Sabtu, 19 Desember 2009

Dua Puluh Lima Desember


Tanpa terasa satu bilangan tahun lagi hampir kita lewati dan masukkan dalam gudang kenangan. Berbagai pergumulan dan sejumlah anugerah telah kita nikmati. Tahun yang baru telah siap menyambut kita dengan segala kerumitan dan kebahagiaan di dalamnya. Memasuki bulan Desember, segenap orang Kristen dan gereja sibuk mempersiapkan diri untuk memperingati hari Natal. Sejauh manakah kita mengenal akan tanggal yang selalu diperingati sebagai hari Natal itu?

Tahun Kelahiran Yesus

Kita dan penanggalan internasional setiap tahun selalu menempatkan hari Natal pada tanggal 25 bulan Desember, dan menceritakan kepada anak Sekolah Minggu kita itulah tanggal kelahiran Yesus. Sebagian orang (termasuk salah satu media massa yang terbit di Jakarta baru-baru ini), dengan pemikiran kalau dalam bahasa Inggris ada sebutan 'Before Christ (B.C.)' atau 'Sebelum Masehi (S.M.)' untuk menyebut tahun-tahun sebelum kelahiran Yesus dan 'Anno Domini (A.D.)' atau 'Masehi (M)' untuk tahun sesudahnya, maka mereka menganggap Yesus lahir tepat pada tahun 0 Masehi. Padahal sebenarnya tahun 0 Sebelum Masehi dan/atau tahun 0 Masehi itu tidak pernah ada. Jadi kalau begitu, tahun berapakah Yesus lahir? Sebagian orang yang lain berpegang bahwa tahun 4 Sebelum Masehi adalah tahun kelahiran Yesus. Mengapa bisa begitu? Bukankah digunakannya tahun 'Masehi' adalah untuk memisahkan tahun sebelum dan sesudah kelahiran Yesus?

Menurut catatan Flavius Josephus, seorang ahli sejarah yang hidup pada tahun 37-100 Masehi (jadi tidak terlalu jauh dari masa kehidupan Yesus), dapat diketahui bahwa Herodes yang disebutkan dalam Matius 2:1 ".... pada jaman Raja Herodes .." adalah Herodes Agung, yang hidup dari tahun 73-4 Sebelum Masehi. Raja Herodes inilah yang menyebabkan Yesus diungsikan ke Mesir. Baru setelah kematiannya, Yesus kembali dari pengungsian (lihat Matius 2:19-20). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa Yesus dilahirkan sekurang-kurangnya beberapa tahun atau bulan sebelum 4 S.M. Dan menurut dugaan yang lazim, kelahiran Yesus adalah antara tahun 8 dan tahun 5 s.M.


Benarkah Yesus Lahir Tahun 5 s.M.?

Pada jaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti 'sejak berdirinya kota'. Kemudian pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Justinian, seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru. Ia mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi, yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi di kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. Ia menempatkan kelahiran Yesus pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 atau 747 AUC. Kekeliruan ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sampai sekarang kita pun sudah terlanjur menggunakan tahun hasil perhitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus.


Lalu Bagaimana dengan Bulan Kelahiran-Nya?

Apabila kita melihat di peta, maka kita akan menemukan bahwa Israel terletak di sebelah utara garis khatulistiwa, hampir sejajar dengan Jepang, yang berarti bulan Desember adalah musim dingin. Bagaimana dengan catatan Injil yang menjelaskan tentang para gembala pada malam kelahiran Yesus dalam Lukas 2:8 "..gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam"? Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus pasti bukanlah pada bulan Desember.

Seseorang bernama Klemens dari Alexandria membuat perhitungan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon, yaitu tanggal 20 Mei. Tetapi itu pun bukan merupakan suatu kepastian.


Mengapa Kita Tidak Punya Tanggal Kelahiran Yesus yang Pasti?

Pada jaman itu, merayakan ulang tahun hanyalah kelaziman orang kafir. Satu-satunya ulang tahun yang kita baca di Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (lihat Matius 14:6). Dan gereja pada jaman itu tidak merayakan kelahiran Yesus melainkan kebangkitan-Nya. Baru sekitar abad ke-3, umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal. Tanggal yang digunakan adalah 6 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum.

Gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke-4, dan tanggal yang dipilih adalah 25 Desember. Pemilihan tanggal tersebut adalah untuk memberi isi yang baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Tidak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember itu pun ditiru oleh gereja-gereja di tempat lain. Dan hingga sekarang, Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember oleh hampir semua gereja.

Anak Sekolah Minggu yang kritis mungkin akan bertanya: Jika demikian kenapa kita tidak menghitung ulang atau mengikuti perhitungan Klemens, yaitu merayakan Natal pada tanggal 20 Mei saja?

