cuma minyak
memarakkan api di dada sang angkara murka
lalu seorang polisi membawa bocak kecil itu
ke kantornya. lalu polisi itu menendang
badan kecilnya ke dalam sel yang terlalu
besar buat rasa takut di matanya
dia tak pernah mencuri perhiasan siapa
siapa jawabnya waktu sebuah kepalan
tangan raksasa menghancurkan semua
keriangan kanak kanaknya
selamanya
lalu perempuan kecil itu direndam
bagai selembar sarung kotor di bak mandi
kantor polisi
lalu perempuan kecil itu dinikmati
jerit kesakitannya oleh dua polisi
yang duduk merokok di kursi yang memaku kuku kakinya
ke semen lantai!
Puisi ini cukup panjang, dan membuat saya tak mampu membaca habis, karena tanpa sadar airmata mengaburkan kata-kata itu dan lamat-lamat seperti terdengar suara penyiar dalam acara buser atau jejak pembunuh entah apalagi di televisi dalam acara yang biasanya mengulas pembunuhan yang sudah dikemas menjadi barang tontonan menarik dan acara ini telah menjadi semacam ”guide” bagi lahirnya pembunuh pembunuh selanjutnya di masyarakat. Ya, acara televisi yang paling saya benci dan kurcaci saya larang untuk menontonnya, takut dia akan menjadi pembunuh dalam dunia lain.
Kebobrokan moral, ketidak adilan dan tingkah laku masyarakat di sekeliling ini, memang tak luput dari goresan imajinasinya yang pilu dan dalam. ”sajak orang orang buangan”, ”surat bawah tanah”, ”catatan subversif tahun 1998”, juga puisinya tentang kejadian Mei 1998, ”aku adalah mayat” dan masih banyak lagi, yang begitu kuat menggambarkan situasi peristiwa yang berhubungan dengannya.
Ada satu puisi dalam babak ini yang begitu menyentuh judulnya “inilah aku”
inilah wajahku
yang kau siarkan di media massamu
tak perlu lagi kau memburuku
inilah tanganku
yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu
tak perlu lagi kau memburuku
inilah kakiku
yang kau katakan lari dari tanggungjawabku
tak perlu lagi kau memburuku
dan inilah dadaku
yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri
tembaklah dengan senapanmu
kalau kau berani melawan nuranimu!
Pada babak terakhir buku kumpulan ini RANTAU lebih banyak memuat puisi puisinya dalam bahasa Inggris, yang memperjelas kalau penyair ini merantaunya di negeri sono. Ada beberapa yang merupakan terjemahan puisi dia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris seperti “1966”, “totem”, “subversive notes 1998”, “a letter from the underground”, “imagine we were in Dili”. Judul yang terakhir ini, sebelumnya dalam bahasa Indonesia terdapat dalam babak POLITIK ini cukup menggelikan setelah membacanya. Saya kutipkan dengan keriangan Michael Learns dalam the actor dari jauh mengalun lembut,
seandainya kita di Dili imagine we were in Dili
“jangan tembak, pak! “don’t shoot, sir!
jangan tembak! please don’t shoot I’m an Indonesian!
saya ini orang Indonesia! look! here’s my ID card.
lihat KTP saya KTP Jakarta!!!” it was issued in Jakarta!!!”
“wah, tenane, lho sialan! “It’s true, shit!
ya sudah. Hayo sembunyi! okay, go and hide sana di Koramil. ourheadquarters. Hurry up!
kok wong Indonesia ada di jalan, hat the hell is an Indonesian doing out in the street,
pengen mati, ya! diancuk!!!” do you want to get shot dead, eh? hurry up!
bastard!”
15 september 1999
Saya baru tahu kalau pisuh pisuhan bahasa Suroboyoan itu dalam bahasa Inggris jadi “bastard”, tapi kayaknya lebih enak dalam bahasa aslinya deh! terasa nendang diintonasinya. Dan saya bisa lebih leluasa misuhi wong bule dengan aslinya, kalau diterjemahkan kurang makyus. Dan Saut dalam puisi tersebut berupaya melucu namun getir. Bahasa sulitnya parody satire, dalam perang yang kejam selalu ada kelucuan terselip.
Buku tebal bergambar narsis habis penyairnya ini diambil kala dia masih imut dan menggemaskan, apakah sudah gede begini masih menggemaskan? Tentunya hanya untuk seorang Katrin Bandel hal ini masih menggemaskan dan bagi lawannya yang suka dikritik, Saut pun masih menggemaskan (barangkali?), rasanya tak habis habis untuk digali dan diselami. Bagi saya yang belum bertatap muka dengannya, walau sudah sering kontak by sms dan membaca beberapa esainya yang ditulis cukup serius, setidaknya cukup memberikan gambaran seorang Saut Situmorang yang sebenarnya mempunyai sisi bertolak belakang dengan gaya lantang bicaranya apalagi bila dia menemukan ketidak adilan dalam perjalanan sastra Indonesia saat ini.
Di akhir buku ini ditutup dengan tiga puisinya yang berjudul “Blues for Allah 1” , “Blues for Allah 2”, dan “Blues for Allah 3”, puisi puisi ini sangat pendek, orang bilang walau dia pendek tapi padat berisi dan telak. Bahkan untuk puisi “Blues for Allah 3” tidak ada isinya, kosong melompong, dibiarkan pembacanya untuk bebas mau menulis apa.
Iringan lembut Whitney Houston dalam I will always love you mengantarku menyelami dua puisi terakhir ini.
Blues for Allah 1
the sky’s so blue the kids’re playing
then the sea rose and ate up everything -
tsunami
Blues for Allah 2
the lonely moon and
the silent night are what the
tsunami left behind
Blues for Allah 3
Penilaian saya akan puisi-puisi Saut yang mudah untuk dicerna pembaca awam ini, tidak terikat dengan metafora yang jelimet, namun centang perentang dalam penyampaian gagasan juga penilaian dan perlawanan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, membuat saya pribadi tak lelah menikmati puisi-puisinya. Walau ada beberapa puisi panjang dalam bait dan barisan kalimat, tetapi tidak memanjang satu kalimat oleh puluhan kata ini, sehingga bagi saya yang penggemar berat puisi yang tidak bertele-tele, terasa nyaman di mata dan di hati.
Puisi-puisinya mewakili karakter dia sebenarnya, di satu sisi lembut, lucu dan romantis kering, di sisi lain garang perlawanan dan lantang tergores. Jadi ingat cerita Vendetta dengan lambang “V”nya yang terkenal itu.
Langganan:
Postingan (Atom)