Dengan segala kerendahhatian dan tidak ada maksud untuk menggurui, berikut adalah beberapa hal yang saya bisa bagikan dan barangkali bisa dijadikan contoh jawaban atas pertanyaan semacam itu: Perhitungan Klemens menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 20 Mei, namun itu pun belum pasti benar. Kenapa kita harus menggunakan tanggal yang kebenarannyapun masih diragukan?

Secara umum, sudah berlangsung selama berabad-abad, Natal dirayakan pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 25 Desember, kenapa kita harus menetapkan tanggal perayaan sendiri, yang lain daripada yang lain?

Kekeliruan perhitungan ini pastilah ada campur tangan dan atas ijin Allah, karena hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan orang untuk lebih mengutamakan atau lebih tepatnya mengkeramatkan tanggal tertentu lebih daripada yang lain; yang akhirnya justru akan melupakan bahwa rahmat, kasih dan anugerah-Nya selalu baru dan terlimpah setiap hari. Sebagai perbandingan kita dapat melihat bahwa peringatan akan Kematian Kristus atau Paskah, bukan ditentukan oleh tanggal tertentu tetapi oleh hari.

Atau perhitungan satu hari yang kita pakai sekarang, yaitu pagi-malam, yang berubah dari catatan perhitungan satu hari yang Allah berikan (lihat Kejadian 1:5, 8, 13, dst ". jadilah petang, jadilah pagi, itulah hari ..")

Bukankah kenyataannya selama ini juga sudah berlangsung, bahwa banyak gereja yang melaksanakan perayaan Natal tidak tepat pada tanggal 25 Desember?

Kesalahan tanggal dalam merayakan hari Natal, tidak akan berpengaruh terhadap iman kepercayaan dan keselamatan kita. Yang lebih utama dan terutama harus dipikirkan, ditekankan dan diajarkan dalam perayaan Natal adalah hadiah atau komitmen apa yang akan kita berikan sebagai persembahan kepada Kristus, pada saat kita memperingati hari kelahiran-Nya?

Jadi sekarang kreatifitas guru dan waktu (usia) yang tepat diperlukan untuk mengajarkan hal ini kepada anak-anak Sekolah Minggu, agar tidak membuat mereka justru menjadi bingung dan akhirnya kehilangan arti/makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Kristus ke dunia ini.

[Diambil dari berbagai sumber] (Robby Indarjono)

--------------------------------------------------------------- From: Agus

Pada dasarnya adalah benar, terjadi kekeliruan estimasi kelahiran Yesus dalam penetapan tahun masehi. Tapi penetapan tahun masehi sendiri sebenarnya tidak dibutuhkan hanya saja dilakukan.

Mengenai natal dirayakan tanggal 25 Desember. Sebenarnya kita tidak merayakan "tanggal kelahiran Yesus" atau "ulang tahun Yesus." Yang kita rayakan adalah bahwa dalam kalender liturgi, dalam satu tahun perayaan Gereja, kita menempatkan satu hari khusus untuk refleksi dan memperingati peristiwa inkarnasi.

Kedua, peristiwa-peristiwa liturgis tidak mengimplikasikan ulang tahun atau peringatan sebagaimana dikonsepsi secara sekular. Misalnya saja, walau setiap tahun kita merayakan paskah, tapi setiap hari minggu dan ekaristi pun kita merayakan paskah kembali dan kembali lagi. Suatu anamnesis, seperti kita selalu aklamasikan pada saat doa syukur agung "Kristus sudah wafat, Kristus sudah bangkit, Kristus akan kembali."

Satu hal yang perlu dijelaskan adalah istilah "Anamnesis" ini. Kita tidak punya padanan kata yang tepat untuk ini. Anamnesis, berarti mengingat kembali tapi bukan hanya suatu peringatan abstrak dalam awang2. Suatu anamnesis menghadirkan kembali peristiwa tersebut secara aktual, atau sebaliknya, kita dibawa kembali ke dalam peristiwa tersebut sehingga menjadi partisipan nyata peristiwa historis tersebut. Dan ketika Yesus berkata pada saat perjamuan terakhir ketika Ia menyuruh para rasul untuk merayakan peringatan perjamuan tersebut, Ia menggunakan kata "anamnesis" untuk peristiwa maha-penting ini. Kitab Septuaginta juga menggunakan kata anamnesis menyangkut peringatan akan perjanjian-perjanjian yang diikat Allah dengan Israel.

Ketiga, Natal dirayakan di berbagai tempat pada tanggal yang berbeda. Pada awalnya Gereja hanya memperingati Epifani, perayaan penampakan Tuhan. Tiga peristiwa utama in one: 1) kelahiran Yesus, 2) kedatangan para majus, masa kanak-kanak Yesus dan berpuncak pada 3) baptisan Yesus, pada tanggal 6 Januari.

Kemudian Gereja di Barat mulai memisahkan pesta kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, mungkin sebagai counter terhadap budaya pagan. Natal lebih sebagai awal dari masa Natal yang berpuncak pada Epifani. Pentingnya Natal digarisbawahi baru pada masa reformasi Protestan, ketika mereka awalnya menolak Natal dengan peyorasi sebagai bentuk keterikatan kepada Paus. Gereja Katolik melawan dengan memberikan penekanan religius kepada Natal.

Sekarang ini, Epifani di Gereja Barat malah hidup dibawah bayang-bayang Natal, suatu hal yang amat disayangkan dan menciptakan kekeliruan mengenai Natal sebagai hari kelahiran Yesus dalam arti "ulang tahun", tanpa referensi kepada Epifani.

Gereja Ortodoks, Oriental dan Katolik Timur, umumnya tidak merayakan Natal secara tersendiri tapi masih menggabungkan perayaan kelahiran Yesus dalam Epifani.

BEBAN BERAT DI SAAT NATAL

Bacaan: Lukas 4:14-21

Dalam perjalanan menuju Museum Seni Metropolitan di New York pada bulan Desember, saya berhenti sejenak untuk mengagumi pohon Natal yang menakjubkan. Pohon itu dihiasi boneka malaikat dan dasarnya dikelilingi oleh patung-patung dari abad ke-18 yang menggambarkan kelahiran Kristus. Jumlahnya hampir 200 patung. Di antaranya terdapat para gembala, orang majus, dan penduduk kota. Mereka memandangi palungan dengan penuh harap atau menatap para malaikat dengan takjub.

Namun, ada satu patung yang tampak berbeda dari yang lainnya, yaitu patung pria tanpa alas kaki, yang membawa beban berat di punggungnya dan menundukkan kepala. Hati saya tersentak. Pria ini seperti kebanyakan orang saat ini, yang sangat berbeban berat sehingga tidak dapat melihat Sang Mesias.

Natal dapat menjadi saat yang tidak menyenangkan bagi mereka yang menderita karena beban kerja yang berat, ketegangan dalam keluarga, dan kehilangan. Namun, patut diingat bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk mengangkat kepala orang yang tertunduk karena beban berat. Yesus mengutip perkataan Yesaya untuk memberitahukan misi yang diberikan Allah kepada-Nya bagi dunia: "Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; ... untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas." (Lukas 4:18,19)
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Yesus datang untuk mengangkat beban kita sehingga kita dapat mengangkat kepala kita untuk menyambut-Nya saat Natal tiba.

Malam Saat Lonceng Berdentang

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Amsal 16:16

Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya.

Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu.

Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu.

Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka.

Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri."
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

"Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya."

"Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembahNya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku."

Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya.

Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal.

Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. "Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara.

Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar.

Jejak 28

Waktu yang kami miliki di Betlehem ini cukup panjang, karena jiarah di tempat ini adalah acara terkahir hari ini. Saya perhatikan tidak banyak jumlahnya orang yang berjiarah di tempat ini. Setelah kami melihat-lihat Gereja besar yang kosong, karena tidak ada kursi, kami lalu menuju ke tempat suci di Betlehem. Masuk ke dalam kadang gua inilah yang akan kami lakukan. Namun ternyata kami harus menunggu antrian panjang. Ternyata dugaan saya salah. Di tempat ini kami akan mengadakan ekaristi. Maka ketika melihat antrian panjang itu, suster menyeret saya untuk ambil jalan pintas dengan menerobos mereka yang sedang antri dan langsung menuju ke Gereja yang akan digunakan untuk perayaan ekaristi. Dengan menerobos begitu banyak orang akhirnya saya sampai ke tempat di mana Jesus pernah dibaringkan di palungan. Saya tidak sadar betul waktu itu. Dan saya tidak tahu di mana saya berada. Yang saya tahu bahwa tempat itu ada dibagian agak bawah, banyak hiasan kuno dan berbahu wangi. Saya baru sadar dan mengetahui bahwa itu palungan tempat Jesus dibaringkan ketika saya mendengar suster berteriak" Father, please kiss that Star of David, you will be blessed". Langsung saya berlutut dan mencium "Star of David', yang juga disebut 'the silver star'.

Berkali-kali saya melihat gambar 'the silver star' ini sebelum saya pergi ke sini. Dan sekarang ini saya berada di sini bahkan diperkenankan menciumnya. Saya tidak bisa mengepresikan perasaan saya waktu itu, yang jelas ada perasaan damai di hati yang luar biasa. Antara haru dan kagum, syukur dan terima kasih, antara percaya dan tidak percaya bahwa kaki saya berada di tempat di mana dulu menjadi tempat kambing, domba dan sapi berbaring. Namun menjadi suci karena kelahiran bayi miskin di palungannya. Sebenarnya saya ingin beromantis ria dengan suasana natal di tempat ini. Tetapi hal itu tidak memungkinkan saya lakukan, karena saya dikejar waktu untuk bersiap diri merayakan ekaristi.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Betlehem tidak dikelola khusus oleh Gereja Katolik. Beberapa Gereja dominasi mempunyai Gerejanya di sini. Demikian pula dengan Gereja katolik, mereka mempunyai satu gereja indah disamping 'groto the silver star'. Gereja itu cukup besar dan megah. Saya pikir di tempat ini saya akan merayakan ekaristi. Tetapi ternyata tidak, rombongan kami di bawa masuk ke lorong sempit dan menuju ke suatu kapel kecil yang sempit dan pengap. Cat temboknya pun sudah mulai luntur dan keropos. Kursinya sangat sederhana, malah sudah agak kuno. Spontan ada perasaa kecewa di hati, mengapa kok kita diberi tempat yang seperti ini, gerutu hati kecil saya. Kapelsempit itu diberi namanya St. Helena. Masih menggunakan gaya pra Vatikan II, dengan altar membelakangi umat. Di kapel yang sederhana ini kami akan merayakan ekaristi. Sebelum kami mulai perayaan ekaristi sore hari, suster mengajak umat untuk mempersiapkan diri. Terutama mempersiapkan lagu-lagu yang akan mengiringi perayaan ekaristi. Aneh..tetapi nyata, walaupun pada masa itu masa biasa setelah Paska, namun lagu-lagu yang kami gunakan adalah lagu-lagu natal. Terasa agak asing, namun ini di Betlehem, tempat di mana Jesus lahir. Setelah persiapan lagu-lagu yang juga diiringi guitar oleh suster ini selesai, suster masih menggunakan waktu untuk memberikan kata pengantar. Dalam kata pengantarnya itu suster mengatakan bahwa Natal adalah perayaan keluarga. Natal adalah saat di mana Allah datang dan menjadi anggota keluarga dunia. Dalam perayaan ini, intensi pokok kita adalah membawa semua keluarga kita dan mempersembahkan kepada Jesus di palungan.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Ketika suster selesai menyampaikan kata pengantarnya ini, bergetar hati saya dan terasa ada sesuatu yang mengingatkan saya. Kekecewaan hati saya mengapa tidak diberi kesempatan merayakan ekaristi di gereja besar hilang seketika. Malah saya merasa bersyukur. Di tempat yang sederhana ini saya justru dibantu untuk menghayati arti Natal yang sebenarnya. Saya menyadari bahwa perayaan Natal jaman sekarang ini sudah berubah arti, bahkan sudah tidak bisa dikatakan perayaan Natal. Natal sudah menjadi ajang liburan dan bisnis. Jesus Kristus yang lahir, sudah diganti namanya menjadi "Xmas". Ada kegembiraan dan damai tersediri setelah saya mampu menerima kenyataan ini sebagai rahmat. Maka perayaan ekaristi dikapel sederhana ini akhirnya menjadi istimewa.

Injil Menurut Toko Serba Ada (The Gospel According to the Dept. Store)

Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal. Semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah Dept. Store di Amerika Serikat.

Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan indah.

Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu Bau badan menyengat hidung. Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan wanita. Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya Padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Di tengah Dept. Store itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlapan itu. Tetapi sang 'bag lady" jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.

Rupanya pengemis itu mencari sesuatu dibagian Gaun Wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek (branded items) dengan harga diatas $ 2500 per piece. Kalau dikonversi dengan kurs hari-hari ini, harganya dalam rupiah sekitar Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah ! Apa yang dikerjakan pengemis ini? Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda ?" "Saya ingin mencoba gaun merah muda itu ?" Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda ? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu. Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu. "Berapa ukuran yang anda perlukan ?" "Tidak tahu !" "Baiklah, mari saya ukur dulu." Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya."OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya ! Cobalah yangini !" Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas. "Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain? "Oh, tentu !" Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.

Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu. Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya. "Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini ?" "Oh, memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to be kind !) "Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?" "Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik." Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada hari Minggu berikutnya dengan thema "Injil Menurut Toko Serba Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu.

Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini. Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 % !

"Peliharalah kasih persaudaraan ! Jangan kamu lupa memberi kebaikan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Ibrani 13:1-2.